Bab 6 Pelantikan

163 9 2
                                        

Setelah acara perkenalan para pejabat keraton dengan para putra putrinya, Prabu Wijaya mengajak anak-anaknya untuk berkeliling. Walaupun putra putrinya sudah sering berkeliling kerajaan, namun ia ingin memanfaatkan momen ini untuk mengajarkan mereka rasa memiliki terhadap kerajaan dan rakyatnya.

Sepanjang jalan rakyat mengelu-elukan rajanya. Mereka berbondong-bondong dan berdesak-desakan karena ingin melihat raja dan keluarganya. Para wanita menggendong anak mereka, saling berhimpitan dengan yang lain. Mereka ingin menunjukkan kepada anak-anak mereka rupa raja yang mereka cintai itu.

Rombongan kerajaan berarak megah. Para prajurit berjalan paling depan memegang pedang dan perisai. Wajah dan tubuh mereka tegap berisi. Rombongan prajurit diikuti oleh rombongan para menteri. Mereka menggunakan kuda dan gajah yang dituntun oleh para prajuritnya. Rombongan sang nata berjalan terakhir. 

Prabu Wijaya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Prabu Wijaya

Relief atas menggambarkan arak-arakan keraton yang didahului oleh para prajurit

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Relief atas menggambarkan arak-arakan keraton yang didahului oleh para prajurit. Kereta sang prabu berjalan terakhir.

Relief bawah menggambarkan rakyat menyerahkan buah tangan kepada sang nata 
sebagai tanda kecintaan mereka kepada rajanya

Rombongan Prabu Wijaya diawali oleh kereta berisi Ratu dan para istri lainnya. Kereta sang nata berjalan dibelakangnya. Prabu Wijaya menggunakan kereta megah bergambarkan lambang kerajaan Majalengka yaitu buah maja. Kereta dihias oleh kain beledu merah menyala bercorak emas ditarik oleh lembu. Dikiri kanan dan belakang kereta berjalan para emban istana. Semua mengenakan pakaian kerajaan yang berhias mewah. Rambut mereka digelung tinggi dengan dihiasi tusuk bunga yang terbuat dari emas.

Siapapun yang melihat rombongan sang prabu akan berdecak kagum dan takjub melihat kemegahannya.

Dalam kitab Negarakertagama Pupuh 18 diceritakan :

 Ndan saɳ çri tiktawilwaprabhu sakataniraçankya cihnanya wilwa, gritisiɳ lobhe lwih laka pada tinulis iɳ mas kajaɳnyan rinenga,..

Mungwiɳ wuntat / ratha çri nrpati rinacanaɳ swarnna ratna pradipta, anyat / lwirnyatawiɳ jampana sagala mawalwahulap / söɳnya lumra, kirnneɳ wadwa niriɳ jangala kadiri sdah paɳaraɳ sök marampak, astam tekaɳ bhayaɳkaryyamawamawa duduɳ bhrtya mungwiɳ gajaçwa.

Prahara MajapahitCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang