Gigi masih juga belum memberikan jawabannya tentang pembicaraan dia dan Mark seminggu lalu. Dirinya masih terlalu bimbang dengan jawaban yang kini muncul di libuk hatinya, jawaban "iya" seperti dikarungi ragu dan terus menimbulkan pertanyaan buatnya. Hingga akhirnya dia mengikuti saran Karina.
Mengunjungi yayasan dan bertemu dengan anak anak disana. Walau sebenarnya dia takut, takut harus mengetahui alasan dibalik mereka tinggal disana. its triggering her.
Senyum Gigi mengembang memerhatikan anak anak yang kini sibuk istirahat siang sambil bermain di lapangan, ada pula yang hanya duduk bercengkrama menikmati bungkusan cemilan di koridor yayasan, karena Gigi sempat mengintip sedikit, netranya juga menemukan beberapa dari mereka yang memilih tinggal di kelas hanya untuk membaca atau menulis. Seperti sekolah, tapi khusus untuk anak anak seperti mereka, anak anak yang pasti punya trauma sama besarnya dengan Gigi. Anak anak yang dilahirkan di kehidupan yang bukan mereka inginkan.
Setelah melewati beberapa tikungan dan perempatan, Gigi kini sudah duduk tenang di dalam ruangan staff, khusunya ruangan dengan papan nama Bu Christy di depan pintu. Aroma coklat dan dingin memenuhi rongga penciumannya, membuat siapapun nyaman dan mampu berlama lama diruangan kecil ini.
Kepala Gigi mendongak, mengitari ruangan kecil tersebut. Satu sisi dindingnya dipenuhi sertifikat sertifikat berbingkai, juga beberapa foto wanita paruh bayah tersebut dengan kumpulan anak disini. Tak lupa ada satu salib sedang yang bergantung ditengah kumpulan bingkai hitam putih itu. Meja dengan tumpukan dokumen, guci di sudut ruangan, serta satu rak berwarna senada dengan meja yang ada disamping guci itu.
"tante Gigi?" suara nyaring itu terdengar bersamaan dengan esksitensi seorang gadis yang Mark dan Gigi temui beberapa waktu lalu. Disusul dengan Bu Christy yang berjalan melewati gadis itu.
Gigi menoleh pada sumber suara, dia tersenyum lalu langsung bertekuk lutut dan memeluk Martha. "hai sayang, how are you?"
"good, and tante?"
"I'm good, very good"
"nah, Martha, ini tante Gigi istrinya Om Mark. Dia kesini mau ngajak kamu jalan jalan katanya" ucap Bu Christy setelah mendudukkan dirinya di kursi hitam kulit itu.
Mendengar itu, mata Martha langsung dipenuhi binar binar bahagia, garis garis wajahnya terangkat menunjukkan kegirangan gadis tersebut. "beneran, tante?"
Gigi mengangguk tak kalah antuasias. "iya dong"
___________________
Dua orang itu kini sibuk mengelilingi PIM, Gigi dengan kaki yang teralasakan wedges setinggi 5 cmnya dan Martha dengan black converse yang katanya dihadiahkan Mark. Baru baru ini Martha menemani Gigi untuk pergi belanja baju di cotton ink, hunting make up di sociolla, bahkan singgah mengantre baskin robbins untuk beberapa saat. Mungkin kalau Gigi jalan sama Mark sekarang, pria itu bisa saja sudah mengeluarkan pertanyaan andalannya "kamu gak capek jalan apa? using a 5cm wedges and walking aroun the mall for hours even all day long, beneran gak capek?" dan akan berakhir Gigi mengalah ikut menemani Mark duduk sejenak menikmati es teler di Es Teler 77.
"Kamu gak capek, Matta?" tanya Gigi menoleh pada gadis berambut coklat tua disampingnya.
Alih alih mengeluh, Martha malah menggeleng kuat. Senyum antusiasnya masih saja terpampang di wajah mungil dan menggemaskan itu. "kalau sama suami tante pasti gak bakal selama ini jalannya, jadinya aku cuman tau beberapa bagian mall aja" jelasnya.
Gigi terkikik, dia mengangguk paham apa yang Martha rasakan. "I see, I feel it too"
"tuh kan" lalu keduanya tertawa. Kemudian topiknya malah meluas membicarakan kebiasaan Mark yang dari sudut pandang Matta.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Perfect You ; Second Date II
Fanfiction; Sequel of Second Date Dunia ini lucu sekali bukan? Every woman calls out "woman support woman" and a second after they demand a perfection from other women. Where is the freaking "woman support woman" that they are calling for? Kelanjutan dari ki...
