Daisy nampak sedang menerima telepon dengan orang luar ngeri, sebab bahasa yang digunakan olehnya bukan Indonesia.
Terdengar pinty di buka namun Daisy tidak menoleh sebab tidak mendengarnya. Baru menoleh saat dipanggil oleh Nila. "Sayang, lebih baik kalau teleponan diluar biar nenek, mama yang jaga,"
Daisy mengangguk pelan lalu pergi dari kamar Tia. Sebentar Nila, memuai merapikan selimut Tia namun merasakan kejanggalan.
Kenapa tidak naik turun perutnya? Sedikit panik sambil meletakkan telunjuk di depam hidung Tia namun naas tidak deru napas.
"Ma? Mama bangun dulu!" Nila berusaha tidak menaikkan nada suaranya. Takut tiba-tiba terbangun dan mengagetkannya.
"Ya Allah, ma bangun!" Kali ini Nila berani menaikkan nada bahkan Daisy sampai kembali dengan wajah panik.
"Ma, kenapa? Nenek, kenapa?" Tanya Daisy naik ke atas ranjang ikut menggoyangkan tubuh Tia agar mendapat respon.
"Mama!"
"Nenek!"
Keduanya berseru, meninggalkan air matanya mengalir kegitu saja. Isak tangis pilu mampu membuat keluarga lainnya serentak berkumpul hingga, mau tak mau menyampaikan bahkan Nyonya Besar Keluarga Aksana telah meninggalkan dunua untuk selama-lamanya.
æ
Siapa yang tidak mengenal keluarga yang terus merasakan masa kejayaan meski sudah tidak menjadi keluarga paling kaya di dunia. Keluarga dermawan dengan bibit unggul untuk garis keturunannya.
Seluruh keluarga besar Aksarana, berkumpul di rumah duka di Kediri. Halaman rumah yang biasanya diisi oleh tanaman hias kini menjadi tempat berdirinya banyak karangan bunga.
Banyak rekan kerja berdatangan untuk mengucapkan bela sungkawa. Tapi terlalu banyaknya tamu membuat pihak keluarga memutuskan agar tamu segera beranjak pulang agar tidak ada kerumunan yang padat.
Isak tangis masih terdengar di ruang tamu, meski tidak histeri seperti tadi. Nila berada dipelukan Dimas, Daisy diam dengan tatapan kosong mengarah pada jasad Tia yang sudah dibungkus kain kafan, serta Matahari di sampingnya.
"Yang kuat ya, iklhasin nenek biar tenang," bisik Tari sembari mengelus punggung Daisy. Meski caranya malah membuat seseorang akan menangis.
Enggan menjawab, mulutnya seperti terkunci. Terkadang air matanya tak sengaja terjatuh dan diusap oleh Matahari.
Dibalik kerumanan banyak orang, Joe ada disana. Sedang menatap gadis yang masih menetap di hatinya selama lebih dari lima tahun lamanya.
Hatinya terasa sesaat saat melihat pandangan kosong itu. Tersirat kesedihan yang mendalam, tetapi Joe hanya bisa menatap kejauhan.
Ayahnya masih di sini dam di sana ada Matahari. Tidak mungkin dia bertindak sesuka hati saat dirinya masih teringat status.
"Ayo para keluarga, masi mengantarakan jenazaha ke pemakana. Lebih cepat lebih baik," titah ustadz yang tadi memimpin shoolat jenazah.
Dimas, Beni, dan Putra mengangkat di sisi keranda. Melihat ada yang kurang sebab yang diutamakan keluarga inti dahulu. "Kurang satu, siapa lagi yang mau membantu?" Tanya ustadz.
Saat Joe akan berucap, nyatanya suaranya kalah dengan saudara yang lain. Dia mendekat lalu ikut mengangkat kerenda untuk di bawa ke makam. Karena jarak cukup dekat mereka mengantar dengan jalan kaki.
æ
Suasana sepi ada di dalam seluruh kediaman keluarga Aksarana di provensi Jawa Timur, Kediri. Meski mereka berkumpul, tetap saja rasa kehilangan masih melekat di sana.
Apalagi Beni, sebagai putra semata mayangnya harus kuat dan tegar dihadapan keluarga. Hati kecilnya belum terima jika ibunya pergi tak kan kembali.
Lalu, ada Nila, sebagai seorang menantu yang hidup hampir tiga puluh tahun bersama membuatnya sangat akrab. Bahkan Nila lebih menyayangi Tia dibanding ibunya sebab sudah meninggal.
Daisy? Gadis itu nampak murung di dalam kamarnya yang dulu. Mata sembab dengan pandangan kosong.
Mungkin butuh waktu beberapa waktu kedepan untuk memulihkan keadaan kembali meski harus tanpa Tia. Kini yang tersisa hanya kenangan dan peninggalan.
æ
Selang waktu kembali berjalan hingga sampai di bulan kedua setelah pasca itu. Semua sudah kembali dengan aktivitas mereka termasuk Daisy sendiri.
Bukankah, hanya sesaat untuk merasakan kehilangan? Bahkan bisa saja satu hari menumpah tangisan, sedih, dan rasa berkecambuk namun besok nya lagi biasanya saja seperti tidak terjadi apa-apa.
Daisy sedang berjalan santai di koridor gedung yang beroperasi dengan perintahan Dimas. Ya, setelah ayahnya lepas kini dipindah alihkan kepada Dimas, sebab putri sulungnya tidak mau ikut ambil bagian dalam perusahaannya.
"Kak," sapa Daisy setelah membuka pintu kaca lalu mendekat dengan senyum tipisnya.
"Oh udah dateng?" Tanya basa-basi yang tidak perlu di jawab. "Ruangan lo udah disiapin di samping ruangan ini ke kiri. Harusnya buat kakak gue tapi lo tahu sendirikan," Daisy mengangguk mengerti.
"Yaudah, tak kesana dulu." pamitnya sebelum di panggil oleh Dimas. "Nih surat undangan, teman lo mau nikah." kata Dimas.
"Nikah? Siapa?" tanya Daisy menerima uluran undangan nikah dengan blackground putih cream dan gold.
"Disini kok nggak ada siapa nikah dengan siapa?" lagi dengan membolak balikkan undangan yang sudah dibuka.
"Jangan-jangan kakak bohong ya? Karena beberapa hari ini gue di suruh nikah sama Mama," tebak Daisy membuat Dimas menggeleng dengan wajah manyun.
"Enak aja. Katanya itu dari Matahari, teman lo SMA." kata Dimas mengejutkan Daisy.
"Sama siapa? Kak Joe?" Tebak Daisy mendapati gelengan dari Dimas tanda tidak tahu
Bersambung
KAMU SEDANG MEMBACA
Kisah Cinta DAISY (Complete)
Teen Fiction"Dia adalah laki-laki pertama yang membuat Daisy jatuh hati. Dia memang tidak pernah mendekati Daisy tapi Daisy menyukainya," kata Daisy di Malam yang sunyi bertabur bintang diatasnya. Senyumnya mengembang sempurna hingga tidak sadar terus memikirka...
