5.🍋

51 4 4
                                        

Sebelum pulang, Daisy pergi ke toilet untuk menuntaskan sesuatu yang sejak tadi ditahan. Mumpung supirnya belum datang juga.

Setelahnya Daisy bernafas lega, tubuhnya lebih riflek daripada tadi. Berjalan keluar dengan santai. Koridor cukup sepi, mungkin semua siswa sudah pulang.

Saat hampir sampai di gerbang, mata Daisy menoleh kesumber yang menurutnya cukup terganggung dengan suara keras dari salah satu siswi sekolah.

"Ayolah Joe, gue numpang sama lo, plis. Rumah gue juga searah sama jalan pulang lo," ucap siswa yang terus memaksa Joe.

Dia adalah Diana, siswi yang cukup terkenal sebab berani mendekati seoarang Joe. Diana memegang lengan tangan Joe tanpa permisi.

"Gue juga udah ngomong sama temen-temen gue kalau gue bakal pulang sama lo. Trus ngak jadi mau ditaruh mana muka gue," lanjutnya memelaskan wajahnya.

Sejak tadi Daisy hanya memperhatikan mereka dengan terang-terangan. Meski jauh tapi pandangan Daisy tetap mengarah pada mereka.

Joe menggeleng kecil dan melepaskan pegangan Diana pelan. Sebagai cowok Joe tidak suka menolak dengan kasar seorang cewek. Takut anaknya kena karma.

Meski tindakan cewek keterlaluan, Joe akan berusaha tetap menolak dengan sehalus mungkin.

Joe menangkupkan tangannya di depan dada tanda minta maaf tidak bisa membantu. Diana tentu mendengus sekeras mungkin. Joe pergi meninggalkan Diana saat mengerti kondisinya.

Saat akan melewati gerbang sekolah, Joe melirik sekilas Daisy yang menatapnya tanpa kedip. Helm Joe full face tanpa transparan membuat Daisy tidak bisa melihat wajahnya.

Tin ... tin ...

"Ayo nona!" Pekik supir membuat Daisy menoleh dan segera mendekat.

Masuk kedalam mobil dengan tubuh sedikit ditengahkan, "dari tadi, Pak?"

"Barusan, Nona. Trus saya lihat Nona lagi ngeperhatiian cowok," jawabnya diakhir kekehan kecil.

"Ish pak!" Daisy tersipu malu hingga ujung telinganya.

"Ngomong-ngomong tadi anak keluarga Prayogo kan?" Tanya supir sambil menjalankan mobilnya. "Masa?"

"Saya tanya Nona, kenapa Nona malah bertanya," keluhnya didapati ringisan malu dari Daisy lewat kaca atasnya.

"Kayaknya iya pak, soalnya kata teman Daisy. Nama belakangnya ada Prayogo nya," ujarnya diangguki kecil beberapa kali.

"Pantes ngak asing sama dia. Dulu pak Beni sering banget pergi ke pesta rekan kerja, kalau Bu Nila ngak ikut bearti saya antar. Trus ngak sengaja lihat dia berdiri di podium ngasih sambutan atau apalah, bapak lupa mau ngapain dia disana," ceritanya didengar teliti oleh Daisy.

"Paman kerja dibidang Pariwisata kan? Keluarga dia juga dibidang yang sama?" Tanya Daisy penasaran.

"Saat itu kayaknya bukan cuma dibidang Pariwisata aja deh Nona, hampir semua ada. Bahkan keponakan dari Jakarta juga datang. Mungkin dia dibidang transportasi soalnya samar-samar dia ngomong tentang itu," jelas supir diangguki lagi oleh Daisy.

"Hebat banget dia." Pujinya berasa bangga sendiri. Supir hanya tersenyum simpul melihat cucu majikannnya ini.

Sesampainya di rumah, Daisy langsung mencari keberadaan pamannya, Beni. "Nenek tahu dimana paman?"

"Jam segini ya belum pulang sayang. Baru nanti abis petang puanganya, memangnya ada apa?" Tanya Tia saat Daisy duduk disampingnya mendengus kecil.

"Mau tanya tentang bisnis. Ngomong-ngomong Nek, perusahan alm Bunda di California gimana?" Tanya Daisy baru mengingat perusahan yang dibangun Zelin dinegara orang.

"Dialihin ke paman kamu dulu, nanti setelah kamu cukup mampu baru dikembalikan lagi," jawab Tia membuat Daisy menyerongkan tubuhnya tepat disamping Tia.

"Nek, boleh usul tidak tentang perusahan alm bunda. Daisy tidak mau terjun langsung, tetapi perusahan akan dipimpin oleh seseorang dengan pengawasan penuh Daisy. Bagaimana?"  Tawar Daisy.

"Untuk komisi biar Daisy atur sendiri. Kalaupun ada masalah yang benar-bemar harus Daisy yang turun maka Daisy akan senang hati turun tangan," lanjutnya agar Tia semakin nyakin dengan penawarannya.

"Kenapa kamu tidak ingin bekerja langsung dan memilih orang lain?" Tanya Tia meminta penjelasan.

"Nek, Daisy perempuan pasti ada saatnya sibuk sama kehidupan pribadi. Jika Daisy tetap terjun keperusahan takutnya terlalu fokus. Apalagi nanti Daisy akan punya keluarga sendiri," jelas Daisy dengan lembut.

Dimata Tia cucunya ini sangat menggemaskan dengan suara ditekannya. Tidak mudah bagi Daisy bicara secepat orang rumah.

"Nenek setuju asal kamu bisa bertanggung jawab penuh sama pilihan kamu. Tapi jangan lupa, beri tahu paman mu agar dia bisa menimbangi pilihan kamu," ucap Tia mengelus rambut Daisy yang terawat indah tergerai.

"Nek, kapan montor Daisy datang?" Tanya Daisy baru ingat dengan montor yang dijanjikan. "Hm, ngak usah beli baru gimana?"

Daisy menyergit bingung. "Bunda kamu dulu sering naik montor orang belakang loh daripada beli baru, katanya eman uangnya. Padahal kalau cuma montor kakek kamu dulu kuat, beli seribu juga kuat." Jelas Tia terkekeh mengingat anak putrinya.

"Takutnya kamu ngak sering naik montor sendiri dan jadi barang rusak karena jarang dipakek. Tapi kalau orang belakang ngak kamu pakek tetep ada yang mau makek," lanjutnya memberi tahu maksud mengapa tidak jadi membelikan Daisy sepedah montor.

Daisy mengangguk mengerti, "ada banyak montor metic yang dulu sering kakek kamu beliin buat mereka. Kamu juga pilih yang mana dan ngak mudah bosen karena banyak montor" lanjutnya.

"Oh gitu ya Nek. Baiklah tidak jadi beli saja," Daisy tersenyum manis tapi malah membuat Tia tidak enak hati. "Tapi kalau kamu masih pengen montor baru ngak papa beli aja,"

Daisy tersenyum lagi dan mengangguk singkat. "Ke kamar dulu, Nek." Daisy pergi meninggalkan Tia setelah dipersilahkan.

Kamar Daisy adalah kamarnya Zelin, ibunda Daisy. Kamar yang sudah tidak terpenghulu puluhan tahun, akhirnya dihuni oleh keturunannya sendiri.

Barang Zelin yang tidak bisa dibilang sedikit, tidak dipindah hanya saja sebagian diberikan kepada yayasan panti asuhan yang berdiri dibawah naungan keluarga Aksarana.

æ

"Jika itu pilihan kamu, paman dengan senang hati menyetujuinya. Asalkan jangan asal pilih orang yang akan menjadi tangan kanan mu," ucap Beni duduk dihapan Daisy yang terhalang meja kerja besar.

"Paman setuju apa yang kamu mau karena ini seratus persen milik kamu sebagaimana adik paman mewariskannya ke kamu. Tugas paman hanya mengarahkan saja," lanjutnya membuat Daisy tersenyum senang.

"Terima kasih paman." Beni terkekeh kecil melihat keponakannya.

Beberapa menit, Beni merasa Daisy belum pergi membuatnya mendongak. "Ada lagi yang dibicarakan?" Tanya Beni.

"Ehm..., paman kenal anak Prayogo?" Cicitnya mengundang keryitan didahi Beni. "Yang kalau ngak salah namanya Joe? Karena seingat paman anaknya yang sering muncul cuma dia,"

Daisy mengangguk kenal. "Ceritain tentang dia dong, paman," melas Daisy membuat Beni tidak bisa menolaknya.

"Paman sering kagum sama dia, meski masih usia dini masuk dalam pekerjaan tapi dia sangat profesional dan dia sangat pendiam."

"Dulu pernah paman menyapanya, dia hanya mengangguk dan menjabat salam saja. Dulu juga pernah gantiin ayahnya saat penyambutan tapi diwakilkan meski dia ada disana," lanjutnya.

"Jadi paman belum pernah dengar suaranya?" Tanya Daisy. "Belum pernah. Bisu kali dia?" Tebak Beni mendapatkan tatapan tidak suka.

"Paman ucapan adalah doa," ucapnya sebelum meninggalkan Beni dan mengucapkan terima kasih.

Beni menatap punggung Daisy yang berjalan dengan elegan. "Tak masukin dunia model tapi dunia model keras."

Beni melanjutkan pekerjaan yang tertunda sedangkan Daisy pergi belajar sebelum tidur malam. Tadi sudah makan malam sebelum Daisy pergi ke ruang kerja Beni.

Bersambung

Kisah Cinta DAISY (Complete)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang