Malam itu, malam ulang tahun Antonio——Papa Mark——dan Yeira mengadakan acara makan malah berdalih ulang tahun Atonio. Sebenarnya kalau Gigi bisa memilih opsi untuk tida pergi pasti sekarang dia ada di butiknya menjahit beberapa payet bagian pinggang kliennya diiringi lagu lagu Adele. Cuman kalau tidak pergi, pasti Yeira kecewa dan akan mencecar Mark dengan berbagai pertanyaan. Sedangkan suaminya sama sekali tak jago berbohong. Lagipula ini hari spesial bagi keluarga mereka, maksudnya keluarga besar mereka. Hari ini ulang tahun Antonio, mungkin kalau ini ulang tahun tantenya Mark ataupun Yeri, Gigi tidak mungkin terpaksa ikut.
Mobil Mark berhenti tepat di jejeran mobil yang terparkir di depan rumah Antonio. Tiba tiba ada yang mengetuk di kaca jendela Mark, mau tak mau pria berambut hitam legam itu menurunkan kaca mobilnya. Tampilah wajah Pak Cahyo dengan kumis tipis dibawah hidungnya muncul tepat disebelah Mark.
"kenapa pak?"
"masih ada tempat buat mobil kamu, Mark" lapor Pak Zedan, supir keluarga yang sepertinya malam ini sedang berjaga diluar atau ngobrol ngobrol singkat sama keluarga Mark yang duduk di teras.
"ah, gapapa Pak. suruh mobil lain aja yang masuk. mobil saya biar disini saja" tolak Mark lembut.
Setelah kepergian Pak Zedan, Gigi bersuara "tumben"
"ya, kalau parkir disini kita bisa pergi cepet cepet, kalau didalam bisa kehalang mobil lain" jelas Mark lalu melepas seatbelt nya sambil menatap Gigi yang juga melakukan hal yang sama.
Seraya Gigi memperbaiki helaian helaian rambutnya di cermin mobil, Mark sama sekali tak melepaskan pandangannya dari wanita itu. "kamu tuh kok cantik banget ya?"
nyes... rasanya bibir Gigi ingin tersenyum sekarang juga, tapi mengingat dia yang masih perang dingin dengan Mark, wanita itu berusaha sekuat mungkin untuk menahan kedua sudut bibirnya melengkung ke atas. Seketika perutnya dipenuhi kupu kupu yang menggelitik, pipinya memanas dengan yakin semburat merah semakin kentara disana. Setahun menikah sama Mark, dia masih sering salting just because he called her pretty or beautiful.
"senyum aja kalau mau senyum, senyum kamu cantik kok" puji Mark lagi.
Karena sudah tak tahan, Gigi mendengus, dia menoleh pada Mark dan menatapnya kesal. Melihat ekspresi kesal Gigi, Mark bukannya takut melainkan terkekeh.
cup~ he kiss her lips, giving her a light kiss in the dark of their car. "I love you, pretty G." puji Mark
"I'm sorry, I know we are not in situation to kissing, but I can't handle it anymore."
"'cause you look so damn pretty everytime, everyday, and every night" aku Mark tersenyum singkat.
Gigi membisu, dia sedikit kaget tiba tiba Mark memujinya sepanjang itu. Sebenarnya itu sudah hal biasa, tapi—tapi siapa yang bisa duga dia akan melakukan itu di depan rumah orang tuanya, disaat orang orang didalam sana jelas menunggu kedatangan mereka. A light kiss in the dark of their car, when they are actually not fine, are in a cold war, even sleeping in different rooms.
Hingga, Mark mendekat, mengikis jarak diantara mereka, menarik pelan tengkuk Gigi untuk bergerak kearahnya, memejamkan matanya, dan berakhir mendaratkan bibirnya diatas bibir Gigi yang baru saja dia pooles lipbalm. Gigi kaget bukan main, tapi alih alih mendorong mark, dia ikut memejamkan matanya, menikmati setiap sentuhan lembut Mark.
Kecupan panjang itu tak berlangsung lama, Mark sudah menarik dirinya kembali, menyudahinya dengan satu kecupan di puncak kepala. Dia menangkup kedua pipi Gigi, mendekatkan wajah mereka sehingga setiap hembusan nafas hangat itu saling terasa di kulit masing masing.
"bilang ke aku kalau kamu gak nyaman ya disana, bilang ke aku kalau kamu mau pulang" lirih Mark.
Dan tanpa Gigi mau, ia mengangguk pelan mengiyakan permintaan Mark.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Perfect You ; Second Date II
Fanfiction; Sequel of Second Date Dunia ini lucu sekali bukan? Every woman calls out "woman support woman" and a second after they demand a perfection from other women. Where is the freaking "woman support woman" that they are calling for? Kelanjutan dari ki...
