30| batal

318 63 22
                                        

Untuk orang yang tidak paham dan tidak mengerti, mungkin akan mengira bahwa Karina sedang beraksi berlebihan. Perempuan yang terbiasa tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah dan terbiasa berjalan mandiri jika hanya dihadapkan dengan hal ini seharusnya tidak akan menimbulkan rasa yang berlebihan kan? Iya, itulah yang Karina pikirkan sekarang. Mengapa dia harus merasa kecewa? tidak ada, menurut akal sehatnya. Tapi tindakannya berbanding terbalik dengan akal sehatnya. Karina merasakan sesuatu yang tidak nyaman. Dia tidak mau berlama-lama di bakery itu. Dia ingin pulang, dia tidak mau kehadirannya disadari oleh orang itu. 

Refleks membalikan dirinya untuk pergi, tapi Jeno menahannya. Dengan berbicara bahwa laki-laki itu bersamanya, bahwa laki-laki itu akan menjaganya, dan bahwa laki-laki itu akan menjadi tamengnya. Kembali Karina setidaknya merasa bahwa ini memang harus dihadapi. Dia tidak bisa lari. Tidak di depan orang itu.

Jeno melingkarkan lengannya pada pinggang Karina. Menjaga perempuan itu supaya tetap dekat. Menjadi pelindung dan tempat ternyaman Karina untuk bersandar. 

Harusnya yang lakuin ini kamu, Genta, bukan Jeno.

Karina masih memiliki akal sehatnya. Dia berjalan menuju kasir sambil melepaskan tangan Jeno dari pinggangnya. Bagaimanapun, membiarkan lengan Jeno melingkar di pinggangnya akan terasa seperti balas dendam yang disengaja. Karina tidak mau itu. Dia tidak butuh pengakuan. Karina membayar pesanannya di meja kasir. Seperti yang dia kira, orang itu menoleh kepadanya, dengan tatapan kaget bukan main. 

"Karina?!"

"....hai?" ucap Karina dengan senyum miringnya.

"Kamu ngapain—Ah itu nggak penting. Aku—"

"Nggak perlu, Genta. Aku duluan ya." ucap Karina dingin dan terkesan menghindar.

"Nggak. Dengerin gue dulu" Genta menahan tangan Karina. Perempuan itu jelas akan melepas paksa genggaman tangan Genta. Dia tidak ingin bertemu sahabatnya sekarang.

"Aku bilang nggak perlu. Kamu temuin aja sana temen kamu, eh atau pacar kamu? Kasihan dia nungguin sendirian" 

"Nggak, lo harus dengerin gue dulu ya, please?" Lagi-lagi tangan Genta dilepas paksa dari tangan Karina, tetapi pelakunya kali ini bukan sang pemilik tangan, tapi Jevano. "Karina bilang dia nggak mau" ucap Jeno menusuk.

Déjà vu.

Hal ini pernah terjadi. Dimana Karina lagi-lagi dilindungi oleh seseorang. Bedanya, Genta lah yang dijauhkan dari Karina.

Genta yang melihat kehadiran Jeno tentunya kaget. Sejak kapan mereka berdua jadi sedekat ini?  "Bukan urusan lo" Ucap Genta tak kalah dingin. "Karina pergi bareng saya, jadi ini urusan saya. Kamu harusnya lebih tau, kalo Karina pasti lagi nggak mau ketemu kamu dulu."

Ucapan Jeno membuat Genta melepaskan genggamannya pada Karina. Sahabatnya benci dipaksa. Sahabatnya ini benci untuk diperlakukan kasar, sahabatnya ini benci di kekang. Setelah genggaman Genta terlepas, Karina segera pergi dari toko itu. Dia segera menuju parkiran. Tapi yang dia dapat lagi-lagi hanya Genta yang mengejarnya.

"Karina!" Panggil Genta yang sedang berlari. Baiklah, Karina juga tau Genta tidak akan berhenti sampai kemauannya tercapai. "Apa?" tanya Karina ketus.

"Gue minta maaf"

"Minta maaf buat apa?" 

"Gue pergi sama Wella"

"Aku nggak masalah kamu mau pergi sama siapapun"

"Maaf gue—" tenggorokan Genta tercekat, menjadi gugup saat berbicara. "—maaf gue peluk-peluk Wella. Tapi gue berani sumpah! itu nggak kayak yang lo pikirin! tadi Wella cuma—"

ErstharaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang