Gigi menghembuskan nafas panjangnya saat melihat sinar matahari yang mulai perlahan mengintip dari sela sela tirai tebal dikamarnya. Sekarang pukul 5 pagi, biasanya dia belum terjaga di jam seperti ini. Namun beda untuk hari ini, sejak semalam dia sama sekali tak bisa terlelap, perasaannya benar benar tidak enak. Sudah banyak cara dia lakukan agar bisa tidur, nonton video dokumentasi natinal geography atau netflix, baca a boring fictional books, memenuhi gendang telinganya dengan lagu lagu klasik, bahkan memaksa kelopak matanya untuk tertutup. Namun, tak ada satu pun yang berhasil. Padahal biasanya cukup degan mendengarkan alunan piano saja sudah bisa mengantarnya ke alam mimpi.
"what happen with you Gisella?" monolog Gigi sambil melihat langit langit kamarnya yang remang remang itu.
Hingga pikirannya teralihkan saat handphone ditangan kanannya bergetar dan berdering. Karena penasaran siapa yang menelponnya sepagi ini, wanita itu pun segera menatap handphonenya. Ia mengernyitkan dahinya saat melihat template telpon ios yang menampilkan kontak *Rosie——*istri Jeffry——disana.
Karena takut itu hal yang darurat, wanita itu pun langsung menggeser ikon hijau disana. Kemudian menempelkannya ditelinga.
"morning pretty" terdengar suara lembut Rosie yang menyapanya.
Senyum Gigi mengembang, "pagi kak, kenapa nelpon?"
"are you okay?" Gigi tertegun saat mendengar pertanyaan tanpa basa basi milik Rosie. Dia menelan salivanya mencoba mencari jawaban yang pas untuk pertanyaan itu.
"hey pretty, kenapa masih diam? ada yang mau kamu cerita?" tanya Rosie tak menyerah.
Gigi menggigit bibir bawahnya, entah kenapa mendengar orang yang menanyakan keadaannya membuat Gigi ingin menangis.
"Gi, are you th——kenapa? dia ga ngejawab?" pertanyaan Rosie dipotong dengan suara Jeffry diseberang sana.
"gak, tidur kali anaknya" balas Rosie pada Jeffry.
"gak mungkin, coba tanya lagi Ci" pinta Jeffry.
Karena hening yang tiba tiba muncul setelah permintaan Jeffry. Mungkin terjadi sedikit perdebatan diseberang sana, sehingga Rosie harus membisukan percakapan mereka.
Tak lama kemudian, suara Rosie kembali terdengar di gendang telinga Gigi. "Gi, kamu gak papa kan? Jeffry bilang mungkin kamu belum tidur"
Tepat setelah Rosie menyelesaikan kata katanya, tangis Gigi pecah. Mendengar isakan iparnya itu, Rosie segera menjauh dari Jeffry yang sebenarnya sedari tadi mendengar perbincangan mereka. Dia pergi ke teras dan kembali menanyakan keadaan Gigi.
"Gigi, kalau ada yang mau diceritaiin, cerita aja ya" timpal Rosie.
"kak..."
"iya pretty?"
"aku ngerasa gak enak badan, pengen tidur" keluh Gigi dengan suara paraunya karena menangis.
"Suami kamu mana?"
Bukannya mereda, tangisan Gigi malah semakin menjadi. Sehingga membuat Rosie panik karena merasa salah omong. "Gi——"
"Marknya pergi, aku sendirian" jawabnya di sela sela isakannya.
Rosie menghembuskan nafasnya, "okei, sekarang kamu ngerasa gak enak badan?"
"iya.."
"coba minum paracetamol, Gi. Biasanya kalau minum itu jadi enakan badan dan kepengen tidur mulu" pinta Rosie.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Perfect You ; Second Date II
Fanfiction; Sequel of Second Date Dunia ini lucu sekali bukan? Every woman calls out "woman support woman" and a second after they demand a perfection from other women. Where is the freaking "woman support woman" that they are calling for? Kelanjutan dari ki...
