14.🍆

41 2 15
                                        

Selepas membuka pintu utama apartemennya. Joe terdiam sebentar sebelum akhirnya kedua ujung bibirnya melengkung sempurna.

Samar-samar pipinya memerah mengingat kejadian yang menurutnya sangat menggemaskan.

Gadis itu... gadis itu benar-benar merusak ekpresinya. Akh... mungkin Joe akan hilang akal untuk beberapa waktu kedepan.

Mengingat sesuatu, Joe langsung membuka ranselnya untuk mengambil hadiah dari Daisy. Pipi Joe semakin terlihat kemerah-merahan.

Siapapun yang melihatnya sungguh tidak akan percaya. Cowok se-cool Joe bisa salah tingkah hanya satu cewek yang hampir sebulan mendekatinya.

"Kamu tersenyum?" Tanya seseorang mengagetkan Joe. Bahkan reflek menjatuhkan benda yang dipegang.

"Mama?" Gumannya melihat Lula mendekati dan mengambil benda itu.

"Lucu sekali. Dari siapa? Dia?" Tanya Lula menoleh sebentar Joe.

"Bu-bukan." Sahutnya cepat meninggalkan Lula yang terkekeh melihatnya.

"Hei! Apa kamu tega meninggalkan benda yang membuat kamu kesemsem ini?" Goda Lula membuat Joe berdecak kecil. Memutar tubuh dan mengambil permen untuk dibawa pergi.

Selepas ditinggal Joe ke kamarnya, Lula tersenyum tipis. "Sudah lama sekali mama tidak melihat senyum tulus kamu sayang. Maafin mama ya, selama ini mama gagal bikin kamu kembali seperti dulu. Putra mama yang dulu," lirihnya.

Mendengus pelan, Lula lagi-lagi meratapi masa lalunya. Andaikan putranya mau menerima masa lalunya dengan iklhas, mungkin Joe tidak akan tumbuh menjadi anak pendiam.

æ

Daisy berjalan dengan pelan-pelan mendekati Joe. Cowok itu terlihat sangat fokus dengan ponsel miliknya hingga tidak sadar Daisy bisa melihat apa yang dilihatnya.

"Kak Joe suka cewek pakai kayak gitu?" Tanyanya mengejutkan Joe tetapi tidak lama Joe menetralkan kembali raut wajahnya.

"Hm..., lucu." Joe memasukan ponselnya ke ranselnya. Ketenangannya sedikit di usik yang membuatnya memilih segera melanjutkan ke kelas.

Tadi Joe memperhatikan gambar cewek berhodie oversive warna hitam dengan motif panda. Daisy pikir juga menyukainya apalagi cowoknya.

Terkadang memandang cewek cantik bisa membuat hati cewek senang bukan artian lesby. Bahkan banyak diluar sana yang mengakuinya secara terang-terangan.

Daisy melihat punggung Joe terlihat jauh disana. Daisy mungkin bisa membayangkan sekekar apa bahu itu tanpa baju.

Akh... dasar bodoh bagaimana bisa aku memikirkan hal gila seperti itu!

Daisy memalingkan wajahnya setelah mempergoki pikiran kotornya. Kemudian berjalan ke arah berbeda dimana kelasnya berada.

Hari ini ada mapel MTK, Daisy harus mempelajari kembali sebelum guru masuk. Sesampainya di kelas Daisy malah berbicara dengan Matahari.

"Ngak bawa hp lagi?" Tanya Matahari setelah beberapa menit tidak melihat ponsel logo appel itu.

"Nggak, dipakek Rama tadi," jawab Daisy diangguki pelan oleh Matahari.

Bagi ponsel untuk remaja memang bisa di kategorikan sangat penting, kemana-mana harus bawa ponsel. Tetapi tidak untuk Daisy, gadis itu cenderung kurang memperhatikan ponselnya. Beberapa hari tanpa ponsel juga bisa dilakuninya.

Matahari sempat heran mengapa ada cewek seusinya yang tidak mempentingkan ponsel dikehidupannya. Ternyata ada alasan lain, yaitu menghargai waktu.

Waktu? Ya jika membawa ponsel seseorang akan lebih mempentingkan ponselnya daripada orang sekitarnya. Misalnya ada dua teman, yang satu main ponsel yang satu tidak, bukankah itu menunjukkan bagaimana dia tidak menghargai teman dan waktu?

Banyak di luar sana yang bertindak demikian. Jangan salahkan yang tidak membawa ponsel, harusnya yang bawa ponsel bisa mengerti. Oh ini waktunya sama teman oh ini waktunya main ponsel.

Daisy juga sering menengur Matahari, meski sering dilakukan.

"Matahari hari," panggil Daisy mdmbuat gadis itu menoleh dan segera mematikan ponselnya setelah melihat wajah serius Daisy.

