Bab 27 Melamar Dyah Wyat

105 8 1
                                        


Tak terasa setahun berlalu.

"Gusti, apakah gusti bisa meninjau pusat-pusat kebudayaan yang sedang kami bangun di beberapa tempat ? Kami menamakannya sebagai pusat kebudayaan rakyat." Lapor Mpu Kuturan kepada Kudamerta.

"Tentu. Aku akan kesana. Sudah sampai dimana pembangunannya ?" Tanya Kudamerta.

"Untuk bangunan utama, aula, sudah selesai gusti. Hanya tinggal bangunan-bangunan pandukung yang masih sedang dikerjakan."

"Kapan bisa rampung semua ?"

"Hamba rasa tidak sampai setengah tahun sudah selesai semuanya termasuk pertamanan, gusti."

"Bagus.. Bagus.. Untuk saat ini apakah sudah bisa dilakukan pengajaran disana ?"

"Sudah, gusti. Kami juga sudah menempatkan gamelan-gamelan. Kita sudah bisa mulai mengajar kesenian pada rakyat Bali."

"Ohya ? Kapan gamelan-gamelan itu tiba ?"

"Minggu lalu, gusti. Setibanya dari Majalengka langsung kami bawa ke pusat kebudayaan. Sekarang sudah kami tata disana. Tinggal mulai pengajaran saja."

"Kalian sudah berkoordinasi dengan para pejabat setempat ? Mereka bisa memobilisasi massa untuk segera mulai pendidikan seniman seniwati lokal Bali."

"Kami akan koordinasikan dengan pejabat setempat, gusti. Mungkin dalam waktu 2 minggu kami sudah bisa mulai mengajarkan tari-tarian, gamelan, dan kesenian wayang kepada penduduk."

"Ya, ajarkan semuanya pada rakyat Bali. Aku ingin melihat mereka semaju rakyat di Jawa."

"Sendiko, gusti."

"Aku ingin juga dibangun bengkel pembuatan sarana kesenian seperti bengkel pembuatan gamelan, kendang, suling, juga pembuatan aksesoris kesenian seperti kostum penari, umbul-umbul dan lainnya. Agar lain kali tidak tergantung dari Jawa. Mereka harus bisa mandiri."

"Gusti benar sekali. Baiklah akan hamba atur semua. Hamba pamit dulu, gusti."

Para mpu Kuturan berpamitan. Tak lama datanglah Njung Asti. Ia menggendong putrinya. Putri pertama pasangan Kudamerta dan Njung Asti dinamakan Dewa Ayu Mas Magelung.

Melihat Njung Asti datang, Kudamerta menyambutnya. Ia menggendong bayi dalam pelukan sang istri. Diciumnya bayi mungil itu.

"Kau jangan menggendongnya. Kau lagi hamil muda. Nanti kau bisa keguguran." Kata Kudamerta sambil mencium dahi sang istri.

"Sendiko kangmas. Kangmas, apakah kau bahagia memiliki seorang putri ?" Tanyanya sambil memandang suaminya.

Kudamerta tersenyum.

"Tentu saja aku bahagia. Putriku cantik seperti ibunya. Aku rasa aku akan menjadi ayah yang sangat protektif pada anak perempuanku. Tak kan kubiarkan seorang laki-lakipun melukai hatinya."

Deg !

Tiba-tiba Kudamerta tertegun. Ia telah menjadi seorang ayah dari seorang putri cantik. Sebagai seorang ayah, ia tidak ingin melihat hati putrinya terluka. Bagaimana dengan Dyah Wyat ? Tidakkah ia telah melukai hati gadis itu ? Teringat pada Dyah Wyat membuat hatinya perih. Ia merasa berdosa pada kekasihnya.

Melihat Kudamerta termenung, Njung Asti mendekatinya.

"Ada apa kangmas ?" Tanyanya sambil memegang pundak sang suami.

"Kangmas melamun ? Hati-hati kangmas. Kau bisa menjatuhkan anak kita."

Kudamerta tersadar. Ia buru-buru memeluk si bayi.

"Ah.. Tidak.. Tidak.. Tadi tiba-tiba aku terpikir tentang pusat kebudayaan yang sedang kubangun. Anak kita sudah tidur. Sebaiknya aku tidurkan dia di tempat tidurnya. Kau istirahatlah dulu. Sudah beberapa hari kau muntah-muntah terus. Pasti fisikmu jadi lemah sekarang. Mintalah pada emban untuk memijitimu agar tubuhnya enakan."

Prahara MajapahitCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang