Pintu kamar di ketok dari luar kamar membuat penghuni kamar segera bersuara jika pintunya tidak di kunci.
Pintu terbuka menunjukan Dimas yang tersenyum ceria pada Daisy. "Sibuk ngak dek?" Tanya Dimas masuk tanpa menutup pintu.
"Enggak, kenapa? Mau ngajak jalan?" Tebak Daisy menyugar rambutnya pelan.
"Tetap sekali. Gue lagi gabut banget nih dan kebetulan gue inget mau beli sesuatu di luar. Trus ke inget lo, siapa tahu mau ikut," jelasnya dimengerti Daisy.
"Yaudah ayok!" Daisy berdiri akan melangkah pergi namun tangannya dicekal dengan mata Dimas mendelik kepadanya.
"Kenapa?" Tanya polosnya. "Lo mau pergi pakek celana sependek dan baju kekecilan itu? Ngak, lo harus ganti," titah Dimas menunjuk ruang ganti.
Daisy melihat pakaiannya sendiri. Memang terlalu pendek sih. Daisy langsung mengganti pakaian, untung Dimas sudah mengingatkannya.
Daisy kembali dengan celana kain dan kaos putih tebal. Rambutnya hanya di cepol asal meski terlihat seperti baru sadar dari kesurupan.
"Ngak dibenerin dulu tuh rambut? Kayak rambut singa tahu!" Seru Dimas menatap tidak suka rambut Daisy.
"Daisy males ngerapiin, mau kakak bantu?" Tawar Daisy ditolak keras oleh Dimas.
"Ogah! Kagak bisa gue. Mending minta tolong sama nenek aja sana," ucap Dimas melempar pada Tia.
Daisy mengangguk kesal. Sikap Dimas jika ada orang lain sangat lembut. Beda sekali jika cuma berdua. Seperti bermuka dua.
Mengambil sisir lalu mencari keberadaan Tia yang ternyata duduk di depan televisi. Tanganya tidak berhenti mengambil makanan ringan.
"Nek, tolong ikat rambut Daisy," melasnya saat duduk di samping Tia.
Tia langsung menyetujui dan mengambil sisir rambut setelah melepaskan ikat rambut. "Rambut kamu kok wak wakan gini. Habis ngapain?"
"Ngak ngapa-ngapin sih, Nek. Cuma tadi pas main lebtop tangan suka ngaruk-ngarui sendiri," ujarnya jujur.
Dimas menunggu sambil memakan cemilan milik Tia. Alm Zelin sangat suka mengoleksi cemilan di nakas samping tidurnya. Ternyata kebiasaan itu dilakukan juga oleh Tia setelah ditinggal anak keduanya.
Untuk Daisy sendiri kurang suka cemilan, sebab di negara aslinya ibunya sangat memperhatikan pola makannya yang membuatnya sulit diubah jika belum terbiasa.
"Sudah," Daisy mengucapkan terima kasih lalu pergi dengan mengikuti Dimas dari belakang.
"Kita mau kemana dulu kak?" Tanya Daisy duduk di belakang. "Ke toko khusus gitar buat beli sinar," jawabnya diangguki pelan oleh Daisy.
Perjalanannya tidak jauh meski harus melewati jembatan terbesar di Kediri. Daisy menikmati udara yang tidak terlalu panas.
Sejujurnya Daisy belum mengerti daerah yang ditempati. Yang diketahui hanya tempat ke sekolah. Daisy tipekal mau diajak bukan mengajak.
Sesampainya disana, Daisy melihat gerobak es potong. Rasa penasaran dengan rasa tentu ada. "Kak mau beli itu," ucapnya menunjuk gerobaknya.
"Beli sendiri nanti kalau udah dan gue belum balik, lo duduk di depan, oke?" Daisy mengangguk mengerti sambil menerima sodoran uang biru.
"Ini sisa ngak kak?" Tanya Daisy polos. "Sisa banyak," setelah mengucapkan hal itu, Dimas segera masuk ke toko untuk mempercepat waktu.
Daisy menghampiri gerobak es potong dan memesan satu potong rasa coklat. Sambil menunggu, Daisy melihat sekeliling hingga matanya menatap satu anak kecil yang memperhatikan gerobak disampingnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kisah Cinta DAISY (Complete)
Teen Fiction"Dia adalah laki-laki pertama yang membuat Daisy jatuh hati. Dia memang tidak pernah mendekati Daisy tapi Daisy menyukainya," kata Daisy di Malam yang sunyi bertabur bintang diatasnya. Senyumnya mengembang sempurna hingga tidak sadar terus memikirka...