Gadis itu memang selalu serius terkadang Matahari sedikit bingung dengan rautnya. Becanda atau serius.

"Nyebutnya satu aja ngak usah ditambahin hari," ucap Matahari. "Oh iyakah?" Matahari memutar bola matanya dengan malas.

"Kenapa tadi manggil gue?" Tanya Matahari membuat Daisy kembali serius.

"Tadi Daisy lihat kak Joe ngelihatin gambar,"

"Trus?"

"Daisy tanya, kak Joe suka cewek kayak gitu?"

"Gambarnya gambar cewek?" Tanya Matahari. "Bukan, gambarnya cuma sebatas leher sama paha. Tapi fokusnya ke baju oversive nya,"

Matahari mengangguk mengerti, "trus?"

"Trus dijawab, hm..., lucu."

Matahari menyergit bingung, "trus maksud lo bilang sama gue buat apaan?"

"Kata kak Joe kan lucu tuh cewek pakek oversive, gimana kalau Daisy coba pakek? Siapa tahu kak Joe bisa suka sama Daisy," idenya dimengerti Matahari.

"Ya terserah lo sih. Lo berusaha bikin dia suka dengan jadi cewek kriteanya," sahutnya. "Tapi jangan keseringan ngikutin yang dia suka,"

"Kenapa?" Tanya Daisy terlihat polos. "Ye..., bisa-bisa lu lupa jadi diri sendiri. Intinya selagi ngak berlebihan dan ngak mengubah diri lo, gue setuju sama pilihan lo,"

Daisy tersenyum, "terima kasih. Daisy janji tidak akan berlebihan. Tapi kalau sayang sama kak Joe berlebihan boleh...?"

Matahari menelonyor kepala Daisy. "Sesuatu yang berlebihan tetaplah tidak boleh. Inget kata lo dulu!"

Daisy mendengus kecil. Kepala yang tidak sakit diusap-usap lalu ditelonyor lagi dengan kebalikan tadi. "Ih Kamu!"

"Biar ngak ngoblok. Orang dulu bilangnya suka gitu, kalau di jeglok ne dibalikan lagi biar ngak bodoh," jelasnya sambil menahan tawa melihat wajah kesal Daisy.

"Btw tadi gue bawa hodie ukuran oversive. Mau gue pinjemin? Siapa tahu bisa bantu lo lihat reaksi kak Joe lihat lo pakek yang kata lo sesuai dengan kak Joe," lanjutnya membuat Daisy berhenti mendumel sendiri.

"Mana?" Matahari mengambil hodie itu dari dalam tasnya. Hm... tebal dengan warna hitam dan motif panda.

Tunggu... bukankah ini sama seperti yang di ponsek Joe? "Kok punya kamu persis sama gambaran di hp kak Joe tadi?"

Matahari sedikit mendelik dan matanya berlari-lari seolah mencari jawaban. "Ehm... mu-mungkin ngak sengaja mirip, ya ngak sengaja mirip. Hodie kayak gini juga banyak kali, jadi wajar kalau mirip," jelasnya gugup diawal.

Daisy terdiam sejenak sebelum mengangguk mengerti. "Ya pasti banyak yang punya dan gambar itu pasti juga kebetulan,"

Matahati menghela nafas lega saat mendengar Daisy mempercayai ucapannya. "Makasih ya. Besok tak kembaliin," Matahari menganguk mengerti.

"Oh iya kapan Rama lo bawa ke panti?" Tanya Matahari mengalihkan pembicaraan.

"Kapan-kapan sih. Soalnya nenek bilang ngak boleh di adopsi jadi tetep di bawa ke panti," jawabnya. "Loh? Mau ngadopsi?"

"Awalnya mau tak adopsi tapi ngak dibolehin. Keluarga nentang banget jadi terpaksa deh tak taruh di panti," jelasnya.

"Iya sih. Tapi kalau lo jadi adopsi apa lo ngak keteteran ngurus dia? Ya walaupun udah besar dari tanggang jawabnya di lo," sahut Matahari.

"Hahaha... ngak kepikiran ke situ." Matahari hanya menggelengkan kepalanya melihat gadis dihadapannya.

"Yaudah nanti kalau di bawa ke panti, gue ikut. Sekalian mau nyumbang beberapa baju dan mainan waktu kecil," ucapnya.

"Oke tapi ngak tahu kapan ya. Soalnya masih berat nglepasin Rama." Matahari mengangguk mengerti.

Sikap Daisy menunjukkan jika gadis itu penuh kasih sayang dan lemah lembut terhadap anak kecil. Tidak membedakan mana kandung mana tidak.

Beruntungnya Rama bisa bertemu dengan gadis yang mau merawatnya meski tidak selamanya. Dalam diam Matahari tersenyum melihat kepedulian Daisy terhadap orang lain.

Bersambung

Kisah Cinta DAISY (Complete)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang