Setelah selesai makan. Langit sore menjelang malam dengan angin sejuk pegunungan. Mujin menggandeng Jiwoo berjalan di sekitar halaman hotel dan duduk di rerumputan hijau sambil memandang ke danau yang terlihat tenang.
"Yeobo, aku merasa seperti istri yang lemah untukmu, lihatlah apa yang sudah kita lalui selama 2 tahun ini" ucap Jiwoo tiba-tiba.
"Kau wanita yang kuat sayang, kau lupa? Kau pernah melindungiku saat tertembak, kau juga melindungiku saat mantan kekasihmu mengancamku, aku lebih menyukai istriku yang tidak terlalu kuat, membuatku merasa aku bisa melindungi wanita yang kucintai" Mujin merangkul Jiwoo.
"Kau sudah diposisi yang pas tidak terlalu lemah dan tidak terlalu kuat, oh iya 1 hal lagi, kau juga kuat karena mengandung anak kita, tidak ada yang lebih kuat darimu sayang. Jangan pernah merasa lemah, mengerti?" Mujin mengecup puncak kepala istrinya.
"Gomawo yeobo.." Jiwoo terkekeh.
"Wae? Kenapa tertawa?" Mujin menaikkan satu alisnya.
"Tidak, aku hanya berpikir bagaimana jika bukan aku yang menjadi istrimu, wanita lain itu pasti sangat bahagia mempunyai suami sepertimu" Jiwoo menatap Mujin.
"Hm.. sejujurnya aku tidak pernah berpikir akan jatuh cinta atau berhubungan tentang cinta. Aku hanya memiliki tujuan memperluas koneksiku, hotelku dan usahaku"
"Kau tau kenapa aku memilihmu?"
"Kenapa?" tanya Jiwoo dengan suara manja.
"Aku juga merasa aneh kenapa aku tidak bisa menyukai wanita lain sampai aku bertemu denganmu, seperti hati yang kosong tiba-tiba terisi saat melihatmu, aku memutuskan untuk memperjuangkan apa yang bisa membuat jantungku berdebar, bahagia, sakit, sedih asal wanita itu adalah dirimu dan akhirnya aku mengerti itu adalah cinta"
"Aku tidak bisa membayangkan jika seandainya waktu itu aku tidak terluka dan kau tidak menyelamatkanku, lalu kau kembali ke seoul dan menjadi kekasih Jo Jinwoong kembali" sambung Mujin.
"Kau benar, jika waktu itu aku tidak menolongmu dan kembali menjadi kekasih Jinwoong, apakah kita akan tetap bertemu?" Jiwoo terkekeh.
"Aku yakin kita pasti akan bertemu, karena kau memang ditakdirkan untukku. Mungkin Tuhan ingin mengubah hidupku?" Mujin tersenyum tipis.
"Aku benar-benar bahagia karena bertemu denganmu dan Choi Mujin adalah suamiku, aku selalu bersyukur" Jiwoo mengecup pipi Mujin.
"Aku juga sangat bersyukur kau adalah istriku. Sungguh, aku tidak pernah berpikir akan menikah dan mempunyai keluarga sendiri, aku pikir aku akan sendirian sampai tua" Mujin tertawa.
"Tua?" Jiwoo tersenyum penuh arti.
"Seandainya aku tidak keguguran, mungkin anak kita sudah berumur 1 tahun" mata Jiwoo berkaca-kaca.
"Sayang, sebaiknya kita tidak membahas hal itu, kita kesini untuk jalan-jalan dan bersenang-senang. Kita hanya perlu memikirkan anak kita yang sekarang" Mujin mengelus perut Jiwoo.
"Benar, maaf.. aku tiba-tiba kepikiran"
"Gwaenchana, aku akan menjaga anak kita sekarang, dia akan baik-baik saja sampai dia lahir" Mujin menunduk dan mengecup perut ramping Jiwoo.
Jiwoo mengusap rambut suaminya dengan kasih sayang. Ia merengkuh wajah Mujin dan mengecup bibirnya.
"Aku mencintaimu, suamiku" Jiwoo tersenyum manis.
"Aku juga sangat mencintaimu.." Mujin memeluk Jiwoo.
"Danau itu sangat indah, aku ingin lihat lebih dekat" Jiwoo berdiri dan berjalan ke arah pemandangan danau.

KAMU SEDANG MEMBACA
Love Struck 2 : Painful
रोमांसSilahkan baca Love Struck dulu ya, ini Sequel nya 💜