find you

1.9K 205 36
                                        



Mark meraih koper kecilnya dari mesin mengular khusus barang barang dari bagasi Asiana airlines. Kemudian mulai bergabung dengan kerumunan orang menuju pintu kedatangan. tak ada yang menyambut atau menjemputnya kali ini, karena memang tak ada yang tau soal baliknya dia ke Jakarta. Iyap, benar, Seorang Antonio Mark memutuskan untuk pulang ke Jakarta karena ada banyak hal yang harus dia bicarakan dengan Gigi. Syukurlah, production house yang menggarap novelnya memberi libur istirahat bagi aktor juga kru selama seminggu, sehingga Mark tak perlu terburu buru untuk balik ke New York nanti.

Langkah Mark melebar mengingat sekarang sudah pukul 20.50 WIB. Dia takut ketika dia sampai, yang dia dapati malah tubuh Gigi yang sudah terlelap. Ada banyak hal penting yang ingin Mark bicarakan dengan Gigi, salah satunya tentang mereka.

Syukurlah Mark sudah memesan ojek online menuju rumahnya, jadi dia tak perlu ikut mericuh dengan para supir taksi yang terkesan memaksa saat menawarkan jasa mereka. Selama perjalanan menuju kawasan kompleksnya, batin Mark terus berdoa agar dia masih bisa bertemu dengan Gigi dan yang lebih penting Gigi mau menerimanya.

Dia tau semua ini memang terbilang terlambat, kenapa dia baru kembali setelah sebulan meninggalkan wanita itu sendirian di Jakarta? Sebulan setelah rasa kecewanya pada Gigi? dan setengah bulan setelah ia meneriaki wanitanya dengan kata kata yang tidak pantas sama sekali. tapi seperti yang Tendra katakan padanya seminggu lalu there is more time to try again. better late than never.





Kaki Mark kini sudah menapak di depan gerbang rumahnya, sama seperti hari hari biasanya kompleks mereka saat itu tak terlalu sepi. Ada suara suara anjing yang menggonggong dari rumah tetangga, suara kumpulan anak remaja yang nonkrong di depan rumah, juga suara keluarga yang sepertinya sedang kumpul besar. Mata Mark sama sekali tadk menapat keberadaan Pak Asep, sehingga akhirnya dia lah yang membuka pintu itu sendiri.

Sekarang pukul setengah 10 malam, belum waktu tidur Bi Rani sehingga pria itu berani untuk menekan bel dan bersalam. Senyum Mark mengembang saat melihat Bi Rani yang mebukakan pintu, berbeda dengan Mark, Bi Rani malah kaget dan sedikit kikuk menyambut kedatang tiba tiba Mark.

"malam Bi..."

"malam Pak, yaampun kok gak nelpon kalau bapak mau pulang"

Mark pun mulai melangkah masuk, ia menggeleng "gak perlu Bi, saya bisa naik gojek kok"

"padahal bisa dijemput sama Pak Asep"

Mark kembali menggeleng "gak papa Bi, kalau dijemput Pak Asep nanti ketahuan Gigi. yaudah saya naik dulu ya, Bi." ucapnya kemudian mulai menaiki satu persatu anak tangga.

Senyum pria itu luntur saat tak mendapat keberadaan Gigi di kamar utama, karena tak ingin cepat cepat berspekulasi Mark pun mengecek ruangan ruangan lainnya sembari menyerukan nama wanitanya. Tak ada juga, dia pun menyusul Bi Rani yang sepertinya kembali menghangatkan makanan untuk Mark. "Bi, Gigi mana ya?"

"oh? Ibu pergi Pak, sejak beberapa hari lalu" lapor Bi Rani.

Kedua alis Mark terangkat "pergi? pergi kemana? mobilnya ada di garasi kok"

"waduh maaf pak, saya gak tau ibu kemana karena ibu juga gak bilang bilang selama ini"

"Pak Asep?"

"Sejak nganter ibu dua hari lalu, Pak Asep gak datang lagi Pak" lapor BI Rani.

Mendengar info tentang kepergian Gigi yang entah kemana, Mark mendudukkan dirinya dengan lemas di kursi meja makan. Dia menyisir rambutnya kebelakang lalu menghirup nafas panjang agar tak panik. Tangannya yang bergantung begitu saja pun merogoh handphonenya kemudian mulai memasukkan nomor Gigi yang sudah dia hafal mati.

 The Perfect You ; Second Date IITempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang