Dering ponsel membangunkan Mujin, dengan mata setengah terpejam ia meraih ponselnya yang di nakas. Ternyata bukan ponselnya yang berdering melainkan ponsel Jiwoo.
Mujin berniat bergeser untuk mengambil ponsel Jiwoo dan tepat pada saat itu Jiwoo keluar dari kamar mandi dengan memakai kaos longgar dan hotpants dengan rambut setengah basah. Ia mengambil ponselnya yang masih berdering dan tersenyum pada Mujin lalu keluar dari kamar.
Setelah beberapa lama Mujin keluar dari kamar dengan setelan rapi nya. Mujin menghampiri Jiwoo dan mendaratkan kecupan manis di kening dan pipi nya. Jiwoo membawakan piring berisi sandwich dan secangkir kopi panas untuk Mujin.
"Siapa tadi yang menelepon hm?" tanya Mujin menyesap kopi.
"Ah.. itu temanku, yeobo.." Jiwoo berjalan kearah Mujin dan duduk dipangkuannya.
"Hm.. wanita atau pria?" tanya Mujin datar sebelah tangannya memegang pinggang Jiwoo yang berada dipangkuannya.
"Tentu saja wanita, yeobo..." ucap Jiwoo ragu-ragu sembari menggigit bibir bawahnya.
"Hmm?" balas Mujin.
"Yeobo..besok malam, aku boleh makan malam reuni dengan teman-temanku?" tanya Jiwoo bergelayut manja di pangkuan Mujin seperti anak yang minta dibelikan mainan oleh ayahnya.
"Siapa temanmu? Aku juga harus tau bukan? Apa ada pria disana? Makan malam dimana?" tanya Mujin beruntun menatap Jiwoo penuh selidik.
"Aku tidak tau, mungkin ada beberapa, tapi aku hanya akan duduk bersama teman wanita, boleh ya sayang? aku sudah lama tidak bertemu temanku, huh?" Jiwoo mengecup pipi Mujin.
"Andwae" jawab Mujin datar sambil memainkan ponselnya.
"Yeobo...." Jiwoo membenamkan wajahnya di ceruk leher Mujin.
"Jiwoo-ya.. andwae, aku tidak suka ada pria" Mujin berdehem.
"Ayolah.. sekali ini saja, hm? hm?" Jiwoo menggoyangkan lengannya yang melingkar di leher Mujin sambil memasang wajah memelas.
"Tidak boleh sayang, aku tidak mengizinkan" Mujin mencubit gemas pipi Jiwoo.
"Yeobo.. kali ini saja, ku mohon.. hanya makan malam dan mengobrol saja" Jiwoo masih berusaha untuk merayu.
"Aku harus pergi yeobo.." Mujin menurunkan Jiwoo dari pangkuannya, ia memakai jas nya. Tak lupa mengecup kening dan bibir Jiwoo sebelum pergi.
Jiwoo hanya bisa memasang wajah merengut. Mujin terkekeh melihat istrinya merajuk. Ia melangkah keluar dari penthouse. Entah sejak kapan Mujin kembali menjadi posesif seperti ini. Sepertinya memang sudah dari dulu dan kali ini sifatnya itu muncul lagi.
...
Mujin pulang ke penthouse pukul 9 malam. Jiwoo yang sedang menonton tv, ia menyambut Mujin dengan senyuman cerah membuat Mujin mengernyitkan dahi. Tanpa basa-basi Jiwoo langsung melompat ke pelukan Mujin, melingkarkan lengannya di leher Mujin, dengan sigap Mujin menangkap kedua kaki Jiwoo yang mengapit di pinggangnya.
"Yeobo...bogosipeo.." ucap Jiwoo dengan manja, menyandarkan pipinya di bahu Mujin dan memainkan dasi Mujin.
"Wae?" Mujin membelai rambut Jiwoo dengan kasih sayang. Ia memang sangat menyukai Jiwoo yang selalu bermanja-manja padanya seperti sekarang. Lihatlah bagaimana istrinya ini seperti koala yang menggantung ditubuhnya. Sepertinya ia akan luluh pada apapun permintaan istrinya sekalipun meminta jantungnya atau mengambilkan bulan ataupun bintang di langit.
"Izinkan aku pergi ya.. sekali ini saja, please.." ucap Jiwoo dengan imut dan manja sambil menggoyang-goyangkan tubuhnya.
Jiwoo bertekad membujuk Mujin lagi, jika memang tidak diizinkan, ia akan menyerah. Setidaknya ia ingin berusaha.
KAMU SEDANG MEMBACA
Love Struck 2 : Painful
RomanceSilahkan baca Love Struck dulu ya, ini Sequel nya 💜
