Keadaan Joe sudah membaik, bahkan tadi pagi ia sudah pergi bekerja. Kesana-kemari demi menghidupkan serta melanjutkan usaha keluarga.
Jam sudah menunjukkan pukul tiga lebih lima menit, Joe baru saja datang ke apartemen yang sudah lama ditinggalkan. Lebih tepatnya jarang ditinggalin.
Lokasi yang lebih dekat dari rumah dibanding apartemen membuat ia memutuskan hal itu. Meski kehidupannya dulu lebih banyak di sana.
Joe mengambil ponselnya di atas nakas sambil tangan sibuk melepaskan kancing baju. Udara Kediri cukup panas hari ini.
Berbesit percakapan kariawannya di lorong membuat sebuah ide didalam benaknya. Mencari nomer seseorang untuk mencapai atau melaksanakan tujuan itu.
Me
Udah di Kediri?
Daisy
Udah
Kemarin baru sampek
Kenapa?
Me
Nanti malam ada waktu?
Daisy
Ada
Kenapa?
Me
Mau ngajak jalan
Cari cemilan
Mau?
Daisy
Mau!!!
Jam berapa kesini?
Me
Set 8
Mau kerja dulu baru jalan
Daisy
Oke kak!
Joe tersenyum simpul, sebelum akhirnya mengambil leptop dan bekerja. Joe lebih suka menggunakan alat media seperti komputer dibanding kertas.
Alasannya yaitu lebih ringkas tempat.
æ
Di bawah rembulan yang terang serta dalam keramaian banyak orang berhimpitan membuat Joe mau tak mau harus mengandeng tangan Daisy.
Ya, Joe mengajak Daisy kesebuah tontonan di salah satu desa lumayan jauh dari kota. Tontonan ini adalah Wayang.
Seperti pada pertunjukan biasanya, Wayang dapat mengundang puluhan pedagang untuk menjual dagangannya. Termasuk kerajinan wayang.
Pakaian simple keduanya tak membuatnya mencolok namun rupa dan keromantisannyalah menarik perhatihan. Khususnya anak remaja yang merasa iri.
"Mau beli apa?" Tawar Joe berhenti di jalanan yang tidak banyak orang berkerumun.
Mata berbinar Daisy saat menemukan jajanan yang sudah menarik perhatiannya. Ia mulai menunjuk satu persatu sesuai keinginana.
Satu bungkus harga 5k, jadi jika Daisy membeli lebih dari 10 bungkus, tangan Joe akan penuh dengan bungkus plastik. "Mau kripik talas?" Terus dan terus, Joe menawarkan makanan sampai kepala Daisy tidak bisa dibuat menggeleng.
"Kak mau kerajinan wayang kulit yang rambutnya pendek itu loh," pinta Daisy menunjuk girang salah satu tokoh wayang.
Joe memicingkan matanya agar lebih jelas mana yang dimaksud. "Dewi Srikandi?"
"Nggak tahu namanya tapi pengen. Kalau enggak, pakek uang kakak besok tak kembaliin," Joe menggeleng tanda tidak setuju.
"Ayo, aku beliin."
Mereka melihat pertunjukan wayang yang dilakukan oleh dalang. Ditambah lagi kadang sinden bernyanyi tembang jawa.
"Ngerti yang diomongin?" Tanya Joe mendapati gelengan kepala dari Daisy.
"Aku yang Jawa asli nggak ngerti. Dalangnya pakek bahasa jawa kuno, jadi ya gitu. Susah dimengerti, kecuali para orang tua," jelasnya diangguki oleh Daisy.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kisah Cinta DAISY (Complete)
Teen Fiction"Dia adalah laki-laki pertama yang membuat Daisy jatuh hati. Dia memang tidak pernah mendekati Daisy tapi Daisy menyukainya," kata Daisy di Malam yang sunyi bertabur bintang diatasnya. Senyumnya mengembang sempurna hingga tidak sadar terus memikirka...
