3 bulan kemudian.
Malam ini Mujin dan Taeju sampai di Seoul, mereka baru saja pulang dari Busan. Beberapa bulan ini Mujin fokus pada produksi cabang Busan yang akan memproduksi lebih banyak dari biasanya karena semakin banyaknya pesanan dari Jepang.
"Taeju-ya.. antarkan aku ke Namsan Tower" ucap Mujin yang baru terbangun selama perjalanannya.
"Nde sajangnim" balas Taeju.
"Apa masih belum ada kabar keberadaan Jiwoo?" tanya Mujin.
"Ah.. geuge sajangnim.. sepertinya Nyonya Jiwoo pergi ke luar negri" ucap Taeju melirik ekspresi Mujin dari kaca spion. Namun Mujin kembali memejamkan matanya dan menghela nafas berat.
Mujin berjalan di Namsam Tower yang dikelilingi gembok-gembok pasangan seperti yang ia dan Jiwoo pernah datangi. Ia berjalan menyusuri sembari mencari gembok yang ia dan Jiwoo pasang disana.
Mujin menemukannya, ia mengusap pelan gembok yang bertuliskan namanya dan Jiwoo, dadanya kembali terasa sesak, ia tersenyum tipis namun matanya mulai berkaca-kaca. Angin malam yang dingin terasa menusuk sampai ke jantungnya.
"Kenapa kau pergi sangat jauh Jiwoo-ya.. apa aku sangat menyusahkanmu? Apa sebegitu inginnya kau pergi dariku? Tak bisakah kau kembali? Aku hampir tidak bisa bertahan lagi, kakiku terasa sudah sampai diujung jurang" batin Mujin.
Mujin menangis dengan airmatanya sangat deras.
Setelah beberapa saat ia mengatur nafasnya, Ia berjalan ke tepi tower dengan pemandangan lampu-lampu kota Seoul yang nampak kecil dari atas Namsan Tower membuatnya menghela nafas panjang."Jiwoo-ya kembalilah sebelum aku benar-benar kehilangan arah dan tujuan hidupku.." batin Mujin dengan ingatannya tentang Jiwoo yang sekarang berputar diotaknya.
Taeju membuka pintu untuk Mujin untuk mengantarnya pulang, jika dilihat lebih dekat, mata Mujin sedikit bengkak dan sembab.
Ia khawatir dan merasa bersalah dengan keadaan bos nya.Mujin sampai di penthouse, ia berjalan ke kamar dan melempar tubuhnya ke kasur, fisiknya tidaklah lelah hanya hatinya sangat lelah. Mujin merogoh ponselnya dari saku jas nya lalu mengubah tubuhnya menghadap menyamping.
Ia menopang kepalanya dengan lengannya, ia lalu membuka kunci ponselnya dan tersenyum kecil melihat wallpaper layar itu berisi fotonya dan Jiwoo yang ia ambil saat musim gugur lalu, saat ia mencium pipi istrinya. Mujin tertidur dengan ponsel yang masih ia genggam ditangannya.
6 bulan kemudian.
Hari ini adalah jadwal dikirimnya obat terlarang yang diproduksi Mujin dicabang Busan. Mujin dan Taeju sedang memantau semuanya, mereka berjalan menyusuri kapal besar itu.
Mujin mengangguk ke Taeju, dan menyuruh awak kapalnya dan lainnya untuk berangkat ke Jepang dengan jalur perairan itu.
Dor!
Satu tembakan dilepaskan ke udara, polisi menyergap kapal itu karena mengetahui Mujin yang memproduksi obat terlarang itu dengan skala besar-besaran. Polisi sudah terus memantau Mujin dari beberapa bulan yang lalu.Mujin dan Taeju berusaha pergi dari kapal dan anak buah lainnya segera menghadang polisi yang datang dari segala arah.
Taeju berjalan didepan Mujin untuk memimpin jalan keluar dan jikalau ada yang menyerang bos nya dari depan.Salah satu polisi yang melihat mereka berdua kabur, ia mengejar Mujin dan Taeju. Saat Mujin menoleh ke belakang ia melihat polisi itu sudah membidiknya, bersiap menembakkan timah panas itu ke tubuhnya.
Entah perasaan apa yang merasuki pikirannya, Mujin hanya berdiri terpaku dan pasrah saat polisi itu berhasil menembakkan 2 peluru itu ke bahu kiri dan perut nya.
Dor! Dor !
Taeju terkejut saat mendengar letusan pistol itu dan terlebih melihat Mujin yang tidak menghindari tembakan itu.
Tubuh besarnya seketika tumbang cukup keras ke lantai, pendengarannya terasa berdengung ditelinga. Nafas terengah yang keluar dari mulutnya dengan susah payah, dadanya terasa sesak dan jantungnya yang terasa sangat nyeri. Ia menatap langit biru itu dengan kedipan mata yang lemah dan sendu.
Memori ingatan Mujin berbalik ke pada saat ia bersama Jiwoo, saat bahagia, saat mereka menikah, saat Jiwoo mengucapkan ia sangat mencintai Mujin, semua kenangan indah bersama Jiwoo memenuhi pikirannya. Airmatanya mengalir deras.
"Untuk apa aku menghindari tembakan ini? bahkan rasanya tidak sesakit hatiku. Apa arti hidupku lagi? Orang yang kucintai dengan sepenuh hati sudah meninggalkanku, aku.. kehilangan segalanya. Tidak ada lagi dirinya yang ingin kulindungi, tidak ada lagi dirinya yang selalu menunggu ku dengan khawatir, tidak ada lagi dirinya yang tersenyum hangat menantikanku pulang, tidak ada lagi... semuanya terasa hampa, aku tau sekeras apapun aku berusaha menahan semua ini, pada akhirnya aku tetap akan kalah dengan rasa sakit yang setiap saat menusuk tanpa henti di hati dan seluruh tubuhku.
Walaupun aku berharap ini semua hanya mimpi panjang yang terasa nyata. Saat aku bangun dan membuka mataku aku berharap aku dapat melihat wajahnya lagi. Tapi jika aku tidak bisa melihatnya lagi.. aku... memilih untuk tidak ingin bangun lagi...Jiwoo-ya.. saranghae" Batin Mujin dalam hatinya.Mujin memejamkan matanya saat Taeju berlari panik menghampirinya dan berteriak memanggilnya. Suara Taeju yang terdengar sayup-sayup itu hanya tergiang sebentar.
Andwaeeeee Mujin-aa 😭😭
Mau nambah lagi gak nyeseknya? 😭😭😭Beneran pensiun ini aelah 🥲🥲
Begimana ceritanya jadi sedih begini 😖

KAMU SEDANG MEMBACA
Love Struck 2 : Painful
RomanceSilahkan baca Love Struck dulu ya, ini Sequel nya 💜