Taksi yang ditumpangi Daisy berhenti di depan rumah luas milik Tia. Ya, Daisy sudah sampai di Indonesia setelah jam yang lalu.
Daisy membuka pintu mobil dan keluar dengan senyum mengembang. Daisy menghirup udara dengan rakus, sedikit masih segar. Ini sudah mulai siang jadi, Kediri sudah panas.
"Pak, tolong bawa ke dalam," pinta Daisy berjalan untuk masuk ke dalam rumah, dengan pak sopir dibelakangnya.
"Assalamualaikum," gumannya tanda salam pada penghuni orang rumah (ghoib).
"Bapak bisa taruh disini, biar nanti tak suruh orang buat naruh di kamar. Ini ongkos dan kembaliannya buat Bapak," Daisy menyodorkan dua lembar uang merah.
"Terima kasih, Mbak." Sopir itu kemudian pergi, sedangkan Daisy pergi ke ruang keluarga tanpa membawa kopernya.
Daisy nyakin, neneknya itu pasti berada disana guna melihat TV. Sebenarnya, pamannya sudah memasang TV dikamar neneknya tapi katanya lebih suka lihat di ruang keluarga.
"Nenek! Daisy pulang!" Pekiknya memeluk leher Tia dari belakang sambil mengayunkan tubuhnya.
"Kangen banget sama, Nenek!" Lanjut, lalu mencium pipi kanan Tia bertubi-tubi.
"Sudah anak nakal. Kemarilah," Tia menarik tangan Daisy agar duduk di sampingnya.
Tanpa aba-aba, Tia langsung menjewer telinga kanan Daisy. "A-aduh sakit! Sakit nenek!" Rengeknya.
"Hm, bandel ya. Ngak pulang-pulang, eh giliran pulang, ngak ngasih kabar dulu," omel Tia masih mempertahankan jewerannya.
"Maaf, kan Daisy cuma mau bikin suprise buat nenek kesayangan," cengirnya lebar membuat Tia memutar mata malas lalu melespaskan jewerannya.
"Sana-sini kesayangan," nyibir Tia.
Daisy jelas tahu siapa yang dimaksud neneknya ini, dia adalah neneknya di California, Maria. Daisy menyentuh tangan keriput Tia.
"Kalian sama-sama kesayangan ku. Beliau yang membantu alm.Bunda dan mengurus ku dari kecil sama besar, tentu saja Daisy menyayanginya seperti beliau menyayangi ku," jelas Daisy.
"Tapi nenek yang terbaik, ya walaupun Daisy baru pertama kali ketemu langsung sama nenek waktu meninggalnya Bunda," lanjutnya memberikan seulas senyum.
"Itu juga karena alm.Bunda kamu, nggak ngijinin kamu ke sini. Waktu kamu datang pertama kali ke keluarga dan diangkat sebagai anak saja, Bunda mu hanya lewat Hp,"
"Huft... nenek tahu, kenapa Bunda ngelakuin ini? Maksud ku, kenapa Bunda seolah menutup akses untuk tanah kelahirannya?" Tanya Daisy terasa bingung dengan malasah yang tidak dimengerti.
"Nenek tidak tahu. Atau memang ini ada kaitannya dengan masa lalu, tapi yang pasti, hanya Bunda mu lah yang tahu," jawabnya tanpa jawaban.
"Tidak ada gunanya bertanya pada, Nenek." gumannya mendegus kecil. "Lebih baik, kamu istirahat. Pasti tubuh kamu capek seharian penuh duduk,"
"Hm, baiklah." Daisy meninggalkan Tia setelah mengecup pipi kiri. Daisy merindukan kamarnya meski bukan asli kamarnya.
æ
Pagi hari yang sejuk, membuat Daisy melengkungkan senyum pertama kali. Tangannya direnggangkan untuk melepaskan otot lengan dan bawah ketiak.
"Hah! Daisy nggak sabar sekolah!" Daisy melompat dengan satu tanjakan setelah berdiri di atas ranjangnya.
Sebelum itu, Daisy melihat jam dinding yang menunjukkan pukul setengah enam pagi. "Masih ada waktu banyak," gumannya.
Pagi ini, Daisy memutuskan untuk mandi lebih lama. Menggunakan sabun yang dibawakan oleh pelayannya kemarin. Lavender.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kisah Cinta DAISY (Complete)
Novela Juvenil"Dia adalah laki-laki pertama yang membuat Daisy jatuh hati. Dia memang tidak pernah mendekati Daisy tapi Daisy menyukainya," kata Daisy di Malam yang sunyi bertabur bintang diatasnya. Senyumnya mengembang sempurna hingga tidak sadar terus memikirka...
