Bab 5 Membagi Majalengka

189 10 8
                                        


Pagi hari Wijaya terbangun dengan tubuh terasa lebih segar. Kata-kata dan janji Gayatri membuatnya tenang. Karenanya tubuhnya terasa lebih sehat.

Setelah mandi, ia dan Gayatri duduk di beranda. Emban datang menghidangkan sarapan pagi untuk mereka berdua. Sarapan pagi itu hanya berupa bubur manis karena Ra Tanca tidak ingin Wijaya makan makanan berat di pagi hari. Ra Tanca telah mengatur menu sehari-hari rajanya. Adapun semua bahan makanan dan pembuatannya diawasi secara langsung oleh ratu. 

Tak berapa lama ratu datang. Mereka makan pagi bertiga. Setelah selesai makan pagi dilanjutkan dengan bercakap-cakap santai. Betapa senangnya hati ratu melihat suaminya terlihat segar di pagi hari itu.

"Aku senang melihatmu terlihat segar, kangmas. Apa yang kau berikan pada kangmas Wijaya yang membuatnya bugar, yayi ?" tanya ratu.

"Aku memberikannya janji-janji palsu, kangmbok." jawab Gayatri santai.

Mereka semua tertawa. Tiba-tiba datang seorang prajurit. Ia bersimpuh dan menyembah rajanya.

"Maaf sinuwun, ada tamu dari Songenep. Bupati Songenep gusti Arya Wiraraja minta waktu menghadap." 

Prabu Wijaya dan kedua istrinya terkejut. 

"Katakan padanya untuk menungguku di sitinggil."

"Sendiko sinuwun."

Sang prajurit minta ijin keluar. Sepeninggalnya Wijaya meminta kedua istrinya untuk mendampinginya bertemu dengan sang bupati. 

Mereka bertiga berjalan ke sitinggil. Tiba disana terlihat Arya Wiraraja telah menunggu. Melihat rajanya datang ia bersimpuh dan menyembah.

"Bangunlah paman. Apakah kau telah sarapan ?" Tanya Wijaya sambil mengajak Arya Wiraraja duduk bersama. Para istri Wijaya duduk di kiri kanan suaminya.

"Sudah, sinuwun, terimakasih."

"Duduklah yang enak, paman. Bagaimana kabar Songenep ? Apakah semuanya baik-baik saja ?"

"Terimakasih atas perhatian sinuwun. Semuanya baik-baik saja. Rakyat Songenep hidup berkecukupan tidak kurang suatu apa."

"Baguslah, paman. Sekarang katakan padaku, ada apakah kau datang padaku hari ini ?"

"Sinuwun, sebenarnya hamba tidak enak hati untuk membicarakan hal ini.. Apakah sinuwun masih ingat perjanjian kita ?"

Wijaya tertegun sejenak.

"Masih ingat, paman."

"Hamba ingin menagih janji, sinuwun."

Wijaya terhenyak. Walaupun ia seorang yang menepati janji, tak urung ia kaget juga mendengar kata-kata Arya Wiraraja.

"Aku tidak akan mengingkari janjiku, paman. Kapan paman ingin kita membagi kerajaan ?"

"Bagaimana kalau kita lakukan hari ini, sinuwun."

"Tentu paman. Aku akan membuatkan legalisasi pembagian kerajaan. Prajurit, panggilkan rakryan Mahamenteri i Katrini. Suruh mereka semuanya datang ke sitinggil sekarang juga."

"Sendiko sinuwun."

Sambil menunggu kedatangan para menterinya, Prabu Wijaya, Arya Wiraraja, Tribhuwaneswari dan Gayatri berbincang-bincang. Para emban datang menyuguhi aneka minuman hangat dan makanan kecil.

Tidak butuh waktu lama para menteri sudah datang. Prabu Wijaya memerintahkan Juru tulis untuk menuliskan dekrit kerajaan yang menyatakan bahwa Majapahit resmi dibagi 2 dengan pembagian sebagai berikut :

Prahara MajapahitCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang