Selama seminggu ini, sepasang suami istri itu benar benar saling mendiami. Tak ada komunikasi yang terbangun, tak ada perbincangan sama sekali, bahkan sekadar sapa menyapa. Mereka berdua benar benar berlagak layaknya orang asing yang tak pernah bertemu, dua orang asing yang hidup di dunia berbeda. Bi Rani yang melihat kedua majikannya hanya bisa diam, ingin sekali dia bersuara memberikan mereka saran dari sudut pandang orangtua, tapi Bi Rani takut ia malah terkesan ikut campur dan memperkeruh suasana.
Bi Rani yang tengah menghangatkan makan malam keluar dari dapur saat mendengar suara lantai yang bertemu dengan alas sandal. Mata tua yang sedikit buram itu melihat Mark——majikannya——tengah menuruni tangga dengan koper hitam besar di sisi kirinya. "Bapak makan malam dulu, Saya masak makanan udang kesukaan bapak sama ibu" tawar Bi Rani.
Mark mengangkat pandangannya dan tersenyum pada Bi Rani, "oh ya? wah udah lama gak makan udang" jawab Mark. Iya, memang dua orang itu berantem dan saling diam seminggu ini, tapi bukan berarti mereka tega memperlakukan Bi Rani seperti itu.
Hingga tiba tiba pintu pagar terbuka, terdengar klakson mobil yang Mark dan Bi Rani kenal adalah mobil Gigi. "Eh? ibu juga datang. Makan malamnya mu——"
"hm, kayaknya saya makan di bandara aja deh Bi, ternyata jadwal check in nya mepet kalau gak berangkat sekarang" potong Mark.
"eh? padahal udangnya cukup porsi kalian loh"
Mark tersenyum dan menggeleng pelan "biar Gigi aja yang makan Bi, belakangan ini saya lihat makannya juga banyak" ujar Mark kemudian kembali menarik kopernya ke ruang tamu.
____________________
Gigi merenggangkan tubuhnya sesaat setelah dia masuk ke rumah. Entah mengapa beberapa hari ini dia merasa begitu cepat lelah, padahal dia melakukan hal yang sama terus menerus. Hanya duduk di balik meja design di ruangannya, ikut melayani beberapa client VIP, juga meeting bersama client nya yang pasti tak jauh dari sekitar butik. Untuk turun ke toko kain pun dia memilih menyuruh asistennya. Selain itu dia yang biasanya mampu seharian menggunakan wedges juga heels atau stiletto kini tak lagi mampu, hinga dua hari kemarin sampai sekarang kakinya hanya menggunakan nike air jordan yang couple-an sama punya Mark. "gue udah tua banget kali ya" monolog Gigi sembari meletakkan sepatunya di rak.
Saat mendongak, netranya mendapati Mark tengah berjalan ke ruang tamu dengan koper hitam besar miliknya. Awalnya dia menaikkan kedua alisnya bingung akan kemana pria itu, hingga dia teringat bahwa Mark akan pergi jauh lagi. Ke New York. Kesannya kabur dari masalah ya?
Pria berkacamata itu sudah dengan kaus oblong putih yang dilapisi bomber jacket hitam serta jeans hitam yang juga nike jordan yang sama dengan yang Gigi gunakan. Tak pernah lupa baseball cap hitam kesukaan pria itu yang menutupi rambutnya. Dibalik tubuh tinggi Mark, ada Bi Rani yang mengikuti pria tersebut dengan sedikit tergopoh gopoh.
"Pak, Makan dulu atuh" pinta Bi Rani.
"atau mau saya bungkusin terus makan di ruang tunggu?" tawar Bi Rani lagi.
Gigi yang sepertinya paham keadaan disana hanya bisa menghembuskan nafas panjangnya lalu berjalan melewati Mark. Sebenarnya dia ingin berdiam disana, memerhatikan kepergian pria itu secara dekat, berharap masih bisa mendapatkan ciuman perpisahan atau sekadar pelukan hangat. Tapi mengingat betapa kasarnya perkataan Mark kala itu, Gigi mengurungkan niatnya. Setiap mengingat pertengkarang mereka tempo hari, rasa sakit dan perih itu kembali muncul. Membuat dia semakin yakin untuk cerai dengannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Perfect You ; Second Date II
Fanfiction; Sequel of Second Date Dunia ini lucu sekali bukan? Every woman calls out "woman support woman" and a second after they demand a perfection from other women. Where is the freaking "woman support woman" that they are calling for? Kelanjutan dari ki...
