Paginya, dengan mata yang bengkak Gigi menuruni tangga untuk pergi kerja. Di ruang tengah dia mendapati Mark tengah menyantap semangkok sereal stars sambil menikmati tontonan pagi di tv. "Kamu gak ngantor?" Gigi memberanikan diri untuk bertanya.
Namun Mark tak menjawab sama sekali. Dia malah meneruskan tontonannya dan berlagak seakan Gigi tak ada disana. Gigi menggigit bibir bawahnya, tak tau kalau Mark akan semarah ini sampai mendiami dirinya. Karena biasanya kalau malamnya mereka bertengkar, paginya Mark akan berkelakuan seperti tak terjadi apa apa semalam. Tapi kali ini, dia sampai mengabaikan Gigi.
Tak ingin menyerah, Gigi menghampir Mark Dia duduk disamping tubuh pria itu, meraih pergelangan tangannya yang memegang remote tv begitu erat. "Mark, I'm sorry for last night. Please..." harap Gigi memerhatikan side profile Mark yang begitu serius menonton berita yang terputar bukannya menjawab, malah menarik tangannya kasar dari genggaman Gigi. Dia berdiri meraih mangkok serealnya tanpa menoleh sedikitpun pada wanita tersebut. Semua itu membuat Gigi semakin sakit hati tapi juga merasa bersalah. Tak kenal lelah, Gigi malah ikut berdiri dan mengikuti Mark ke dapur.
"Mark...." panggil Gigi.
Dia terus menerus memanggil pria itu, hingga panggilannya tersela saat netranya terjatuh pada tangan kanan Mark yang penuh luka luka yang belum sepenuhnya kering.
Dengan cepat wanita itu berjalan menyusul Mark, menarik tangannya dan memerhatikan telapak tangan Mark penuh darah kering juga beberapa luka terbuka yang masih agak basah. Mulutnya membulat kaget kalau apa yang Mark lakukan semalam bisa separah itu. Dia mendongak menatap Mark meminta penjelasan. "Ini kenapa? Ayo ki——"
"Fuck off, Gi"
"Mark, tunggu biar aku ob——"
"Ini bukan urusan kamu. Udahlah kamu ke butik aja sana" Mark menghempaskan tangan Gigi yang menahannya, kemudian melangkah lebar ke lantai atas menjauhi Gigi.
Gigi tertegun mendengar lagi lagi Mark mengatainya, mengusirnya dengan kata kasar. Alih alih kesal dirinya malah semakin bersalah dan paham kalau Mark benar benar marah.
Oke, mungkin memang bukan waktu yang tepat bagi mereka untuk bicara sekarang. Mark masih tersulut emosi, begitu pula dirinya yang bisa tiba tiba meledak. Karena takut terlambat meeting dengan klien langganannya, Gigi pun memutuskan untuk pergi membiarkan Mark. Dia masih punya banyak waktu untuk berdamai dengan pria itu, sekalian menunggu mereka sama sama berkepala dingin.
"Its okay Gi, nanti juga dia pasti bakal ngerti kok" monolog Gigi sambil memeras kemudi mobil mencoba meyakinkan dirinya bahwa hubungannya dengan Mark akan baik baik saja.
__________________
Mark meringis saat Johnny membersihkan lukanya dengan alkohol. "Sakit anjir" maki Mark ingin sekali menarik tangannya dari kekangan Johnny.
"Elo sih ada ada aja sampai luka gini" seru Johnny kini mulai melilit tangan Mark dengan kain kassa.
"Lo abis mukulin Gigi kah?" Johnny mendongak menatap iba adiknya.
Mark tergelak "gak mungkin lah, gue gak sebejat itu main kasar sama cewek"
"Tapi kalian lagi berantem kan?" Tanya Johnny menempelkan beberapa perban di kain kasa tangan Mark.
Pria berkacamata itu hanya mengangguk pelan
"Jangan terlalu keras sama istri lo Mark, dia juga pasti stress ngadepin semuanya, dia pasti tertekan setelah apa yang terjadi setahun lalu" urai Johnny membela Gigi.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Perfect You ; Second Date II
أدب الهواة; Sequel of Second Date Dunia ini lucu sekali bukan? Every woman calls out "woman support woman" and a second after they demand a perfection from other women. Where is the freaking "woman support woman" that they are calling for? Kelanjutan dari ki...
