31| gossip bareng?

329 63 2
                                        

Ini bukan tentang Karina yang marah karena siapa yang telah mengangkat telfon darinya. Ini tentang perasaan kecewa karena janjinya yang dilanggar. Silahkan bertanya pada setiap makhluk di dunia ini, adakah diantara mereka yang tidak  akan merasa kecewa jika ada janji yang dilanggar? adakah diantara mereka yang tidak  akan merasa kecewa saat harus menunggu dalam ketidakpastian dan berujung pada sebuah pembatalan? 

Setiap orang pasti akan merasa kecewa saat mereka sudah membuat sebuah janji dan ternyata janji itu dibatakan secara sepihak. Atau lebih parahnya lagi, janji itu hanya dilupakan, dan digantung tanpa sebuah kejelasan. Ini adalah etika dasar saat semua orang membuat janji. Jika tidak bisa, batalkan. Jika ada kendala, kabari.  Jika lupa, minta maaf dan segera beri penjelasan. Bukan hanya menghilang seakan kabur dari sebuah tanggung jawab. Apakah etika sesederhana ini tidak bisa dipenuhi, Genta...? 

Bahkan, sekarang sudah terhitung 2 hari pasca kejadian di cafe. Dimana Karina harus pulang sendirian tanpa hasil apapun. Dia bahkan menaiki ojek online sendirian. Selama dua hari itu pula Genta tidak memberi  kabar pada Karina. Memberi penjelasan, apalagi meminta maaf. 

Pelatihan ini sudah selesai. Karina  berhasil menyelesaikan program itu dengan baik. Sesuai janji Papi, sepulangnya  Karina dari acara pelatihan ini dia akan diangkat untuk bisa praktik secara langsung dalam memegang jabatan CEO. Bukan mau Karina, tapi ini mau Papinya. Lagian, sejak awal Karina juga sudah setuju akan memimpin JJS selama 6 bulan. 

Kursi dan ruangan untuk CEO memang sangat besar dan luas. Interiornya cukup mewah. Apalagi jika dilihat dari selera Papinya itu. Tetap maskulin namun memancarkan kesan elegan dan mewah. Rutinitas Karina kembali seperti semula. Bedanya, dia jadi semakin sibuk. Bisa dipastikan akan ada 3-4 rapat yang akan dia hadiri dalam sehari. Tentang kuliahnya, tenang saja, dia sedang berada di libur semester. Sehingga dia memiliki waktu  untuk berfokus pada JJS. 

Kesibukannya ini menuntut dia untuk selalu memusatkan fokusnya pada pekerjaannya.  Makan siang? ah itu adalah kenikmatan yang rasanya mustahil untuk dia  dapatkan sekarang. Rasanya, 24 jam yang ada dalam sehari tidak cukup untuk bisa menyelesaikan semua tugas-tugasnya. Sekarang Karina sedang menyusuri koridor kantor. Ketukan heels stilettonya menggema diseluruh ruangan. Ketukan itu bertempo cepat dan tegas. Menandakan bahwa dia adalah seseorang yang percaya diri dan berani. Karina berjalan menuju ruangan Papinya. mengetuk pintu yang tak kunjung dibuka. 

"...Pi?"

"Papi?"

"Pi, Karina masuk,  ya?"

Karina membuka ruangan Papinya, dan dia melihat tubuh besar laki-laki itu hanya  tersimpuh di lantai. Karina panik bukan main. Dia segera berlari dan mendekat ke Papinya.

"Papi?! Pi? Papi bisa denger Karina kan?" Karina terus menggoyangkan dan menepuk wajah Papinya dengan sedikit kencang. 

Yang dia dapat hanya anggukan lemah dari Papinya. Tubuh Papi memang  bergetar, suhunya pun terasa amat panas. Keringat-keringat sebesar biji jagung juga mulai bermunculan. Karina hendak keluar dan meminta bantuan, tapi Papinya menahan dia. 

"Nggak, Papi nggak papa. Papi cuma kecapekan." lirih Papi dengan mata yang sayu. 

"Kecapekan apanya? Karina nggak mau tau, Karina panggil dokter kantor sekarang." Ucap Karina tegas. Karina memang panik, tapi pembawaannya  masih tergolong tenang, walau tidak seperti biasanya."

"Telfon dokter pribadi Papi."

"Fine. But first, get up. Karina bantu ke sofa."

Karina membantu Papi untuk bisa berjalan dan tiduran di sofa. Demi tuhan, Karina tidak pernah melihat Papinya dalam kondisi sakit. Sejak kecil, Karina tau bahwa Papi adalah orang yang gagah dan kuat. Dia bugar dan jarang sekali tumbang karena sakit. Karina juga tidak pernah melihat Mami merawat Papi yang sakit. Karena memang setahu Karina, Papi sejarang itu untuk sakit. 

ErstharaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang