Bab 18 Gugurnya Lembu Sora

81 4 2
                                        

Semalam hujan turun terus-menerus membasahi bumi Daha. Pagi hari burung-burung berkicau bersenandung riang melihat datangnya sinar mentari menghangati bumi. Dedaunan terlihat masih basah oleh air hujan, namun daun-daun muda menampakkan keriaannya. 

Taman istana Daha sangat indah

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Taman istana Daha sangat indah. Taman itu dipenuhi tumbuhan-tumbuhan tropis yang ditata sangat rapi. Tampak kolam ikan dihiasi arca-arca dewa dewi cantik yang menambah keindahan taman. Taman itu masih mempertahankan keasliannya sebagai buah karya Prabu Samarawijaya, pendiri sekaligus arsitek istana Daha yang bernama asli Dahanapura yang berarti kota api. 

Di serambi istana Bhre Daha tampak sedang meneguk wedang serehnya. Diletakkannya cangkirnya di meja. Ia menghela nafas panjang. Walaupun ia memandangi taman, tapi  pikirannya melayang kemana-mana. 

Bhre Daha

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Bhre Daha


"Kanjeng ratu, gusti rakryan Lembu Sora ingin datang menghadap." kata emban lembut. Bhre Daha terbangun dari lamunannya.

"Suruh dia kemari, biyung."

"Sendiko gusti."

Emban pergi memanggil Lembu Sora. Tak berapa lama Lembu Sora datang. Ia bersimpuh dan menyembah ratunya.

"Paman.. Aku sudah mendengar semuanya.." Kata Bhre Daha lirih.

"Gusti ratu, hamba ingin berpamitan. Hamba akan ke Majalengka menyerahkan diri."

Sang ratu terkejut walaupun ia telah menduga maksud kedatangan Lembu Sora.

"Tidak, paman !" Tukas Bhre Daha. "Aku tidak ingin paman ke Majalengka. Biarkan aku yang bicara dengan kakang prabu. Paman tidak perlu datang sendiri kesana."

"Hamba bukan pengecut, gusti. Hamba akan mempertanggungjawabkan semua perbuatan hamba."

"Paman, paman sudah seperti ayah untukku. Ini bukan masalah pengecut atau bukan pengecut, tapi masalah keluarga. Masalah keluarga selayaknya dibicarakan baik-baik secara kekeluargaan."

"Gusti ratu, sejak pertama hamba mengabdi pada ayah gusti, Prabu Wijaya, hamba sudah menyerahkan jiwa raga hamba untuk sinuwun Prabu Wijaya dan keluarganya. Hamba tidak takut mati dan hamba bukan pengecut. Hamba akan mempertanggungjawabkan perbuatan hamba secara ksatria. Hamba hanya ingin berpesan kepada gusti ratu, sepeninggal hamba, mohon agar gusti berhati-hati. Hamba tidak ingin ada apa-apa dengan gusti ratu. Rakyat Daha sangat membutuhkan pemimpin yang adil seperti paduka untuk memimpin mereka. Hamba menitipkan keluarga dan rakyat Daha kepada paduka."

Prahara MajapahitCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang