XIX

328 40 46
                                    

Mujin terus mengernyitkan keningnya, bola matanya berputar dengan kelopak mata yang masih tertutup, ia menggoyangkan kepala ke kiri ke kanan dengan pelipis dan lehernya yang bercucuran keringat. Mujin terbangun membuka matanya dengan dada naik turun bernafas dengan terengah.

"Gwaenchana?" tanya Jiwoo dengan nada khawatir yang duduk disamping Mujin berniat membangunkan Mujin untuk sarapan karena ia tidur seharian dari semalam.

Mujin menoleh ke Jiwoo dan dengan refleks memeluknya erat, membenamkan wajahnya ke bahu Jiwoo, Mujin merasa sangat amat nyaman dan tenang saat ini. Sungguh mimpi buruk yang menyakitkan.

Jiwoo menebak Mujin pasti bermimpi buruk. Ia berusaha menggerakkan lengannya dengan tangannya ia mengusap punggung Mujin menenangkan pria itu. Inilah pertama kalinya mereka berpelukan setelah sekian lama setahun lebih lamanya.

Cukup lama mereka berpelukan. Setelah beberapa saat Mujin melepaskan pelukannya dan menatap Jiwoo dengan mata sayu sebaliknya Jiwoo menatap dengan mata yang masih merasa bersalah.

"Apa kau bermimpi buruk?" tanya Jiwoo pelan.

Mujin mengangguk pelan.

"Mimpi yang sangat buruk" balas Mujin dengan suara beratnya dan masih menatap mata Jiwoo dalam-dalam.

Hatinya selalu merasa sesak dan sakit namun merasa tenang pula setiap melihat Jiwoo. Seperti perkataan Taeju, ia pasti sangat mencintai wanita yang ada didepan matanya sekarang walaupun memang ia tidak mengingatnya. Ia bahkan seperti sudah mempunyai kontak batin dengan Jiwoo. Bahkan hanya melihat Jiwoo saja ia sudah sangat menyayangi dan mencintainya.

"Aku sudah menyiapkan sarapan, aku akan menunggumu" ucap Jiwoo yang ingin membelai rambut Mujin dengan lengannya yang terangkat namun ia mengurungkan niatnya mengingat Mujin masih belum mengingatnya.

Jiwoo hanya bisa menatap Mujin dan tersenyum tipis dengan mata yang berkaca-kaca. Dengan cepat Jiwoo memalingkan wajahnya dan berniat bangkit dari kasur. Jika tidak airmatanya pasti akan kembali membanjiri wajahnya.

Mujin mencengkram lengan lembut Jiwoo membuat wanita itu menoleh.

"Mimpiku terasa sangat nyata seolah-olah aku pernah mengalaminya, apakah kau pernah kecelakaan dan aku melihatnya secara langsung?" tanya Mujin penasaran.

Sebenarnya itu bukanlah seperti mimpi namun Mujin yang terus berusaha ingin mengingatnya. Membuatnya terlihat seperti mimpi yang nyata.

Jiwoo mengingat kembali kecelakaan yang menyebabkan hubungan mereka seperti ini. Hari yang sangat ingin ia lupakan, hari ia kecelakaan saat ia tengah hamil tua dan kehilangan anak mereka.

Mujin sedikit mengeratkan pegangan lengannya pada Jiwoo berharap jawaban yang sedari tadi ia tunggu.

"Mimpimu ada benarnya" jawab Jiwoo singkat menunduk.

"Setahun yang lalu, aku pernah kecelakaan saat hamil dan karena itu aku kehilangan anak kita dan karena itu juga aku meninggalkanmu" sambung Jiwoo menitikkan airmatanya.

Mujin menelan liurnya dengan susah payah, suaranya terasa tercekat dikerongkongannya. Perasaan bersalah karena tidak mengingat apapun sangat menggerogoti hatinya.

Ia berdiri dan memeluk Jiwoo, membiarkan istrinya menangis dipelukannya mengingat kejadian yang paling merenggut separuh jiwa mereka berdua.
Mujin terus merutuki dirinya yang bahkan tidak ingat apapun.

Jiwoo semakin mengeratkan pelukannya. Mujin menyadari kecelakaan itu pasti masih sangat membekas dihati istrinya.

Beberapa saat Jiwoo melepaskan pelukan itu dan Mujin menyeka lembut pipi Jiwoo dengan jempolnya yang besar, namun airmata itu terus mengalir tanpa henti.

Love Struck 2 : PainfulTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang