2.🍈

95 8 6
                                        

Jam sudah menunjukkan pukul setengah tujuh lebih sepuluh menit. Semua keluarga berkumpul dimeja makan untuk sarapan.

Sejak tadi mereka terang-terangan menatap anggota yang baru pindah seminggu itu. Bagaimana tidak, gaya makannya begitu anggun dan sopan.

Meski sudah tinggal bersama seminggu, mereka masih merasa kagum dengannya. Terlihat Daisy menutup dengan mentaptapkan tisu disekitar bibirnya.

Hari ini adalah pertamanya masuk di sekolah SMA sebagai murid baru dipelajaran baru. Akan berangkat bersama Dimas setelah mendapatkan ijin dari Tia.

"Darimana kamu belajar tata cara makan yang elegan seperti, sayang?" Tanya Nila, ibu Dimas.

"Bunda, bunda selalu ngajarin Daisy untuk makan dengan benar. Bunda juga sering mengajak Daisy makan bersama rekan kerjanya jadi Daisy harus bisa jaga sikap," jelas dengan lembut dan diakhiri senyum tipis.

"Sudah berapa kali kamu bertanya? Bunda sampai hafal saat cucuku selesai makan pasti kamu tanya seperti itu," ucap Tia membuat Nila meringis malu.

Nila punya dua anak. Satu perempuan sedang kuliah di luar negri, baru berangkat tiga hari yang lalu setelah menghadiri pemakaman Zelin.

Satunya lagi Dimas yang masih duduk dibangku SMA kelas dua belas. Untuk kedepannya mungkin Dimas akan menyusul kakaknya.

"Sudah belum?" Tanya Dimas mengelap bibirnya dengan kasar lalu menyambar tas dibelakangnya. "Sudah daritadi, kak."

Daisy berdiri lalu mencium pipi semua orang kecuali Dimas. Kemudian mereka berjalan beriringan layaknya kakak beradik.

"Aku seperti punya tiga anak gadis, Mas," kata Nila terkekeh kecil. "Kita memang punya anak tiga, Sayang. Bukannya kamu bilang, kita sudah menganggap Daisy sebagai anak kita,"

Nila mengangguk menyetujui apa yang dikatakan suaminya, Beni. Rasa syukur terus dipanjatkan Nila masih diberi waktu panjang bersama suaminya.

Sedangkan di sisi lain, Joenatan atau Joe baru saja selesai mandi. Joe terlambat bangun lantaran keasikan tidur.

Joe melakukannya dengan cepat seperti mengejar waktu walau benar adanya. Setelah semua terpasang hampir rapi, Joe menyambar tas dan kunci montornya.

Dengan kecepatan tinggi Joe bisa memasuki area sekolah dengan tempuh waktu kurang dari dua puluh menit.

Sejak montor belum masuk sempurna, sudah banyak jeritan tertahan dari remaja perempuan yang begitu mengidolakannya. Agak risih tapi sudah terbiasa.

Joe memarkirkan montornya paling pojok dan tempat itu adalah tempat khusus untuknya. Tapi jika ada yang menempatinya, Joe tidak mempermasalahkannya. Yang terpenting montornya masuk parkiran.

Joe melepas helm hitamnya sebelum menguyar kasar rambutnya. Menatapnya agar terlihat perfect dan dasi juga dibenarkan.

Setelahnya Joe baru pergi dari parkiran dengan satu tangan masuk kedalam saku depan. Tatapanya tajam namun tak terusik membuatnya lebih banyak dikagumi.

Wajah Joe tidak sepenuhnya seperti wajah tampan laki-laki biasanya. Ada campuran keperempuan yang membuat mudah memikat perempuan.

Dari wajah datar Joe bisa dilihat seberapa manis dan tampannya. Apalagi ditambah senyum, mungkin bisa kejang-kejang yang melihatnya.

Mata tajam dengan kelopak mata lentik, alis tidak tebal tapi tidak tipis, bibir yang terbentuk gelombang seperti bibir aktor Thai yang terkenal itu.

Saat berjalan Joe merasa ada yang menarik perhatiannya, tapi Joe memilih acuh tak acuh dan mempercepat jalannya.

Kisah Cinta DAISY (Complete)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang