16. 🍄

34 2 2
                                        

Joe tidak langsung pulang ke Apartemen, ia ingin mengambil buku catatan baru di rumah. Kemarin hanya membawa satu buku catatan hasil kado.

Mungkin jika dikumpulkan bisa jadi perpus kecil. Kebiasaan ini turun dari ayahnya. Sejak kecil ia sering diberikan buku sesuai umur daripada bermain ponsel.

Bisa dikatakan Joe dan Daisy hampir memiliki persamaan tentang ponsel. Jarang memakainya dan hanya memakai saat penting saja.

Duh jodoh, ha jodoh? Terkadang berlawanan dengan sefrekuensi malah membuat hubungan itu langgeng. Jika sefrekuensi? Takutnya salah satu akan bosan dan pergi tanpa asalan yang jelas.

"Joe! Sini dulu nak," ucap Lula melambaikan tangannya untuk Joe segera mendekat.

Anak laki-lakinya mendekat tanpa duduk. "Pesenan mama udah kamu kasiin?" Tanya Lula dan diangguki.

"Trus tanggapan dia gimana?"

"Terima kasih," sedikit kurang mengerti sebelum menjelaskan sendiri. "Maksudnya, dia bilang gitu?" Joe mengangguk pelan.

"Kayaknya kamu masih suka kaku sama dia. Inget sayang, dia calon istrimu dimasa mendatang," peringat Lula membuat Joe menatap Lula kosong.

"Aku tidak nyakin jika itu terjadi." kata Joe sebelum meninggalkan Lula yang kebingungan.

"Kata pendek penuh teka-teki. Belasan hidup dengan putraku sendiri, aku masih suka tidak mengerti dengannya. Tapi semoga saja ucapannya barusan tidak menjadi masalah kedepannya." monolognya merasa sedikit was was.

Lula duduk kembali saat akan menyalakan televisi, salah satu pembantu terlihat olehnya. "Bi!"

Merasa dipanggil dan hanya dia saja, dia segera berjalan mendekat. "Putraku barusan pulang dan tadi pagi aku pergi ke supermarket buat beli buah. Bibi bisa tolong potongin beberapa buah buat nanti di bawa putraku?"

"Tentu, Bu." Lula tersenyum singkat sebelum mempersilahkan dia pergi. "Oh ya bibi juga bisa tambahin saos buat salaq, siapa tahu putraku ingin makan salaq," dia mengangguk lagi sebelum pergi ke dapur.

Sedangkan, Joe yang baru saja masuk kamarnya segera mengambil buku catatan barunya dan memasukannya kedalam tasnya.

Sedikit merasa tubuhnya lengket, Joe memutuskan untuk mandi. Mungkin mandi ditemani aroma vanila akan membuat Joe lebih rileks.

Beberapa menit kemudian, Joe keluar dengan handuk putih melilit di pinggangnya. Punggung terlihat sangat kekar dari belakang dan pinggang cukup ramping untuk laki-laki.

Tubuh bagus miliknya merupakan gen dari ayahnya. Meski jarang olahraga karena sibuk dengan buku-bukunya. Jie juga tipekal tidak kalau tidak lapar.

Setelah berganti pakaian, Joe mengambil tasnya kembali. Keluar kamar untuk segera pulang sebelum pamit pada ibunya.

"Mama kirain kamu nginep," ucap Lula melihat anaknya mendekat. "Ngak libur,"

Ya Joe hanya akan tinggal di rumah saat hari libur dan saat ingin saja. Lulu juga sudah cukup senang mendengarnya.

Dulu waktu pertama Joe pindah, Lula sangat menentang. Apalagi Joe anak tunggal, ibu mana yang akan tega membiarkan anaknya pergi jauh darinya. Tetapi setelah dijelaskan oleh suaminya, Lula sedikit mengalah dan membiarkan Joe pergi.

Pembantu itu datang dengan membawa sekotak makanan berisi buah. "Bu, ini buah yang tadi Ibu minta," ucapnya menyodorkannya.

"Oh makasih ya," dia mengangguk.

Melihat ada pembantu di sekitarnya, Joe mengambil kresek cilok yang lupa diberikan itu kepadanya. "Buat saya, Den?"

"Mama." Dia meringis malu. "Oh kirain buat saya," dia mengambilnya lalu pergi membawanya setelah melihat Lula mengibaskan tangannya.

"Pulang," ucap Joe setelah memasukan kotak makanan yang disodorkan Lula tadi. "Ya, hati-hati dijalannya. Jangan ngebut dan kalau udah sampai kabarin mama," Joe mengangguk lalu mencium tangan Lula dan pergi meninggalkannya.

æ

Pintu di ketok dari luar membuat seorang laki-laki paruh baya menoleh. Dia menyuruh orang luar untuk masuk. Tangannya ditumpu di atas meja berlapis kaca transparan.

"Selamat sore, pak." Sapanya diangguki kecil olehnya.

"Akhirnya pencarian kita mendapatkan hasil, Pak. Setelah diterusi lebih detail keluarga mereka tidak ada sangkutannya secara lebih sebab setelah mereka berhasil ada seorang wanita gila yang membawa putra Bapak pergi. Mereka sempat ingin mengejar tapi kepala keluarga di sana mencegahnya. Alasannya mungkin Bapak sepemikiran dengan saya,"

Dia mengangguk mendengar ucapan panjang dari bawahannya. "Saya berusaha mencari keberadaan wanita itu tapi sayangnya saat saya menemukannya, anak Bapak tidak bersamanya. Itu membuat pencarian saya lebih sulit. Saya harus menelusuri jejaknya satu persatu,"

"Sebulan belakang ini, saya juga mendapatkan informasi dari seseorang lewat poster yang kita sebar. Dia mengatakan jika anak Bapak tinggal di gubuk tua dekat jembatan tua," ceritanya.

"Gubuk tua? Sendiri atau ada yang merawatnya?" Tanya dia terkejut. Ia rasanya sangat marah pada dirinya sendiri. Ia hidup bergelimang harga sedangkan anaknya malah kebalikannya.

"Sendiri. Warga sekitar katanya tidak mau mendekati anak Bapak. Mereka menolak setiap kehadiran anak Bapak. Bahkan ada anak kecil yang kelepasan berbicara kalau anak Bapak sering dihina dan dicaci maki warga," jawabnya.

Penuh dan perih rasa hati mendengarnya. Dia tidak bisa membayangkan betapa menderita anak bungsunya. Apalagi kehadirannya ditolak mentah oleh orang sekitar.

"Lalu bagaimana anak ku bertahan hidup?" Tanya dia.

"Menurut warga, anak Bapak bertahan hidup dengan mencari barang bekas atau makan sisa di tong sampah jika ada. Tetapi karena warga menolak kehadirannya, itu membuatnya kesulitan mencari makan," jawabnya.

Dia rasanya ingin menangis mendengarnya. Anak sekecil itu ditelantarkan tanpa rasa bersalah sekalipun. Apakah hati manusia sebatu itu?

"Lalu kenapa tidak membawa anak ku jika sudah menemukannya?"

"Maaf, Pak. Saya kehilangan jejak lagi, msnurut orang yang terakhir melihatnya. Anak Bapak dibawa oleh seorang remaja perempuan. Alhamdulilahnya saya mendapatkan informasi tentang gadis itu,"

"Dia salah satu keturunan keluarga Aksarana," lanjutnya.

"Aksarana?" Ulangnya.

"Ya, gadis itu tinggal di rumah salah satu keluarga Aksarana yang ada di Kediri. Baru kemarin saya mendapatkan informasi itu,"

"Bagaimana perlakuan mereka kepada anak ku?"

"Mereka merawatnya dengan sangat baik, Pak. Bahkan dengar-dengar gadis itu ingin mengadopsinya tetapi tetapi nyonya Tia tidak memberi ijin. Sebab keluarga mereka sangat menentang adanya adopsi anak,"

"Trus bagaimana nasip anak ku selanjutnya?"

"Gadis itu akan membawa anak Bapak ke panti. Untuk waktu, saya kurang mengerti,"

Dia terdiam sesaat. Ini adalah  kesempatan emas untuk bertemu dengan putranya setelah bertahun-tahun lamanya. "Sekarang kamu kirim pesan kepada pak Beni untuk kedatangan kita besok pagi dan katakan kepadanya seluruh anggota rumah harus berkumpul untuk penyambutan ku,"

"Aku nyakin dia pasti akan melakukannya. Apalagi mengingat hubungan bisnis dengannya sudah berjalin cukup lama," lanjutnya.

"Baik, Pak. Saya akan segera mengirim pesan pada pak Beni. Mohon ijin undur," dia mengangguk untuk mempersilahkan bawahannya pergi.

"Anak ku... kita akan segera bertemu dan berkumpul dengan keluarga kecil kita." Monolognya tersenyum haru.

Dia tidak sabar untuk bertemu dengan anaknya. Anak yang membuat salah satu putranya berubah menjadi penutup.Dia adalah ayah Joe. Pak Ahmad Bagos Prayogo.

Bersambung

Kisah Cinta DAISY (Complete)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang