42. Marahnya tak Jelas

45 3 0
                                        

Sejak tadi wajah Daisy menahan rasa kesal yang tidak tahu apa penyebabnya. Tangan di lipat dengan dengusan kasar sering terdengar.

Pelayan disampingnya tak berani menatapnya dengan terang-terangan. Padahal tadi pagi moodnya sangat baik.

"Dimana dia?" Tanya Daisy.

Pelayan melirik dengan kernyitan di dahinya. Begitupun dengan Daisy, "apa kau tuli!? Dimana dia!?" pekiknya menahan kesal dihati yang akan meledak kapan saja.

"Ha? Maaf nona berbicara dengan saya?" Tanya nya takut-takut dengan bahasa Inggris.

"Bodoh, pantas saja dia tidak mengerti." gerutunya salah bahasa. "Ehm... maaf kau tahu dimana kak Joe?"

"Oh tamu, nona? Beliau sedang membuat kopi di dapur. Tadi saya sudah menawar agar saya saja tapi beliau menolak," jelasnya diangguki oleh Daisy.

"Tolong ambilkan apel dan suruh kak Joe membawanya kemari," titah Daisy menahan kesalnya. Mengulas senyum agar ketegangan yang ada mereda.

"Baik, Nona." Pelayan itu pergi dengan cepat. Sepertinya dia sering menahan napas terbukti dia sempat menghempuskan secara kasar.

"Duh... gara-gara flim tadi. Aku jadi uring-iringan sendiri. Sabar Daisy sabar. Inget kak Joe nggak mungkin kayak gitu," gerutunya.

"Kamu ngomong apa?" Tanya Joe datang dengan nampan berisi apel dan meletakkannya di nakas.

"Kak Joe, seumpama aku pergi dari dunia ini apa kak Joe akan mencari wanita lain? Atau kak Joe mau menerima yang lain?" tanyanya membuat kernyitan tak suka dari Joe.

"Ngomong yang baik." Tegur Joe. "Aku nggak akan perpaling sama kamu. Sekalipun banyak di luar sana memperjuangkan ku sama seperti mu, cinta ku tak akan berpaling. Cuma kamu dan hanya kamu," jelasnya membuat Daisy lega.

"Really?"

Joe mengangguk. "Kenapa tanya kayak gitu? Kamu nggak percaya sama cinta aku?"

Daisy menggeleng kuat. "Bukan nggak percaya cuma takut kakak berpaling."

"Oh iya kak, jika seandainya kamu diberi keputusan yang sulit antara aku dan tante Lula. Kamu pilih yang mana?" Tanya Daisy.

"Ya terganggung sisi baiknya. Lagipun tugas orang tua hanya mendukung atau mengarahkan saja, bukan memaksa seenaknya. Bukannya orang tua seneng kalau anaknya seneng?"

"Kalau tante Lula nggak suka aku dan nyuruh kakak ngejauhin aku gimana?"

Joe tersenyum kecil, menjeda agar bisa merangkai kata dengan baik. "Dengerin aku. Nggak ada satupun di dunia ini yang bisa ngejauhin kamu dari aku. Aku bukannya mau durhaka tapi jika memang ada waktu itu, aku bakal ngejelasin pelan-pelan sama Mama. Kalau mama tetap nggak setuju, ya kayak omongan aku tadi mendukung saja." jelasnya diangguki oleh Daisy.

"Semoga tante Lula jadi ibu mertua aku!" serunya nada senang. "Amin...."

"Kak mau apel," ucap Daisy minta dikupasin. Tanpa menjawab, Joe mengangguk dan mengupasnya.

Senyum Daisy tak luncur, moodnya membaik saat melihat wajah pahatan yang menurutnya sempurna. Syukur-syukur memperbaiki keturunan lebih baik.

"Kenapa senyum-senyum?" Daisy menggeleng pelan. "Nggak ada, aku cuma ngelihatin suami masa depan aku." Jawabnya dengan cekikian sendiri

"Nanti sekitar jam sebelas aku mau ke kantor, buat ngurus beberapa berkas penting," ucap Daisy menerima Apel namun Joe memundurkannya lalu mengarahkannya ke mulut Daisy.

"Lama?" Tanya Joe. "Lumayan. Nanti jemput aku di depan kantor ya?"

"Kenapa di depan? Malu punya aku?" Tany Joe membuat Daisy menggeleng kuat.

Kisah Cinta DAISY (Complete)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang