XXXIV

332 70 40
                                    

Setelah selesai makan malam Jiwoo dan Mujin bersantai di ranjang. Jiwoo sedang duduk bersandar dengan asik menonton youtube dan mencari di internet tempat-tempat indah di Swiss. Sedangkan Mujin memeluk dan tidur di perut Jiwoo dengan manja.

Mujin menelusupkan tangannya ke dalam gaun tipis istrinya mengusap perutnya naik turun serta naik keatas bagian dada yang tidak memakai bra, menggodanya dengan usapan sensual. Jiwoo membiarkan Mujin melakukannya, ia tetap asik dengan ponselnya. Akhir-akhir ini Mujin memulai kebiasaan barunya ini, ia menyukai mengusap membelai tubuh istrinya seperti sekarang ini.

"Sayang... berhentilah, kau sudah menonton seharian, apa tidak capek hm?" ucap Mujin dengan suara beratnya.

"Sebentar lagi yeobo.."

Setelah 20 menit, Jiwoo merasakan matanya mulai pedih, ia mematikan ponselnya dan menaruh di nakas.
Ia melihat ke bawah dan Mujin sudah tertidur memeluk perutnya dengan sebelah tangannya masih di bagian dadanya.

Jiwoo terkekeh melihat tingkah suaminya yang lucu, seperti anak kecil saja. Jiwoo menggeser tubuhnya dan memindahkan kepala Mujin ke lengannya dan memeluk suaminya. Hal yang setiap hari dilakukan Mujin untuk istrinya sekarang menjadi terbalik, Jiwoo lah yang melakukannya.

Ia tau besoknya Mujin pasti akan merengek padanya karena ketiduran tanpa bercinta. Jiwoo mengecup kening Mujin, mengusap rambut suaminya dengan pelan, Mujin yang sudah tertidur bergerak mengeratkan pelukannya pada Jiwoo dan menyandarkan kepalanya dengan nyaman dilengan Jiwoo.

...

Keesokan harinya Jiwoo terbangun saat merasakan lengannya sakit bukan main. Ternyata seperti ini rasanya setiap hari Mujin menjadikan lengannya sebagai bantal untuk Jiwoo.

"Yeobo.." panggil Jiwoo dengan nada serak.

"Morning sayang.." Mujin membelai rambut Jiwoo.

"Aku haus sayang"

Mendengar istrinya yang kehausan, Mujin turun dari ranjang dan mengambilkan minum untuk istri tercintanya.

"Minumlah yeobo" Mujin bahkan menyuapi Jiwoo minum.

Mujin tidak membiarkan Jiwoo turun dari ranjang. Ia meletakkan gelas kosong ke nakas setelah Jiwoo menghabiskannya.

Jiwoo memijit lengan kanannya yang sangat pegal dan rasanya seperti mati rasa.

"Yeobo, lenganmu sakit? Lain kali jangan seperti itu lagi" Mujin duduk dikasur dan memijit lengan Jiwoo.

"Lalu bagaimana kau bisa melakukannya setiap hari? Aku ingin mencoba nya, ternyata aku tidak bisa" Jiwoo terkekeh.

"Aku sudah terbiasa jadi tidak sakit lagi" Mujin merebahkan tubuhnya disamping Jiwoo.

Keduanya saling bertatapan.

"Sayang, aku sangat mencintaimu.." ucap Mujin lembut dengan suara beratnya. Ia mengusap pipi istrinya dengan ibu jarinya.

Ungkapan Mujin membuat Jiwoo merasa bahagia dan haru, ia mengingat semua perjuangan cinta mereka sampai hari ini.
Baginya Mujin benar-benar pria sekaligus suami yang sangat sempurna. Tidak pernah sekalipun pria itu mengurangi rasa cintanya pada Jiwoo.

"Haruskah aku memberimu hadiah?" balas Jiwoo.

"Apa itu?" tanya Mujin bingung.

Jiwoo mengangkat kepalanya ke arah telinga Mujin dan berbisik.

"Aku hamil"

Mujin terkejut dengan mata terbelalak, ia sangat bahagia sampai-sampai tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun, matanya mulai berkaca-kaca. Ia menenggelamkan wajahnya di dada Jiwoo dan menangis sesugukan.

Jiwoo menepuk punggung Mujin, ia tau pria itu sangat bahagia sampai tidak bisa menahan tangisannya.

Setelah hampir 5 menit menangis, Mujin mengangkat wajahnya menatap istrinya. Jiwoo menyeka airmata nya dan tertawa.
Wajah Mujin terlihat menggemaskan dengan matanya yang hampir bengkak. Seperti bocah yang kalah berkelahi yang mengadu ke ibunya lalu menangis.

"Yeobo, aku tau, kau sangat menantikan kehamilanku, aku sebenarnya ingin mengatakannya saat kita di swiss nanti tapi aku tidak bisa menyimpan terlalu lama kabar bahagia ini padamu" kata Jiwoo.

"Aku pikir kau tidak mau mempunyai anak lagi Jiwoo-ya"

"Tidak mungkin aku tidak menginginkan anak dari Choi Mujin, kau suami dan ayah yang sempurna" Jiwoo mengecup pipi Mujin.

"Sayang, dikehidupan selanjutnya kembalilah menjadi istriku" Mujin memeluk Jiwoo, membawanya bersandar di dadanya.

"Jika wajahmu masih sama, aku mau menjadi istrimu lagi" Jiwoo terkekeh.

"Aku berjanji, kali ini aku akan menjagamu, melindungimu dan anak kita, aku tidak akan membiarkan kalian terluka sedikitpun"

"Kau memang calon daddy yang baik" puji Jiwoo.

"Daddy? Hm, sudah lama aku tidak mendengarnya" balas Mujin terkekeh.

Keduanya tertawa bersama dan saling mengeratkan pelukan. Mujin kemudian bergeser keatas tubuh Jiwoo, ia mengecup berulang-ulang perut ramping istrinya.

"Jangan nakal ya sampai daddy dan mommy pulang dari swiss" ucap Mujin diperut Jiwoo membuat istrinya tertawa terbahak.

"Hm, semalam aku ketiduran karena istriku sangat sibuk" ledek Mujin membuat Jiwoo terkekeh.

"Apa aku akan dihukum?"

"Tentu saja ada hukumannya sayang.." bisik Mujin dengan suara beratnya.

Mujin menggigit dan menghisap bibir bawah Jiwoo dengan gemas lalu mencium dan melumat bibir istrinya dengan rakus, saling mencecap dan mengaitkan lidah.

Setelah hampir 1 jam bercinta.

Mujin menghentakkan pinggulnya lebih dalam ke milik Jiwoo dan terus bergerak memompa sambil berciuman dan mendesah nikmat.

Jiwoo memeluk erat leher Mujin saat merasakan milik Mujin yang semakin besar didalamnya pertanda suaminya akan sampai kepuncaknya.

"Ahh.. sayang, milikmu sangat sempit, ahh.. jepit aku yeobo" racau Mujin.

"Ahh.. yeobo.. ahh.." Jiwoo mendesah nikmat.

Mujin akhirnya menembakkan cairan kentalnya ke dalam rahim Jiwoo dengan deras bahkan tumpah dari kewanitaan Jiwoo.
Dengan nafas terengah, Mujin memeluk Jiwoo.

"Ahh.. aku mencintaimu sayang.." Mujin mencium pipi Jiwoo.

"Aku menyukaimu didalamku yeobo" bisik Jiwoo.

Mujin tersenyum senang.

"Mau lagi sayang?"

"Apa?"

"Okay, once again wifey"

Dan setelah bermain 30 menit, Mujin kembali mengeluarkan cairannya didalam Jiwoo untuk kedua kalinya.

...

"Ini hari minggu bukan sayang?" tanya Mujin sambil memakai bajunya.

"Iya sayang" Jiwoo sedang mengeringkan rambutnya.

"Mau jalan-jalan?" tanya Mujin, ia mengambil alih hairdryer dari tangan Jiwoo dan membantu mengeringkan rambut istrinya.

"Jinjja? Kemana daddy?" tanya Jiwoo dengan suara dibuat seimut mungkin.

"Kemanapun yang kau mau mommy" balas Mujin tertawa memeluk leher Jiwoo dari belakang.


Akhirnya pasutri ini kembali bahagia 😭
Mujin seneng bgt tuh istrinya hamil 🤰🏻🤰🏻sampai nangis-nangis kayak bocah gk dikasi beli mainan 😂😂

Love Struck 2 : PainfulTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang