Kecelakaan yang hampir saja menewaskan Joe membuat suatu titik trauma di hati Daisy. Membayangkan kembali saja, bisa langsung berdebar keras dan sesak yang mendalam.
Serta, tiga tahun menunggu Joe membuka mata bukan hal yang mudah. Apalagi sedikit ada pertentangan untuk hubungannya dengan Lula, ibu Joe.
Lula yang beranggapakan jika kecelakaan ini ada sangkut pautnya dengannya. Padahal pihak kepolisian setempat sudah mengatakan jika kecelakaan murni ketidak sengajaan dari pelaku.
Ya, Lula awalnya sangat menuntut anaknya mendapatkan keadilan lewat jalur hukum dan ingin membenarkan firasatnya pada Daisy. Namun sayangnya malah sebaliknya, sangat berbeda dengan angan-angannya.
Rasa ketidak sukaan Lula pada Daisy, disebabkan karena menggangap Daisy telah menghancurkan hubungan Joe dan Tari.
Mengingat bagaimana sikap Joe pada wanita di luar sana, dekat atau jauh tetap saja. Bersikap acuh dan enggan melakukan interaksi yang timbal-balik.
Sekarang, Daisy sedang duduk di kursi tunggu rumah sakit untuk menunggu Lula keluar. Katanya, Lula tidak mau bentrok dengannya.
Sedih sih, ini sesuai dengan apa yang ada dipikirannya. Calon ibu mertua tidak menyukainya.
Pintu dibuka dari dalam membuat Daisy menoleh dan reflek berdiri mendekat. "Kak, dipanggil kakak di dalam. Katanya mau ngomong penting bertiga," kata Reandra.
"Bertiga? Tapi di dalam ada mama kamu, tahu sendirikan tante nggak suka sama kakak," ucap Daisy sedih. Senyumnya terlihat menunjukkan kalau dia sedih membuat Reandra ikut merasakannya.
"Mama udah ngijinin kak, jadi nggak papa. Ayo masuk, aku mau ke kantin buat beli makanan buat mama." Reandra membuka pintu dan menarik lembut tangan Daisy.
Memberikan senyum manis bahwa semua akan baik-baik saja. Menutup kembali sebelum pergi meninggalkan ruangan kakaknya.
"Sayang, kemarilah," titah Joe dengan suara sedikit serak. Apakah dia sedang berdebat dengan ibunya sampai suaranya kering?
Tapi sepertinya tidak, sejak tadi dia tidak mendengar suara keributan di dalam. Daisy mendekat sambil tersenyum kecil tak tulus, melirik Lula yang menatapnya dengan pandangan penuh arti.
"Will you marrid me? Tanya Joe membuat Daisy mendelik disertai pipi memerah. Bolehkan Daisy menganggukkan kepalanya? Tapi bukankah hubungannya di tentang? Kenapa Joe malah melamar di depan ibunya? Daisy tahu ini akan menjadi langkah lanjut Lula tak menyukainya.
Daisy sedikit menggeleng kecil lalu tertawa garing. "Bercandanya nggak lucu kak. Mending kak Joe fokus sama kesehatannya dulu," kata Daisy menghindari kontak mata dengan Joe.
"Tuh lihat, wanita yang mau kamu ajak nikah aja secara terang-terangan nolak kamu. Buktinya dia ngelak," cetus Lula menatap tak suka Daisy.
Meskipun Lula dikatakan mama protagonis, entah kenapa dia tidak bisa mudah akrab dengan Daisy.
Joe tak menanggapi Lula bukan tanpa maksud. Ia mengambil tangan Daisy hingga membuat wanita hampir 25 tahun itu menoleh.
"Kamu nggak cinta sama aku? Sampai ngelak aku ajak nikah?" Tanya Joe. Ia tahu dengan begini Daisy akan mudah jujur tanpa sengaja.
"Bu-bukan gitu kak. Kakak jangan ngeraguin cinta aku. Kalau nggak cinta mana mau aku berdiri disini dan nunggu kamu bangun, tiga tahun lamanya," ucap Daisy meremas tangan Joe, tatapan campur atuh sangat kentara dimatanya.
"Trus kenapa tadi ngelak?" Dia melirii Lula sebagai tanda kode. Ia mengerti kekhawatiran dimata gadisnya.
"Mama? Kamu takut Mama nggak menyetujui hubungan kita, itu kan?" Daisy menunduk sedih. Matanya ingin mengangguk tapi tubuhnya malah lemas.
"Sadar diri kamu," ketus Lula. "Mama jangan gitu, plis aku mohon. Dia kekasihku dan sebentar lagi jadi mantu Mama. Tolong perlakukan selayaknya dilakukan pada umumnya, anggap dia anak mu juga. Aku mohon," Lula memutar mata jengah lalu memalingkan wajahnya.
Ini sulit dan tak semudah berucap kata. Tapi ia nyakin hati Lula tak sebatu yang ada dibenaknya. Ini hanya kesalah pahaman saja.
"Kamu inget perkataan aku dulu? Tentang seandainya mama aku nggak suka kamu, trus sekarang malah kejadian beneran," Daisy semakin menunduk sedih. Apakah Joe sedang mengejek atau menenangkannya sih?!
"Sayang, dengerin aku lagi. Tugas orang tua hanya menuntun jika salah dan mendukung, bukan menolak atau mencegah dimana itu ada hal positifnya. Andaikan Mama suka dan cocok sama kamu, dia bisa ngelakuin lebih dari anaknya sendiri.
Reandra aja sangat suka dengan mu, apalagi Mama. Aku nyakin, suatu saat nanti akan ada masanya Mama menyayangi mu seperti harapan kita. Intinya kita sabar-sabar aja dan kalau ngomongnya nyelekit jangan diladenin, cukup diam dan dengarkan saja." Tutur Joe begitu lembut dan penuh pengertian.
Lula diam mendengar, sebenarnya apa yang dikatakan oleh putranya sangat benar. Hati Lula tidak akan setega itu untuk membenci seseorang, apalagi orang itu yang dulu menemukan anaknya juga.
Apakah Lula memilih mengalah dan menerima Daisy sebagaimana mantu dan anak? Ini bisa tapi hatinya seperti ada yang janggal.
æ
"Qobiltu nikahaha wa tazwijaha alal mahril madzkuur wa radhiitu bihi, wallahu waliyyu taufiq!!!"
"Sah?" Tanya penghulu pada para saksi. "Sah!!"
"ALHAMDULILLAH!!!" semuanya mengucapkan hamdalah dengan senyum mengembang setelahnya. Begitupun dengan Joe, laki-laki asal Kediri itu telah berhasil menikahi gadis California dan bergabung dengan keluarga Aksarana.
Setelah kejadian sebulan yang lalu, Joe memutuskan untuk menikahi Daisy di Indonesia. Sebab banyak kerabat dan teman disana, untuk undangan diluar negri biasanya mereka mendapatkan tiket gratis pulang.
Gaun putih yang begitu elegan dan mewah membuat Daisy terlihat sangat cantik. Apalagi wajahnya bersinar hingga membuat siapapun pangling.
Gaun besar tanpa lengan serta sanggulan yang tidak besar serta mahkota sedang membuat penampilannya begitu perfect. Begitu beruntungnya Joe dicintai olehnya tapi Joe beranggapan jika dialah yang beruntung mendapatkan Daisy.
Daisy sudah berdiri tepat di depan Joe. Menatapnya begitu lekat hingga melupakan jika keduanya berada dikeruminan banyak orang.
"Cantik banget sih kamu. Ayo ke atas lagi, aku nggak mau para cowok-cowok pada natap kamu terus-terusan," guman Joe menarik pinggang Daisy lalu mencium dahinya dengan khusuk.
Adegan yang jarang dilihat ini membuat suhu ruangan menjadi sempit. Banyak yang menahan napas menahan rasa ingin menikah.
"Kak aku malu dilihatin banyak orang," cicit Daisy. "Aku juga tapi aku lebih milih bodo amat."
Joe semakin merapatkan tubuhnya seolah takut kehilangan. "Seumur hidupku, aku akan akan selalu bersyukur, karena Allah begitu baik mengirimkan kamu sebagai kekasih ku."
"Rasa ini tidak akan pernah aku lupakan dan selalu ku kenang. Kamu adalah hal terindah yang tidak ada tandingannya. Aku boleh minta sesuatu nggak?" Tanya Joe dengan suara pelan.
"A-apa?" Tanya Daisy gugup. "Ijinkan aku menjadi imam mu sampai kematian memisahkan kita." Daisy tersenyum dengan mengangguk kuat.
"Ayo menua bersama," ajak Joe.
"Ayo!" Seru Daisy tiba-tiba lalu melakukan hal yang tak terduga hingga Joe sendiri terkejut sendiri sebelum tersenyum malu.
Cup
"Ha!!"
"Hoelah kalau mau mesraan jangan disini! Kasian yang belum nikah!!" Seru seseorang membuat pasangan baru itu mendapat seruan sebelum tertawa bersama.
TAMAT
KAMU SEDANG MEMBACA
Kisah Cinta DAISY (Complete)
Fiksi Remaja"Dia adalah laki-laki pertama yang membuat Daisy jatuh hati. Dia memang tidak pernah mendekati Daisy tapi Daisy menyukainya," kata Daisy di Malam yang sunyi bertabur bintang diatasnya. Senyumnya mengembang sempurna hingga tidak sadar terus memikirka...
