Mobil Mark terparkir di tepi jalan tepat di depan rumah kedua orang tuanya. Karena garasinya sudah penuh dengan beberapa mobil keluarga yang parkir disana, mau tak mau Mark memarkirkan mobilnya diluar. Mobil hitam Johnny di depannya pun seperti itu.
Berbeda dengan Mark, Gigi hanya terdiam dari tadi, dia sibuk tenggelam dengan lamunannya pada pandangan mata kosong yang terus tertuju pada dashboard mobil "babe, kenapa? ada yang kamu pikirin?" tanya Mark mengusap pelan lengan wanita itu.
Gigi mendongak dan menoleh pada Mark yang menatapnya. Dia tersenyum kecil dan menggeleng "I'm okay, don't worry"
Mark sadar ada yang sedang Gigi sembunyikan dan wanita itu sedang tidak baik baik saja, tapi mengingat kondisi mereka sekarang terlebih mood Gigi yang sepertinya sedang tidak baik, Mark memilih untuk bungkam sementara. Mark mengecup singkat bibir wanita itu lalu mengusap puncak kepalanya "tell me if you're ready"
Gigi hanya mengangguk pelan. "yuk turun, katanya lapar kan" ajak Mark.
senyum kecil itu berubah jadi kekehan "kita nih kayak pergi buat cari makan doang ya"
Mark ikut tertawa "exactly"
Suasana rumah Yeira sudah cukup rame, sanak keluarga mereka menyebar di ruang tengah yang berukuran besar itu. Keponakan keponakan Mark terlihat sibuk bermain dengan mainan yang mereka bawa, kumpulan sepupu sepupu Mark sibuk mengitari grand piano yang terletak di sudut ruang tengah, sedangkan saudara saudara Yeira berbincang bincang di sofa ada pula yang sibuk di dapur.
"eh, Mark Gigi udah dateng" sapa salah satu tante Mark dari sofa. sapaan itu berhasil mengundang perhatian disana pada pasutri muda tersebut.
Gigi tersenyum lebar, mengeratkan genggamannya pada Mark. "malam tante, om" sapa Mark.
"malam sayang, yaampun gimana kabar kalian berdua?" tanya seseorang yang lain yang menghampiri mereka.
Sedikit basa basi di ruang tengah hingga Mar mau tak mau ditarik Johnny dan sepupu sepupunya ke taman belakang yang Gigi yakini tempat mereka ngudud. Mark ngudud? oh tidak mungkin, Mark bukan tipikal cowok yang suka merokok ataupun minum. Minum sih mungkin memang minum, tapi tidak adiktif dan keseringan seperti banyak pria lainnya diluar sana. Kalau Mark diajak seperti itu, bukan berarti Mark mau ikut ngudud melainkan ada yang ingin mereka bicarakan, sesuatu yang mungkin akan Gigi tau saat mereka sudah pulang ke rumah.
Disaat Mark dibawa pergi, Gigi memilih untuk ke ruang makan dimana Yeira berada. Saat masuk ke ruang makan, dia tak hanya menemukan Yeira, ada beberapa tante Mark dan sepupu Mark disana. "eh, Gigi? Kok Mark gak bilang bilang kamu udah ada" sapa Yeira langsung berlari memeluk Gigi.
Gigi tersenyum dan membalas pelukan Yeira "anaknya tadi terlalu fokus ngobrol sama tante dan om di depan, ma"
"yaampun, dasar emang si Mark. sampai kesini bukan nyapa mamanya dulu" keluh Yeira.
Tawa Gigi meledak "maaf ya ma, ini kita bawa bolu kesukaan mama" ucap Gigi mengulurkan plastik berisi kue yang tadi mereka beli.
"astaga kamu gak perlu repot repot padahal, tapi makasih ya sayang" ucap Yeira membawa bolu itu ke bar table yang kini penuh dengan kotak makanan yang sepertinya diantar oleh para tamu.
"Gigi, gimana kabarnya? Sini duduk" titah Jina—salah satu tante Mark. Gigi mengangguk dan duduk di salah satu kursi yang kosong disana.
"kamu gimana kabarnya?" tanya Yeri—salah satu sepupu dekat Mark.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Perfect You ; Second Date II
Fiksi Penggemar; Sequel of Second Date Dunia ini lucu sekali bukan? Every woman calls out "woman support woman" and a second after they demand a perfection from other women. Where is the freaking "woman support woman" that they are calling for? Kelanjutan dari ki...
