XXIII

300 42 42
                                    

Mujin menyalakan sebatang rokok lalu menghisap dan menghembus asapnya pelan, matanya menatap gelap ke depan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Mujin menyalakan sebatang rokok lalu menghisap dan menghembus asapnya pelan, matanya menatap gelap ke depan. Suara air yang tenang dan angin sejuk. Ia dan Taeju berdiri didepan mobil di bawah jembatan sungai Han.

"Arraseo Taeju-ya, besok aku akan ikut" kata Mujin setelah mendengar perkataan Taeju. Ia membuang puntung rokok lalu menginjaknya.

...

Mujin sampai dipenthouse setelah 1 jam meninggalkan Jiwoo. Ia berjalan masuk ke kamar mencari Jiwoo, namun sepertinya Jiwoo kelelahan hari ini, ia tertidur di sofa dengan niat menunggu Mujin pulang.

Mujin tersenyum tipis lalu dengan pelan-pelan menggendong Jiwoo ke kamar dan merebahkannya ke kasur empuk. Ia mengecup kening Jiwoo lalu berdiri dan berganti baju tidur.

Mujin kembali ke kasur dengan mengangkat kepala Jiwoo dan merentangkan lengannya menjadikan bantal untuk Jiwoo yang sudah menjadi kebiasaan Mujin. Ia mengecup pelan pipi Jiwoo membuat wanita itu merasakan hangat nafas bau rokok di indera penciumannya.

"Berhentilah menciumku, kau bau rokok yeobo.." kata Jiwoo yang masih memejamkan matanya lalu berbalik memunggungi Mujin.

"Mian.." Mujin berbisik lalu berdiri dari ranjang dan menuju kamar mandi untuk menggosok gigi dan berkumur beberapa kali menghilangkan nafas bau rokoknya.

"Yeobo.. berbaliklah, aku sudah tidak bau rokok, hm? Padahal aku hanya menghisap satu batang tapi kau bisa langsung tau" kata Mujin dengan suara manja sambil menarik tubuh Jiwoo untuk berbalik menghadapnya.

Sedangkan Jiwoo tidak merespon apapun saat berbalik menghadap Mujin, matanya masih terpejam. Mujin mencium bibir Jiwoo dan melumatnya pelan namun tidak ada respon dari si penerima ciuman.

"Yeoboo...." panggil Mujin manja.

Jiwoo tertawa berhasil membuat Mujin hampir kesal. Ia membuka matanya dan melihat Mujin sedang mengerucutkan bibirnya merajuk.

"Ekspresi apa itu?" Jiwoo tertawa terbahak-bahak melihat Mujin yang merajuk seperti bocah yang tidak diperboleh membeli mainan.

"Hidungku sangat sensitif terhadap bau rokok dan alkohol, berhati-hatilah" sambung Jiwoo terkekeh.

"Apa kau senang menjahiliku hah?hm?" Mujin menggelitik Jiwoo tanpa ampun, membuat Jiwoo tertawa cekikikan.

Sekarang kedua pasang bola mata itu saling menatap penuh cinta dan kasih sayang. Mujin mengusap pipi Jiwoo dengan ibu jarinya dengan kedipan mata lembut begitupun dengan Jiwoo.

"Jiwoo-ya.. maafkan aku, ingatanku masih belum pulih" Mujin meraih jemari Jiwoo dan mengecupnya.

"Walaupun begitu, kau akan selalu ada disini" Mujin menuntun tangan Jiwoo ke dadanya, letak jantung itu berdebar.

"Kau tau.. walaupun ingatanmu belum kembali tapi beberapa kelakuanmu tetap sama, seperti sekarang" ucap Jiwoo tersenyum.

"Kau sudah pernah mengatakan ini dulu, saat kita di pulau Jeju saat itu aku.." Jiwoo mengertakkan giginya, dadanya terasa sesak, ia mengingat kembali kejadian menyesakkan setelah saat itu ia menangis tersedu-sedu karena harus memutuskan Mujin karena ancaman Jinwoong.

Love Struck 2 : PainfulTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang