Jiwoo menopang dagu dengan kedua tangannya dan menatap suaminya yang sedang asik memakan es krim stroberi.
"Yeobo, enak?" tanya Jiwoo terkekeh.
"Enak" Mujin mengangguk lalu makan dengan lahap sebuket besar es krim seperti bocah.
"Morning sick dan sekarang kau juga mengidam" Jiwoo menggeleng lalu berdecak.
Mujin menyuapi Jiwoo es krim tersebut dan tersenyum bak anak kecil.
"Apa kau percaya seorang mafia dan pemilik hotel Liber sedang makan es krim rasa stroberi dan tersenyum seperti anak kecil ingusan?" Jiwoo mengusap sisa lelahan es krim di ujung bibir suaminya.
"Gwaenchana, tidak ada yang tau" Mujin tersenyum lebar memperlihat deretan giginya.
"Sudah cukup, nanti kau akan sakit perut" Jiwoo merebut buket es krim yang tersisa setengah dari tangan Mujin dan memasukkannya ke kulkas.
...
Mujin sedang gym di ruangan pribadi nya di Liber. Akhir-akhir ini ia menambahkan waktu untuk berolahraga karena fisiknya lebih terkuras. Entah itu menggendong istrinya seharian, bercinta ataupun bekerja. Sepertinya Mujin akan kelelahan di trimester pertama kehamilan istrinya.
"Sajangnim.." Taeju memberikan air minum ke bos nya.
Mujin menekan tombol di treadmill nya dan menyeka keringat di pelipis dan lehernya.
Rambut yang jatuh ke dahi setengah basah dan kaos putih ketat tanpa lengan yang basah oleh keringat mencetak jelas tubuhnya yang atletis.
Taeju bahkan kagum dengan tubuh pria yang sudah ia anggap sebagai hyung nya itu.Dengan nafas tersengal Mujin berjalan beriringan dengan Taeju keluar dari ruangan gym nya. Saat hendak menuju lift, tiba-tiba seorang perempuan berparas cantik tanpa sengaja menabrak tubuh Mujin dan terjatuh.
"Aww!" wanita itu meringis.
"Maaf, anda tidak apa-apa?" Mujin menunduk ke bawah melihat wanita itu tanpa membantunya dan mengkode Taeju untuk melakukannya.
Taeju membantu wanita itu untuk berdiri dan meminta maaf."Kau yang salah seharusnya kau yang membantu ku!" omel wanita itu, ia sedikit terkejut melihat baju setengah basah Mujin dengan tubuh atasnya yang terlihat menggoda baginya.
"Bagaimana kau bisa masuk kesini?" tanya Mujin dengan suara dingin nan datar, tatapan tajam Mujin malah membuat wanita itu seolah-olah akan meleleh.
"Oh, maaf. Aku tadi tersesat" jawab wanita itu menatap wajah Mujin dan terpesona oleh ketampanan pria didepannya.
Rambut basah oleh keringat, kaos basah di bagian dada bidang Mujin, memiliki rahang tegas, hidung mancung, tubuh berotot, wajah yang sempurna, tubuh tinggi tegap mampu membuat wanita itu terdiam menikmati pemandangan indah itu.
Mujin menggerakkan kepalanya ke Taeju, mengisyaratkan untuk mengantar wanita itu keluar dari wilayah pribadinya. Ia berjalan sendiri menuju penthousenya.
Taeju mengantarkan wanita itu sampai lobby, namun tangannya dicekal.
"Ini kartu namaku, tolong berikan pada pria tampan tadi, aku bahkan belum sempat berkenalan" ucap wanita itu sembari mengulurkan kartu namanya.
"Kau pasti asisten pria tadi kan? Aku bisa merasakannya dari aura kepemimpinan hanya dari wajahnya saja. Jika bisa aku ingin makan malam dengannya, dia pasti tamu VVIP melihat dari dia mempunyai ruangan gym sendiri" ucap wanita itu.
Taeju hanya menatap wanita itu dengan datar, dan mendorong sopan tangan wanita itu.
"Maaf, saya tidak sembarangan menerima kartu nama tanpa izin dari bos saya" balas Taeju sedikit menunduk dan berjalan meninggalkan wanita itu dengan mulut menganga.

KAMU SEDANG MEMBACA
Love Struck 2 : Painful
RomansSilahkan baca Love Struck dulu ya, ini Sequel nya 💜