[ What if Mark dan Gigi benar benar cerai dan posisinya Mark belum tau kalau Gigi hamil ]
__________
Orang orang terdekat Mark dan Gigi benar benar tak habis pikir dengan keputusan sepasang mantan kekasih itu. Sepulangnya Mark dari New York setelah menghabiskan dua bulan disana dan berpikir panjang, Mark dan Gigi memutuskan untuk cerai. Seberapa berusahanya orang orang sekitar mereka mengajak dua orang itu berbicara baik baik dengan kepala dingin sekalipun, keputusan Gigi sudah bulat. Mark tak bisa mengelak lagi, Kalau Gigi sudah bersikeras untuk cerai mau seberusaha apapun Mark mendapatkan perhatian Gigi nanti pasti semua sia sia.
Mengetahui alasan cerai mereka pun, majelis hakim mengajukan mediasi tapi langsung ditolak mentah mentah oleh Gigi. Pihak Mark saat itu sangat ingin mengusahakan berhasilnya mediasi, tapi lagi lagi semua sia sia saat pihak Gigi menentang keras pengajuan mediasi tersebut. Semua hanya akan menguras energi, pikiran, dan uang saja kalau hanya Mark yang berjuang.
Iya, seperti yang kalian tau. Mark juga manusia, dia bisa merasakan lelah dan menyerah. Walau dalam hati terdalamnya ia masih tak rela untuk berpisah dengan wanita kesayangannya itu.
Tak hanya orang orang terdekat Mark dan Gigi yang tak menyangka, dua manusia itu juga diam diam masih tak menyangka atas keputusan masing masing. Sudah sebulan lalu sejak hakim ketuk palu memutuskan mereka resmi cerai secara hukum, dan sekarang mereka hidup dengan dunia mereka masing masing. Mark yang lebih sering mengurung diri di kamarnya yang super besar berhias rak rak tinggi itu, sedangkan Gigi yang kembali menyibukkan dirinya dengan mengambil banyak pesanan klien kali ini.
Hingga semua langsung berubah saat Mark tau kabar kehamilan Gigi dari Juan dan Karina. Dirinya seperti disiram oleh rasa menyesal seketika. Saking menyesalnya dia, tangannya sampai bergetar hebat hingga tak mampu untuk mengemudi mobilnya sendiri ke rumah eyang—rumah mereka yang dulu—untuk menghampiri sosok Gigi.
"makasih ya Pak" ucap Mark pada sosok supir pengemudi ojek online yang ia gunakan jasanya malam itu.
Dengan kaki lemas dan napas yang sedikit tersendat sendat, ia memencet bel rumah besar tersebut. Dia ingin melihat Gigi, dia ingin melihat wanita itu, ingin memeluk wanita itu, ingin menghapus semua rindu walau raganya tenggelam dalam lautan penyesalan.
Ia tahu, ini memang kemauan Gigi, secara logika harusnya Gigi lah yang merasa menyesal. Tapi tidak untuk Mark, dia malah sibuk merutuki dirinya, menyesal karena saat itu tak lagi memperjuangkan sosok Gigi. Padahal ia tau kemungkinan mereka damai akan lebih besar bila ia berusaha saat itu.
Tak ada yang membukakan pintu untuknya, Mark pun menerobos masuk melalui pintu belakang dekat kolam yang tak pernah dikunci. Dengan melangkahi beberapa anak tangga sekaligus, ia berjalan cepat menuju kamar utama—yang dulu mereka tempati bersama.
Mark refleks menghembuskan nafas lega saat pintu itu tak terkunci, ia langsung masuk, mencari sosok Gigi didalam kamar tersebut. Melihat pintu kamar mandi yang terbuka lebar, tanpa ragu Mark masuk kesana.
"Gi?" matanya seketika melebar mendapati Gigi duduk lemas dengan tangan yang menumpu diatas kloset serta kepalanya yang bersandar lemas di tangannya. Tubuh bagian bawahnya pun basah karena air keran yang terus menyala, mata wanita itu sayu, deru nafasnya sedikit terburu buru, dengan make up yang berantakan juga rambut yang tak lagi lurus sepenuhnya.
She looks so messed up.
Dengan cepat Mark menghampiri tubuh lemas itu, mematikan keran, dan mendekati tubuh Gigi. "hey, Gi" mata khawatirnya menatap wajah penuh peluh itu. Tangan Mark langsung menyingkirkan anak rambut Gigi yang menutupi wajahnya, menyampirkannya ke belakang daun telinga wanita itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Perfect You ; Second Date II
Fanfiction; Sequel of Second Date Dunia ini lucu sekali bukan? Every woman calls out "woman support woman" and a second after they demand a perfection from other women. Where is the freaking "woman support woman" that they are calling for? Kelanjutan dari ki...
