Bab 9 Pelantikan Raja Baru

163 4 1
                                        

Mendung  menyelimuti kerajaan Majalengka. Raja yang sangat mereka cintai telah tiada. Seluruh rakyat berduka. Isak tangis terdengar dimana-mana. Mereka memang sangat mencintai rajanya karena berkat Wijaya, rakyat terhindar dari penjajahan Mongol. Prabu Sanggramawijaya  adalah seorang raja yang bijak. Ia sangat teguh berpegang pada UU dan agama. Siapapun dikenakan hukuman apabila melanggar peraturan tanpa pandang bulu. Walaupun pelanggarnya adalah pejabat kerajaan atau kerabat kerajaan sekalipun, ia tidak segan-segan menjatuhi hukuman sesuai dengan kitab undang-undang. Karena itulah kerajaan menjadi aman dan damai.

Para pelayat baik yang berasal dari dalam kerajaan maupun dari luar kerajaan serta para resi telah berdatangan. Semuanya memanjatkan doa untuk arwah Wijaya. Jenazah sang prabu dibaringkan di balairung. Tubuhnya telah bersih dimandikan dan diberi pakaian berwarna serba putih. Wajahnya terlihat teduh dan damai, membuat siapapun yang melihat akan merasa kehilangan yang sangat. 

Di dapur istana asap terlihat tidak berhenti-henti mengepul karena banyaknya pelayat. Rakyat jelata berduyun-duyun ke istana untuk melakukan penghormatan terakhir pada rajanya. Para sahabatnya seperjuangan seperti Ranggalawe, Nambi, Kebo Anabrang, Lembu Sora dan para anggota Dharmaputra berkumpul di balairung. Turut bergabung dengan mereka, Mahamenteri Nararyya Adwayawarman beserta istrinya, Dara Jingga, dan putra mereka Adityawarman. Adityawarman adalah pemuda tampan sedikit lebih tua dari Jayanegara. Kedua sepupu itu mirip wajahnya. Tidak ketinggalan Prabu Menak Koncar datang dari Lamajang Tigang Juru. Semua meneteskan airmata mengenang persahabatan dan perjuangan mereka dengan Prabu Wijaya. 

Di kamarnya, Jayanegara tidak berhenti-henti menangis. Airmata berderai di pipinya. Ia merasa sangat bersalah pada ayahnya. 

Tiba-tiba terdengar pintu diketuk perlahan.

"Masuklah." katanya lirih.

Mahadewi membuka pintu.

"Ibu kemari untuk berpamitan padamu, nak."

Jayanegara terkejut mendengar kata-kata Mahadewi.

"Apa maksud ibu ?"

"Ibu akan pati geni menyusul ayahmu."

Jayanegara memeluk Mahadewi erat-erat.

"Ibu, jangan pergi. Jangan tinggalkan aku.."

Mahadewi menyeka air mata di wajah Jayanegara.

"Anakku, kau sudah dewasa. Kau akan mewarisi tahta ayahmu. Sudah waktunya kau mandiri, mengejar takdirmu sendiri. Tugas ibu mendampingimu telah selesai. Kau akan menjalani hidupmu sendiri. Ibu berpesan padamu, jagalah dirimu baik-baik, nak. Kau akan menghadapi begitu banyak halangan dan rintangan dalam perjalanan hidupmu. Kau harus berhati-hati dalam melangkah. Jangan sampai kau membuat keputusan salah yang akan mencelakaimu sendiri. Kau memiliki tugas dan tanggungjawab yang sangat besar di pundakmu. Nasib rakyat dan kerajaan ini sekarang berada di tanganmu. Ibu hanya bisa mendoakanmu semoga kau selalu sehat dan bahagia."

Mendengar nasihat Mahadewi, Jayanegara menangis tersedu-sedu.

"Ibu.. Maafkan aku.."

"Ibu sudah memaafkanmu, nak."

"Apakah ayah juga memaafkan perbuatanku ?"

"Tidak ada orang tua yang tidak menyayangi anak-anaknya. Sudah pasti ayahmu memaafkanmu."

Mahadewi mengelus-elus kepala anaknya.

"Kau sudah besar, nak. Kau pasti sudah tahu mana yang benar dan mana yang salah. Semua perbuatan, baik yang baik maupun yang buruk, semua membawa konsekwensi masing-masing. Apapun perbuatan yang kau lakukan, bukan wewenang ibu untuk menilaimu. Kaulah yang berwenang menilai dirimu sendiri."

Prahara MajapahitCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang