Daisy menatap Rama yang sudah terlelap disampingnya. Setiap melihatnya, Daisy seolah melihat seseorang familyar baginya.
Bentuk dan warna dari wajah Rama begitu sempurna, bahkan jika ada yang mengangkatnya menjadi anak tidak akan menahan malu meski tidak mirip.
"Nasib kamu memang tidak baik, semoga mental kamu tetap baik dan kuat."
Daisy menaikan selimut hingga sebatas leher untuk Rama. Rasanya Daisy sangat menyayangi laki-laki kecil ini meski baru beberapa hari bertemu.
Mematikan lampu sebelum membenarkan posisi tidurnya. Menyamping agar bisa menatap Rama dengan puas. Daisy sangat suka menatap wajah Rama saat tidur, seperti ada daya tarik sendiri.
æ
Daisy pergi ke sekolah dengan Rama di sampingnya. Hari ini Daisy ingin mengajak Rama ke sekolah meski tidak belajar. Ngomong-ngomong Daisy jadi kepikiran tentang sekolah untuk Rama.
"Rama, sebenarnya kakak belum terlalu mengenal sekolah ini. Kakak aja cuma tahu kelas, lapangan sama kantin, oh satu lagi toilet." Jujur Daisy merangkul bahu Rama.
Rama akan di titipkan di Bu kantin selama nanti Daisy belajar di kelas. Tenang Rama sudah dipinjami satu ponsel milik Daisy yang sering dipakai Rama. Daisy pernah main hp? Sangat-sangat jarang. Bahkan seminggu bisa tidak main hp.
Meskipun begitu, Rama punya jadwal main hp. Takutnya terlalu sering bermain membuat mata dan kebiasaaan anak terganggu.
Lagipun sejak kecil Daisy juga sudah dilatih maka akan diturunkan kepada Rama. Rasanya Daisy semakin sayang pada Rama saat anak itu begitu penurut dan pengertiaan yang tinggi.
"Apa kakak sering di kelas? Tidak mau berkeliling?" Tanya Rama.
"Kakak keluar kelas cuma waktu istirahat atau nganterin temen kakak ke toilet. Setelah itu dah, kakak juga ngak pernah kepikiran buat ngelilingin satu sekolah ini," jawabnya membawa Rama ke kantin sekolah.
"Terlihat sangat menoton," guman Rama. "Kakak pernah menyukai cowok di sini?" Tanya Rama penasaran.
Daisy seperti menahan senyumnya, "tentu saja pernah, bahkan sekarang kakak lagi itu. Tapi jangan bilang sama keluarga termasuk nenek, takut dimarahin," Rama tertawa mendengarnnya.
"Siap kak! Aku bakal tutup mulut buat kakak," sahutnya setelah berhenti tertawa. Daisy tersenyum, "nanti kakak beliin es krim, mau?"
"Pakek ditawarin. Ya mau dong kak," keduanya langsung tertawa tidak keras. "Kalau kakak beliin, jadi jatah makan es krim tinggal satu." Rama mengangguk menyetujui.
Daisy juga melatih Rama agar tidak berlebihan dalam mengonsumsi apapun itu. Meski sehat atau tidak sehat tetap akan Daisy perhitungkan. Bukankah hal yang berlebihan itu tidak boleh?
Sejak Daisy dan Rama memasuki gerbang sudah pasti akan menjadi tontongan. Tak kecuali seorang pemuda yang masih duduk diatas montornya dengan bola mata mengawasi tanpa menggerakkan kepala.
Dia adalah Joe.
Sebenarnya bukan Daisy yang menjadi daya tariknya. Tapi anak kecil itulah. Melihat-lihat wajahnya seperti sama dengan seseorang tapi Joe lupa, siapa?
æ
"Bu..., titip adek ya. Nanti habis istirahat tak ambil lagi," ucap Daisy pada ibu kantin.
"Memangnya adeknya barang, main diambil?" Beberapa menit kemudian Daisy tertawa kecil sebab mengerti apa yang diucapkan ibu kantin.
"Tapi bolehkan, Bu?" Tanya ulangnya. "Boleh banget, malah seneng ada temen ngobrolnya. Biasakan jarang ngobrol sama yang lain, soalnya pada sibuk sendiri," jelasnya membuat Daisy tersenyum lega.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kisah Cinta DAISY (Complete)
Teen Fiction"Dia adalah laki-laki pertama yang membuat Daisy jatuh hati. Dia memang tidak pernah mendekati Daisy tapi Daisy menyukainya," kata Daisy di Malam yang sunyi bertabur bintang diatasnya. Senyumnya mengembang sempurna hingga tidak sadar terus memikirka...
