Matahari atau bisa disingkat Tari, menarik tangan Daisy agar menjauh dari dua temannya. Keluarganya tidak ikut mengantar, sebab tidak ada waktu. Tak heran keluarga hanya bisa berkumpul waktu malam saja.
Tia? Jelas tidak bisa. Dia sudah dibatasi gerak oleh anak semata mayangnya. Apalagi mengingat umurnya sudah banyak.
Setelah merasa cukup jauh, Tari membalikan badannya agar bisa berhadapan. Tanpa banyak waktu Tari langsung memeluk tubuh Daisy dengan suara tangisan yang kecil, masih sadar tempat.
"Maafin gue," lirih Tari merasakan tangan kecil mengelus lembut punggungnya.
"Buat apa? Lo nggak salah kok. Disini gue yang salah, harusnya gue lebih teliti lagi tentang informasi kak Joe. Gue yang salah, udah ya jangan nangis," ucap Daisy menjelaskan serta memenangkannya.
"Tapi tetep aja gue yang salah. Harusnya gue bilang kalau dia tunangan gue!" Suara Tari terdengar rengekan kecil hingga membuat Daisy terkekeh pelan.
"Itu udah masa lalu, jangan di bahas sekarang. Nanti keburu pesawat gue terbang duluan," kata Daisy berusaha mencairkanm suasana.
"Lo pergi karena gue? Gue minta maaf kalau kelakuan gue bener-bener lo sakit hati tapi gue mohon jangan pergi, ya plis." Pinta Tari menarik bahu Daisy hingga bisa terlihat wajah sebabnya.
"Hm, cantik-cantik kok nangis." Guman Daisy mengusap pelan sisa air mata Tari. "Dengerin gue, gue tuh pergi bukan karena lo tapi karena gue pengen. Lagian gue juga mau ngurus nenek angkat disana sambil belajar ngurus perusahaan juga," jelasnya meski faktanya sangat bertolak belakang.
Tidak mungkin Daisy mengatakan "iya" dan memojokkan Tari dengan kata-kata tak pantas. Daisy tidak akan setega itu meski hatinya dibuat sakit namun bagi Daisy, Tari tidak sepenuhnya salah.
"Bener? Lo nggak bohong kan?" Tanya Tari mengacungkan telunjuknya yang diambil oleh Daisy. "Nggak sopan tangannya. Gue nggak maksa lo percaya.
"Woi Daisy!! Cepatan ini bentar lagi terbang loh!!" Teriak Tara disamping Aaron yang menutup telinganya. Apa keras? Jangan tanya lagi.
"Iya!!" Sahutnya tak sekeras Tara.
"Kita masih teman kan?" Tanya polos Tari didapati gelengan dari Daisy hingga membuatnya menunduk sedih.
"Lo sahabat gue bukan sekedar teman. Inget itu. Sekalipun lo nggak anggep gue ada beberapa hari ini," ucapnya sedikit menyindir sedangkan Tari hanya menyengir jenaka.
"Yaudah gue pamit pulang dulu, soalnya ada urusahan sama bokap. Maaf nggak bisa nunggu lo sampai terbang," ucap Tari tak enak hari.
"Kapan gue bisa terbang? Yang ada pesawatnya bukan gue," benahi Daisy.
"Iye deh roasthing aja terus." Meski awalnya cemberut, Tari akhirnya ikut tertawa juga sebelum pergi meninggalkan bandara.
æ
"Aku mau mengakhiri tunangan ini, Pa." ucap Tari setelah terdiam sesaat, ia nyakin keputusannya sangat tepat.
"Kenapa? Bukankah kamu dulu yang paling senang, kalau jadi tunangannya?" Tanya dengan nada heran sekaligus khawatir, takut tak bahagia.
"Aku nggak bahagia, Pa. Lebih baik diakhiri saja daripada menahan sakit lebih lama," ucapnya membuat rahang Bambang mengeras serta kepalan tangan juga.
Tari cepat-cepat memegang kepalan tangan itu dengan lembut. "Ini bukan salah kak Joe, Pa. Nggak ada yang salah dari kami, hanya saja dia nggak bisa mencintai ku dan juga, dia mencintai sahabatku," jelasnya tersenyum tipis.
"Cinta nggak bisa dipaksakan. Sekuat apapun aku berjuang kalau hatinya buat orang lain, juga percuma. Lebih baik mengakhiri hubungan ini, kak Joe juga pastinya tersiksa karena status aku ke dia," lanjutnya berusaha agar tidak memgeluarkan serak yang artinya ingin menangis.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kisah Cinta DAISY (Complete)
Teen Fiction"Dia adalah laki-laki pertama yang membuat Daisy jatuh hati. Dia memang tidak pernah mendekati Daisy tapi Daisy menyukainya," kata Daisy di Malam yang sunyi bertabur bintang diatasnya. Senyumnya mengembang sempurna hingga tidak sadar terus memikirka...
