6.🍌

40 3 2
                                        

Hari-hari berlalu, Daisy masih ditempat untuk langkah pertama menarik perhatian Joe yaitu dengan memberikan kotak bekel di Pagi hari.

Meski Daisy tidak tahu apakah kotak bekel yang diberikan dimakan oleh Joe atau tidak. Tetapi Daisy nyakin jika memamg dimakan sebab saat pulang kotak selalu kosong tidak tersisa.

"Ayo cepetan keburu kebelit nih!" Matahari menarik tangan Daisy dengan tidak sabaran.

"Ini dimasukin dulu," ucap Daisy memasukan bukunya dan buku Matahari di kolong meja tapi malah diletakkan kembali.

"Udah nanti aja beresinnya. Kalau ada yang ilang ngomong aja sama gue, palingan dicolong temen kelas sendiri," ucap Matahari tidak mau dibantah lagi.

Daisy pasrah saja diseret bagai anak kecil. Mungkim capek menyeret Daisy, Matahari melepaskannya dan berlari kecil ke kamar mandi sedangkan Daisy memgikutinya dengan santai.

Saat di dekat kelas kak Joe, Daisy berhenti untuk melihat laki-laki pujaan hatinya. Senyum di bibirnya luntur tak kala melihat tempat duduk Joe yang berbeda setelah pandangan pertama mereka.

Daisy juga melihat kotak bekelnya sedang dipegang oleh salah satu siswa. Memakan tanpa dosa bersama teman satunya lagi.

"Jadi selama ini bukan kak joe yang makan?" Tanya Daisy pada diri sendiri.

Berasa diperhatikan dan samar-samar mendengar suara dari luar meski dibilang mustahil. Joe menoleh hingga mata mereka beradu kembali.

Joe lebih memilih mengakhiri setelah tiga detik saja. Mengabaikan kehadiran Daisy yang menurutnya tidak ada sangkut pautnya dengannya.

Berfikir mungkin sedang melihat orang lain meski sadar arah matanya tepat mengenainya.

Daisy tentu saja sedikit kecewa melihat. "Gue kira lo ketinggalan eh malah matung disini," kata Matahari mengalihkan perhatiannya.

Daisy tersenyum tipis, "tidak sengaja lihat kak Joe. Jadi lupa ngikutin kamu," jujurnya merasa tidak enak hati.

"Lo masih suka sama kak Joe?" Tanya Matahari sambil menggiring Daisy pergi dengan merangkul bahunya.

"Suka wajahnya tapi suka juga sama orangnya. Makin kesini Daisy terasa ke sana," Matahari menyergit saat Daisy terkekeh kecil.

"Jadi lo beneran suka sama dia?" Tanyanya memastikan. "Maybe, belum tahu kalau sekarang,"

Daisy duduk di kursinya bersamaan dengan Matahari. "Tadi Daisy lihat ternyata kotak bekelnya tidak di makan kak Joe tapi temannya dan tempat duduk kak Joe juga ganti," cerita sedikit lesuh.

"Trus?"

"Tidak tahu. Daisy kira kamu mau menyumbangkan ide," ucapnya terlihat sedih saat menatap Matahari.

"Tapi sebelum itu, setelah lo tahu makanan yang lo bawa untuk kak Joe bakal trus lo lakuin atau ngak?" Tanya Matahari memastikan.

"Bakal kadang mungkin." Daisy mendengus kecil. Terasa lelah padahal masih satu langkah pertama.

"Ini sedikit mempermalukan diri sih, tapi gue nyakin bisa menarik perhatiannya kak Joe," ucapnya membuat Daisy tersenyum cerah.

"Katakan." titah Daisy.

Matahari membisikkan sesuatu pada Daisy tentang idenya. Sedetik kemudian wajah Daisy berubah sedih lagi.

"Takut. Bukannya dapat perhatian dari kak Joe malah satu sekolah," ucap Daisy kurang setuju dengan ide Matahari.

"Tapi kalau lo ngelakuin ini, itu tandanya lo berani mengungkapkan rasa setiap hari. Mungkin orang bakal nganggap lo segila-gilanya,"

"Lo juga tahu kan banyak cewek brutal disini yang mau menarik perhatian kak Joe. Jangan sampai kak Joe noleh ke cewek lain atau lo kagak bisa dapetin dia." Beber Matahari membuat Daisy frustasi memikirkannya.

"Awalnya cuma suka lihat wajahnya tapi kenapa jadi serumit ini sih!?" Batin Daisy.

Diam-diam Matahari terkekeh melihat wajah frustasi Daisy. Matahari bisa membayangkan wajah terkejut Joe atau wajah menahan malu dari Daisy.

æ

Jantung Daisy berdebar-bedar setiap langkah menuju kelas Joe. Berjalan sendiri sebab Matahari harus pulang duluhan. Katanya ibunya mengajaknya memberi beberapa barang.

Kelas Joe sudah terlihat yang menambah debaran dihati Daisy. Demi menarik perhatian Joe, apakah harus mempermalukan diri?

Banyak yang sudah keluar kelas, namun Joe terlihat masih duduk tenang di kursinya. Hingga sisa bisa hitungan tangan, Joe beranjak dari kelas.

"K-ka-kak j-jo-joe!" Gagapnya membuat Joe menoleh dan menyerongkan tubuhnya. Satu alis terangkat tanda menunggu Daisy mengapa memanggilnya.

Daisy mendekat dengan tubuh bergetar dan itu diteliti detail oleh Joe. Daisy diam sambil menatao nafasnya yang terus berpacu tidak sabaran.

Daisy ingin mendongak tapi melohat jakun Joe yang terlohat besar dan mencolok membuatnya diirungkan.

"Su-sukak!"

Daisy mengucapkanya dengan cepat dan jelas. Kemudian lari menutup wajahnya yang terasa begitu panas apalagi bagian pipinya.

Sedangkan Joe diam. Hingga sekian detik melangkah kembali tanpa memikirkan ucapan ambigu Daisy.

Meski tahu makna gadis itu, Joe bersikap abai saja. Berjalan dengan wajah cool miliknya.

Daisy bersembunyi di tikungan lorong kelas. Dadanya semakin tidak bisa di kendalikan lagi. Baru ngomong saja bisa seperti ini dampaknya apalagi bersama selamanya.

Ide dari Matahari adalah mengucapkan satu kata 'sukak' pada Joe selepas pelajaran di sekolah berakhir. Dengan bodohnha Daisy menurutinya saja karena takut diambil orang.

Ini adalah langkah kedua Daisy.

Setelah hampir lima belas menit Daisy bersembunyi, akhirnya Daisy keluar dan kembali ke kelas Joe untuk mengambil kotak bekelnya.

Saat mengambil ternyata ada surat kecil yang tertempel diatasnya.

'Ngk ush ngsh lg!'

Sedikit kecewa tapi tidak apa, bukankah itu namanya lebih meringankan pekerjaannya. Lagi pula sekarang Daisy hanya perlu mengungkap satu kata di setiap akhir kelas.

æ

Joe membuka pintu apartemennya dan melihat satu sahabatnya sedang enak-enakan duduk  didepan televisi dengan makanan ditangan kirinya.

Dia menoleh layakanya orang tua menunggu anaknya pulang dari sekolah. "Udah pulang?" Joe mengangguk singkat.

Joe meninggalkannya untuk mandi sore. Membiarkan sahabatnya berbuat semaunya asalkan pergi dari sini harus rapi seperti semula.

Setelah selesai mandi, Joe mengeluarkan buku dari tasnya. Mencacat dalam kertas kecil yang akan ditempelkan di mading besar miliknya.

Sudah menjadi kebiasaannya sejak TK Joe selalu mencatat paling penting dalam pelajaran. Jika memang penting semua, akan dirangkum dalam buku Binder bersampul coklat tua.

Asiknya menulis kesimpulan, Joe teringat dengan perkataan lembut dari gadis yang memanggilnya tadi. Meski gagap saat mengucapkannya tapi Joe masih bisa mengetahui jika dia memiliki suara lembut bak sutra.

Senyum yang begitu tipis keluar dari sudut bibirnya. Meski terlihat biasa ada rasa tertarik di hatinya.

Joe memang anak yang terbilang sangat pendiam yang membuatnya jarang didekati teman laki-lakinya. Jika cewek sudah pasti hanya mengincar wajah langkanya ini.

Mungkin hanya ada 1 dari 3. Memiliki wajah murni tanpa campur tangan dokter kecantikan adalah sebuah kebanggaan tersendiri baginya karena mudah memikat hati.

Meski begitu jangan salah jika dulu ada seorang laki-laki yang menyukainya. Hingga Joe memutuskan orang untuk membunuh orang itu.

Joe normal meski tidak berbaur laki-laki atau perempuan. Jika ada yang mengganggunya khusnyanya laki-laki bisa dikatakan besok tinggal nama.

Bersambung

Kisah Cinta DAISY (Complete)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang