Malam sudah datang sejak tadi, Joe masih sibuk dengan adiknya, Reandra. Kemanapun Reandra pergi Joe harus ada, begitupun sebaliknya. Kecuali kamar mandi.
Joe tidak segila itu!
Daisy? Gadis yang malang sudah dipulang sore tadi, diantar supir. Daisy juga sempat bertemu dengan Reandra. Daisy menuturkan beberapa kata untuk Reandra, meski sekarang tidak tinggal bersama.
"Lihatlah, anak sulung kita sepertinya tidak mau lepas dengan adiknya," ucap Bagos terkekeh kecil melihat kedekatan mereka.
"Biarkanlah, Mas. Selama ini yang bikin Joe jauh dari rumah juga karena adiknya hilang. Sekarang udah pulang ngak mau pisah," sahut Lula tersenyum melihatnya.
Lula percaya dengan adanya Reandra, Joe tidak akan sependiam dulu. Es balok itu akan mencair lama-kelamaan.
"Karena adik kamu pulang. Kamu jadi ngak belajar setelah sekolah," ucap Bagos mengingatkan Joe akan kebiasaanya.
"Nanti malam." sahut Joe mengatakan jika ia tidak melupakannya.
"Aku sudah kenyang kak. Jangan di paksa lagi," rengek Reandra menjauh dari sendok yang disodorkan Joe.
"Nyakin?" Reandra mengangguk kuat. Sendok itu mundur dan masuk ke dalam mulut Joe. Menghabiskan sisa makanan Reandra.
"Meski aku sudah bertemu dengan keluarga kandung ku. Aku tidak akan pernah melupakan keluarga kak Daisy, karena mereka memberikan aku pertama kalinya kasih sayang dan cinta," cerita Reandra pada semua orang.
"Apalagi kak Dimas," Reandra tertawa saat mengingat wajahnya. "Dia selalu kalah saat aku mengiginkan hal sama dengannya. Bunda Nila selalu membela ku,"
"Bunda Nila?" Ulang Lula sedikit tidak suka. "Ya. Bunda Nila, bundanya kak Dimas. Dulu sih aku manggilnya tante tapi katanya suruh panggil bunda biar sama kayak kak Daisy dan kak Dimas,"
"Oh gitu. Sekarang kamu mau tetep panggil bunda?" Tanya Lula. "Tentu saja. Apa Mama keberatan?"
"Ya sedikit tapi Mama akan berusaha menerimanya." Reandra tersenyum kecil lalu mengangguk.
Obrolan tidak dilanjut hingga mereka berpencar ke kamar masing-masing. Kecuali Reandra yang diajak tidur di kamar Joe.
Setelah di kamar, Joe belajar sampai tengah malam. Mematikan lampu tidur lalu tidur dengan memeluk Reandra.
æ
Sarapan pagi sudah tersaji di atas meja makan, tinggal menunggu orang rumah berkumpul. Sudah ada Lula dan Bagos yang datang, tinghal kedua anaknya.
Kernyitan di dahi Bagos nampak jelas saat melihat putra pertamanya, Joe. Tidak memakai seragam sekolah. Bagos kira ini bukan hari libur.
"Dimana seragam mu? Kenapa tidak memakainya?" Tanya Bagos sebelum Joe duduk sempurna.
"Ngak mau sekolah. Mau temenin adik." jawabnya kurang peduli dengan pertanyaan Bagos.
"Hanya mau temenin adik kamu? Reandra tidak akan hilang jika kamu tinggal sekolah, Joe!"
"Jangan membuat alasan tidak masuk akal seperti itu. Putra ku tidak suka membolos hanya untuk hal kecil."
"Papa tidak mau tahu, hari ini kamu harus berangkat sekolah atau kamu tidak usah sekolah seterusnya!" Ancam Bagos tak main-main menatap putranya yang menatapnya tanpa minat.
Awalnya Joe sedikit geram dengan perkataan Bagos. Ia menganggap papanya terlalu menggampangkan hal yang diucapkan hal sepele itu.
Joe sudah menunggu pertemuan ini pertahun-tahun. Sehari belum cukup rasanya melepas rindu meski adiknya tidak akan kemana-mana, lagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kisah Cinta DAISY (Complete)
Teen Fiction"Dia adalah laki-laki pertama yang membuat Daisy jatuh hati. Dia memang tidak pernah mendekati Daisy tapi Daisy menyukainya," kata Daisy di Malam yang sunyi bertabur bintang diatasnya. Senyumnya mengembang sempurna hingga tidak sadar terus memikirka...
