Bab 14 Perdebatan

106 5 4
                                        

Bhre Daha, Dyah Wyatt

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Bhre Daha, Dyah Wyatt

Di istana Dahanapura, Bhre Daha Dyah Wyat sedang berdandan cantik. Ia kedatangan tamu agung hari ini, yaitu sepupunya,  Nararyya Kudamerta. Nararyya Kudamerta adalah putra dari Bhre (raja) Wengker yang menjadi kerajaan bawahan Kediri. Nararyya Kudamerta adalah salah seorang canggah Ken Angrok dari Mahisa Wonga Teleng. 

Emban merias wajah sang ratu yang elok dengan pinsil alis yang terbuat dari arang. Ia membuat garis alis rapi yang menghiasi wajah sang ratu. Sebuah pemulas bibir berwarna merah dioleskan ke bibir tipisnya. Sang ratu yang masih remaja itu terlihat semakin cantik dan anggun.

Tiba-tiba seorang emban datang.

"Gusti ratu, gusti Nararyya Kudamerta datang." Katanya sambil menyembah. 

Ratu tersenyum.

"Terimakasih bibi. Tolong pinta dia untuk menungguku di ruang tamu."

"Sendiko gusti."

Sang emban segera berlalu.

Usai mematut-matutkan dirinya di cermin, sang ratu bergegas datang ke balairung. Setibanya di balairung dilihatnya sang sepupu sedang sibuk mengatur peti-peti yang ia bawa dari Wengker. Demikian banyaknya peti-peti itu hingga perlu ditumpuk rapi. Terlihat patih Lembu Sora ikut sibuk mengatur peti-peti upeti dibantu beberapa prajurit. Melihat kedatangan ratunya, mereka menyembah hormat.

"Selamat datang, kangmas. Bagaimana kabarmu ?" Sapanya ramah.

Kudamerta memberikan salam hormat. Seulas senyum manis menghiasi wajahnya yang tampan. Walaupun Kudamerta adalah kakak sepupu, tapi kedudukan Dyah Wyat sebagai ratu Daha adalah berada di atasnya. Ia harus menghormat kepada adik sepupunya itu.

 Ia harus menghormat kepada adik sepupunya itu

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Nararyya Kudamerta

"Ah, baik yayi ratu. Yayi, kedatanganku kemari adalah untuk mengantarkan upeti untuk digabungkan dengan upeti Kediri."

Dyah Wyat tertegun.  

"Boleh kulihat, kangmas ?" tanyanya.

"Ya, tentu."

Prahara MajapahitCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang