23. Saran Edric

344 16 1
                                        

(Namakamu) segera memasuki kamar dan duduk di meja belajar setelah perdebatan antara dirinya dan bunda nya. Entah keberanian dari mana dirinya bisa mengatakan ucapan itu. Apa yang harus ia lakukan kini?

Ya, ia harus nya meminta maaf bukan kepada sang bunda? Tapi-- apakah bunda nya akan memaafkannya?

(Namakamu) menghela nafas dengan kasar. Ia menyesal telah mengatakan hal seperti itu kepada bunda nya. Ia merasa bersalah telah membuat sang bunda marah.

"Apa gue harus minta maaf?" gumamnya

(Namakamu) berdiri dari duduknya namun kembali duduk.

"Sekarang? Bunda kan masih emosi"

"Besok aja. Ya, besok aja lebih baik"

Setelah memutuskan untuk meminta maaf esok hari, kini (Namakamu) memilih belajar untuk mata pelajaran besok. Namun, saat hendak mengambil sebuah buku catatan di rak atas, ia tak sengaja melirik foto keluarganya.

 Namun, saat hendak mengambil sebuah buku catatan di rak atas, ia tak sengaja melirik foto keluarganya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Foto itu diambil saat mereka berlibur ke Korea. Ketika itu dirinya masih berumur 2 tahun dan sang kakak 7 tahun. Ia tersenyum menatap foto itu yang menggambarkan kebahagiaan dalam keluarga.

(Namakamu) tersenyum sendu melihat foto itu. Air matanya pun turun tanpa permisi. Ia sangat merindukan momen masa kecilnya dulu yang penuh keceriaan.

Benar kata orang...

'Dewasa bukanlah hal yang mudah,
Waktu telah banyak berubah,
Saat kecil, kita menangis dengan suara keras,
Untuk mendapatkan apa yang kita mau...

Tapi ketika dewasa,
Kita menangis diam-diam,
Untuk melupakan apa yang kita mau.'

Ia kemudian menghapus air mata yang turun tanpa permisi dan mulai kembali fokus kepada buku di hadapannya.

Keesokan hari nya, ia memilih bangun lebih pagi dan membantu Bi Sari membuat sarapan. (Namakamu) pun sudah mengenakan seragam nya dengan rapi.

Semalam ia sudah memutuskan untuk kembali mengikuti keinginan bunda nya ini. Bukan tanpa alasan, ia sudah memikirkan semalam suntuk terkait hal ini.

Bunda nya rela menggelontorkan uang jutaan demi masa depannya menjadi seorang dokter. Meskipun bunda nya benar-benar egois, ia akan kembali mengalah demi kebahagiaan ibu kandung nya.

Ia tau mengapa Tania teramat ingin sang anak masuk kedokteran. Karna dulu, saat Tania ingin masuk kedokteran, orang tuanya tak memiliki uang lebih untuk mendukungnya. Maka dari itu, saat hidupnya kini berkecukupan, ia memasukkan sang anak menjadi seorang dokter untuk melanjutkan impiannya yang gagal.

Tok

Tok

Tok

"Bunda"

Tak ada sautan dari dalam kamar ibu nya itu. Sepertinya Tania sedang tak ingin diganggu. (Namakamu) memilih kembali ke meja makan, sebelum itu ia mengambil selembar kertas dan bolpoint.

BATAS WAKTU [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang