21.🥕

30 2 2
                                        

Ponsel yang diletakkan di atas nakas samping ranjang bergetar cukup keras. Membuat Dimas menoleh yang duduk di pinggiran ranjang.

Dimas menyergit saat nomer awal bukan dari kode Indonesia, melainkan (+1) alias kode California. Tumben sekali, Daisy mendapat telepon dari negara asalnya.

"Kak, nih bolpennya. Tapi inget jangan diilangin lagi, masa baru dikasih kemarin udah ilang," ucap Daisy datang dengan membawa satu bolpoin.

Daisy orangnya cukup rajin hingga menyetok beberapa pak alat sekolah. Itu membuat Dimas memiliki banyak keuntungan, contohnya bisa minta apa yang tidak dia punya.

"Hp lo bunyi tuh," kata Dimas tidak merespon perkataan Daisy namun mengambil bolpoin itu.

Daisy menoleh ke ponselnya yang bergetar kembali. Apa sangat penting? Batin Daisy. Reaksinya sama dengan Dimas tadi. Namun saat melihat nama dari panggilan, Daisy segara mengangkatnya.

"Halo?"

"......"

"Kabar Daisy sangat baik paman. Kabar paman sendiri? Dan orang rumah juga bagaimana kabarnya?" Tanya Daisy beruntut.

Dimas merasa pusing mendengar Daisy yang menggunakan bahasa asing. Dimas sangat tidak suka bahasa asing, apalagi Inggris. Meski bahasa itu adalah bahasa Internasional, Dimas hanya bisa kata dasar.

Baginya tidak perlu belajar giat untuk bahasa asing, sebab ayahnya tidak pernah mengatakan jika harus bisa. Anak tidak selalu pintar dalam akademik, bukan?

"......"

"Tapi? Tapi apa paman? Jangan berbicara setengah-setengah paman, Daisy tidak suka,"

"......"

"Apa!!! Paman tidak bohong, kan!?" Reaksi Daisy sangat terkejut membuat Dimas bertanya-tanya dalam pikirannya, apalagi saat Daisy mengucapkan 'what?'

"......"

"Daisy akan pulang malam ini!"

"......"

"Tidak! Hari ini Daisy akan pulang!"

Daisy memutuskan panggilan sepihak. Setelah mengahiri, Daisy menoleh ke Dimas yang terlihat seperti oleh bodoh.

"Kak anterin, Daisy ke Bandara. Sekarang!" Tekannya membuat Dimas terkejut.

"Lo gila! Lo mau ngapain ke Bandara? Udah malam juga," omelnya melihat Daisy masuk ke ruang ganti dan kembali dengan cardigan crop yang dipadukan dengan baju tidur Daisy tadi.

"Jangan banyak bicara kak. Lakuin yang Daisy bilang atau Daisy berangkat sendiri, kalau kakak ngak mau!" Kesal Daisy. Hatinya sedang campur aduk sedangkan Dimas malah bertanya yang membuat kepalanya terasa panas.

"Yaudah berangkat sendiri aja, sana!" Ucap Dimas bercanda malah dianggap serius oleh Daisy. "Oke, Daisy berangkat sendiri."

Daisy akan berjalan pergi tapi tangannya ditarik oleh Dimas. "Iya, iya gue anterin."

Daisy tidak merespon, menepisnya lalu pergi untuk menemui Tia. Tidak mungkin Daisy pergi tanpa mengabari Tia. Untung saja ingat.

"Nek," ucap pelan Daisy saat menemukan Tia akan berbaring di tempat tidurnya. Merasa dipanggil, Tia menoleh.

"Sayang? Ada apa? Dan kenapa wajah kamu terlihat panik?" Tanya Tia saat Daisy duduk dilantai dengan tangan berada di paha Tia.

"Daisy ngak bisa ceritain sekarang, Nek. Daisy kesini cuma mau pamit pulang sebentar. Tapi Daisy ngak tahu kapan Daisy pulangnya," jelasnya menahan tangisannya.

"Pulang? California? Ini sudah malam sayang, apa ngak besok pagi saja?" Daisy menggeleng kuat. "Ngak mau nunggu sampai besok. Daisy juga udah pesen tiket tadi sebelum kesini,"

Kisah Cinta DAISY (Complete)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang