Bab 13 Ranggalawe Terbakar Amarah

113 6 1
                                        

"Stoopp .. Stop." kata Patih Nambi sambil menarik kekang kudanya. Pagi-pagi ia sudah tiba di halaman pertapaan Gayatri. Ia bergegas turun dari kudanya dan masuk ke pertapaan. Prajurit jaga yang sedang menyapu halaman memberikan sembah hormat padanya.

Setiba di dalam ia meminta emban untuk memberitahukan kedatangannya kepada Gayatri. Bergegas emban ke dalam memberitahukan gustinya. Tak berapa lama Gayatri keluar menyambut tamunya. Ia menggunakan pakaian pertapa berwarna putih. Rambutnya digulung dan hanya dihiasi tusuk gelung sederhana. Walaupun penampilannya sederhana, tapi sang ibu suri tetap terlihat cantik dan anggun.

"Ayo masuk, kakang Nambi. Tumben kau datang. Ada berita apakah ?"

Setelah mereka duduk tenang, Patih Nambi menceritakan keadaan di istana Majalengka minus tentang gadis-gadis. Ia malu bercerita kepada ibu suri. Lagipula ia belum yakin pada apa yang terjadi dengan gadis-gadis itu. Gayatri termenung mendengar ceritanya.

"Kakang, sejujurnya aku belum menemukan jalan keluarnya. Aku butuh waktu untuk berpikir."

"Gusti, tidakkah gusti sebaiknya kembali ke istana ? Kami membutuhkan gusti ayu untuk memimpin kerajaan ini. Minimal mendampingi gusti prabu."

"Aku tidak bisa kembali, kakang.."

"Kenapa gusti ?"

"Kakang, aku akan bicara jujur padamu. Kakang pasti tahu apa yang terjadi saat ini di kerajaan ini. Kakang pasti tahu bahwa kelemahan keamanan kerajaan ini justru terletak di rajanya sendiri. Jayanegara memiliki darah Dharmasraya. Hal ini dimanfaatkan oleh mereka untuk mengambil alih kerajaan ini.

Dulu mereka dikalahkan oleh kakang Kebo Anabrang dan menjadi kerajaan bawahan Singhasari. Lalu mereka mengirimkan putri mereka untuk dijadikan selir rama prabu Kartanegara. Itu adalah siasat secara halus untuk mendapatkan kekuasaan di Singhasari melalui wanita. Tapi ayah gugur. Singhasari runtuh berganti dengan Majalengka. Sayangnya Dewata mentakdirkan Jayanegara lahir dari rahim mereka. Darinya lah mereka mendapat kesempatan emas untuk menguasai Majalengka.

Sekarang mereka mulai melakukan pergerakan secara halus. Mereka mengambil alih jabatan Mahamanteri Katrini agar memudahkan mereka berhubungan dengan gustimu. Jabatan Mahamanteri Katrini juga memungkinkan mereka untuk mensortir siapa-siapa yang bisa dan boleh bertemu dengan gustimu. Dengan begitu mereka telah mensortir berita-berita mana yang boleh sampai di telinga gustimu dan mana yang tidak boleh diketahui rajamu. Ini sangat berbahaya, kakang. Hal ini sangat melemahkan kerajaan kita.

Tapi di sisi lain, kalau kita bertindak gegabah dan memberontak, pihak Dharmasraya pasti tidak akan tinggal diam. Mereka pasti akan mengerahkan pasukannya untuk mempertahankan tahta Jayanegara. Akan ada perang besar, kakang.

Aku tidak bisa ke istana karena kakang juga pasti tahu bahwa di dalam satu dapur tidak bisa ada 2 koki. Kalau aku kembali, aku akan bersaing berebut kekuasaan dengan yayi Dara Petak. Setelah meninggalnya mendiang sinuwun, ia semakin menancapkan kukunya di istana.

Kakang, aku tidak mungkin mencabut wewenang anakku Jayanegara karena ini adalah wasiat dari suamiku. Aku harus mencari siasat, kakang. Kita main halus.. Kita main belakang.. Kakang kembalilah dulu. Aku akan mencari kesempatan itu. Percayalah, aku tidak akan tinggal diam. Kakang sabar dulu."

"Hamba percaya gusti tidak akan lepas tangan begitu saja. Hamba percaya gusti ayu tidak akan tinggal diam. Hamba kembali dulu ke istana. Tadi hamba pergi diam-diam. Hamba khawatir sinuwun mencari hamba."

"Pergilah, kakang. Jangan khawatir. Semua masalah pasti ada jalan keluarnya."

"Sendiko gusti."

Patih Nambi berpamitan dan memacu kudanya kembali ke istana. Sepeninggal Patih Nambi, Gayatri termenung. 

Prahara MajapahitCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang