Tak terasa, sepasang suami istri itu sudah menghabiskan sekitar sebulanan lebih di New York. Dari New York yang belum bersalju hingga hari ini butiran putih itu mulai jatuh memenuhi New York. Selama sebulanan lebih di New York, Mark selalu menyempatkan waktunya untuk menemani Gigi, walau sekadar mendekam di apartement sambil menonton entah-series-netflix-apa di tv, atau pun berjalan jalan mengelilingi New York hanya untuk mencari tempat makan baru. Satu yang Mark syukuri, Gigi tak pernah ngidam yang aneh aneh seperti ingin makan makanan Indonesia yang susah dicari di New York
Sekarang, hari sabtu. Mark menghabiskan waktunya membaca novel baru yang dia beli beberapa hari lalu sambil menyesap earl grey tea yang dibuatkan Gigi tadi. Sedangkan Gigi sepertinya sedang sibuk membuat sesuatu di dapur sana——Mark tidak tau karena dia membaca di dalam kamar.
"AAAAAAAAAA!" tiba tiba teriakan Gigi memecah keheningan di apartement mereka. Teriakan Gigi sontak membuat Mark beranjak dan menyusul Gigi ketempatnya.
"babe? what happeneeed?" tanya Mark saat menemukan Gigi di sudut ruang tengah.
Gigi berbalik dengan muka terkejut. "markieeee..." ucapnya dengan wajah cemberutnya.
Mata Mark melihat apa yang Gigi lakukan, wanita itu kini berdiri di atas timbangan berat badan. Refleks Mark menghembuskan nafas panjangnya. "astaga, Gigi...." respon Mark seakan tau apa yang menyebabkan Gigi berteriak di pagi mendung seperti ini.
"Markie.... berat ku 58kg..." lirihnya.
"HUAAAAA! gak gak, harusnya gak sebe——"
"babe, calm down okay? take it easy" titah Mark perlahan mendekati tubuh Gigi.
"inhale, exhale, inhale, exhale, repeat it" tuntun Mark dnegan menaik turunkan kedua tangannya di depan dada perlahan.
"its okay, okay? its normal" ucap Mark kemudian membawa tubuh Gigi menyingkir dari timbangan berat badan itu ke sofa ruang tengah.
"aku gede banget markieee" keluhnya.
"as what I said before, its normal, okay? dokter Hailey juga bilang gitu kan? its normal, you don't need to think about it" ucap Mark lalu menenangkan Gigi. Alih alih memarahi Gigi, Mark malah menyalahkan dirinya sendiri karena tak menyembunyikan benda pipih digital itu. Harusnya itu tergeletak di bawah ranjang mereka, tapi karena kemarin Mark lupa memasukkannya kembali setelah menimbang beratnya. Alhasil, Gigi melihat timbangan itu lalu menimbang dirinya. Padahal timbangan adalah benda yang dilarang keras muncul di hadapan Gigi selama wanita itu hamil. Karena, ya hal seperti ini yang pasti terjadi.
"kamu tetap bakal suka aku kan? walaupun aku 70kg nanti?" tanya Gigi.
Mark terkekeh karena wajah menggemakaskan Gigi. "iya, Gisella. Iyaaa, I will still love you" ungkap Mark. Satu perubahan yang baru saja Mark sadar adalah, setelah bersama Gigi, ia lebih mudah mengatakan I love you, lebih mudah mengekspresikan rasanya dibanding sebelum dia bersama Gigi.
"janji?"
"janji, sayaaaang"
"pinky promise?" jari kelingking Gigi terangkat di depan wajah Mark.
Mark yang melihat itu kembali terkekeh karena tingkah menggemaskan Gigi. "janji" balas Mark. Namun bukannya mengaitkan kelingkingnya pada milik Gigi, Pria berkacamata itu malah dengan jahilnya mengecup bibir Gigi cukup lama.
"ish, kan pinky promise bukan kissing promise" sungut Gigi.
"kalau gitu aku gak bisa jamin kamu bener bener janji" sambungnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Perfect You ; Second Date II
Fanfiction; Sequel of Second Date Dunia ini lucu sekali bukan? Every woman calls out "woman support woman" and a second after they demand a perfection from other women. Where is the freaking "woman support woman" that they are calling for? Kelanjutan dari ki...
