22.🌽

44 3 10
                                        

Mobil mengkilat yang ditumpangi seorang gadis sejak keluar Bandara, mulai terlihat ke halaman sebuah rumah tidak terlalu luas itu.

Rumahnya menjulang tinggi hingga tiga lantai. Bagian atapnya seperti rumah di Indonesia, yaitu dibentuk rooftop.

Pintu mobil dibuka otomatis sebelum gadis itu melompat dan lari untuk menemui orang yang membuatnya pulang ke negara aslinya.

Dia memang bukan keluarga namun kehadirannya sudah dianggap keluarga. Dia yang membantu dari segala urusan di rumah ini, sekaligus yang merawat gadis itu saat alm Bunda masih sibuk.

Langkah cepatnya berhenti dan segera dinetralisasikan sebelum masuk kamar nya. Mengetuk pintu tiga kali lalu membuka kamarnya.

Pandangannya langsung terjatuh pada sosok wanita tua yang berbaring lemah. Meski tubuhnya tidak ada sesuatu yang bersangkutan dengan alat-alat rumah sakit.

Tidak ada yang menjaganya atau menemaninya, mungkin masih sibuk dan belum sempat.

"Nenek," gumannya mendekatinya dan jongkok dilantai dengan satu lutut menyentuh lantai.

Lengkuhan kecil keluar dari mulutnya, pelan namun pasti mata itu terbuka meski tidak selebar dulu waktu sehat.

"Nona muda," lirihnya mau bangun tapi ditahan bahunya oleh Daisy.

"Nona muda kapan datangnya? Kenapa tiba-tiba bisa kemari? Sekolahnya libur atau tidak, kok kesini?" Tanya beruntut Maria, nenek angkat tanpa masuk keluarga Daisy.

"Harusnya Daisy yang tanya, Nek. Kenapa Nenek bisa sakit? Pasti Nenek suka memikirkan hal tidak penting, mangkanya jadi gini, kan?" Omel Daisy tahu persis seperti apa itu Maria.

"Ada yang saya pikirkan selain, Nona Muda. Saya begitu kesepian setelah ditinggal Nona dan Nona Muda. Kehidupan saya begitu hambar tanpa kalian," ucapnya mengungkapkan isi hatinya.

"Huft.... maaf kan Daisy. Harusnya Daisy tetap di sini dan tidak tinggal di sana," sesalnya memalingkan wajahnya.

"Ti-tidak, ini bukan salah Nona Muda. Selama hidup baru tahun ini, Nona Muda bisa ke Indonesia, berkumpul dengan keluarga di sana," bantah Maria tentang penyesalan Daisy.

"Lagipula saya sakit juga karena umur. Mungkin sudah waktunya saya tutup us-"

Daisy membekap mulut Maria sambil menggeleng pelan. "Jangan katakan itu. Kau adalah nenek ku, jangan meninggalkan cucu mu ini. Apa kau tega?"

Maria mengambil tangan Daisy yang berada di depan bibirnya tanpa jarak, mengenggamnya dengan lembut seperti nenek pada cucu kesayangannya. "Saya lebih tidak tega melihat Nona Muda menangis di depan saya,"

Air mata yang baru sadar keluar langsung diseka oleh Maria. Tangan keriput dan sedikit kasar itu membuat mata Daisy tertutup sebentar.

"Nona Muda, baju siapa yang dipakai? Perasaan saya, Nona Muda tidak punya baju tidur seperti ini," tanya Maria mengalihkan perbincangan.

Daisy membuka matanya cepat lalu menghapus sisa air mata. "Baju alm Bunda. Nenek tahu, Daisy tidak membawa baju sebiji pun saat pulang dan untungnya baju alm Bunda masih disimpan rapi di lemari, jadi Daisy pakai deh buat sehari-hari,"

"Masih bagus ya. Padahal seingat saya, alm Nona datang ke negara ini sekitar umur 19 kalau ngak 20 tahun," kata Maria melihat-lihay baju tidur Daisy.

"Alm Bunda masa mudanya ngak happy ya. Udah nikah muda eh giliran udah cinta sama alm Ayah malah ditinggal. Karena itu juga, alm Bunda ngak suka berbaur tentang tentara," cerita Daisy mengingat cerita yang pernah diceritakan alm Zelin kepadanya.

"Oh iya, apa Nenek tahu siapa keluarga alm Ayah? Selama ini alm Bunda tidak pernah mau menceritakannya," tanya Daisy perihal keluarga alm Ayahnya.

"Tidak. Tapi saya sedikit tahu jika keluarga alm Ayah, Nona Muda   kebanyakan anggota abdi negara," jawab Maria yang diketahuinya.

Kisah Cinta DAISY (Complete)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang