Joe dan Daisy sedang duduk diteras dengan istri bersandar pada bahu suaminya. Ditemani dua cangkir dan satu teko berisi air teh hijau.
Senyumnya mengembang saat melihat empat remaja berpakaian putih-biru sedang berjalan ke arah mereka. Dari wajahnya terlihat kelelahan, mungkin di sekolah tadi banyak kegiatan.
"Assalamualaikum," serentak mereka memasang senyum manis dan Daisy menegakkan tubuhnya.
"Waalaikumsalam. Banyak kegiatan ya di sekolahan? Kelihatan kecapean gitu," ke empat remaja itu mengangangguk kecil.
"Makhlum, Bunda habis tanggal tujuh belas. Banyak kegiatan buat ngerayainnya, untung dijalan nggak macet," sahut Sean.
Daisy memiliki anak empat laki-laki dan satu perempuan. Meski dengan sang kakak berpaut lima tahun, mereka terkadang lenih di dewasa dibanting sang kakak.
Mungkin penyebabnya Lila anak perempuan satu-satunya di keluarga kecil ini. Anak 2-3 bernama Sean-Seno, anak ke 4-5 bernama Arsen-Arson. Mereka memiliki jarak dua tahun saja.
Daisy mengelus rambut satu persatu putranya, keadilan bagi seluruh anaknya. Tetapi terkadang Lila mendapatkan kasih sayang lebih, apalagi bersama Joe.
"Mandi setelah itu makan ya. Bawa juga bekas kotak makan, biar nanti di cuci sama bibi," mereka mengangguk kecuali satu orang yang sedikit membuatkan matanya.
"Baik, Bunda." Mereka berjalan masuk kedalam, mengisakan kembali pasangan yang sangat awet menghindari pertikaian.
"Kamu berhasil mendidik semua anak kita, Sayang. Kamu membagi tanpa membedakan semuanya, sampai tidak pernah bertengkar kecuali kelima anak mu ingin tidur dengan mu," puji Joe mengelus kepala Daisy merasa beruntung memiliki istri sepertinya.
"Ini juga berkat kamu juga, Kak. Menjadi penengah saat aku bingung gimana ngatasinnya dan maaf kadang aku sering ngeluh saat kamu habis ngantor. Harusnya aku sabar sebentar, tapi kamu nggak pernah marah atau memaki aku seperti di sinetron," imbuhnya memeluk tubuh suaminya yang sedikit gendut.
Joe menggelengkan kepalanya pelan sambik terkekeh. "Gabutnya jangan kebanyakkan nonton sinetron, Sayang."
"Ayah! Bunda!!" Lihatlah wajah ceria putri mereka habis ngampus. Entah bagaimana caranya, putrinya itu selalu pulang dengan ceria. Tidak seperti adik-adionya yang kadang-kadang masam saat pulang.
"Salam dulu, sayang." Tegur Daisy mendapati cengiran kecil darinya.
"Assalamualaikum. Lila punya kabar baii buat kalian," cerita Lila mengembangkan senyumnya. Bahkan Daisy bergidik ngeri, apa tidak kaku itu?
"Waalaikumsalam. Kabar apa itu?" Tanya Joe.
"Lila diterima magang di salah satu perusahaan teman, Ayah!" Serunya membuat kernyitan didahi Joe.
"Bukannya kamu masih semester lima? Kenapa sudah magang?" Tanya Joe.
"Aku ikut magang merdeka, Ayah. Sebenarnya aku mau magang waktu semester dua tapi karena banyak para magang di perusahaan sekitar, membuat Lila harus ngalah sampai semester lima," cerita asal usul mengapa Lila ikut magang lebih awal.
"Wah..., selamat sayang. Semoga sukses selalu buat kamu," Lila mengangguk lalu memeluk kedua orang tuanya dengan hati senang.
"Makasih banget, Ayah dan Bunda selalu dukung keputusan aku. Aku merasa menjadi anak terberuntung karena kalian. Lila sayang kalian," ungkapnya mencium pipi keduanya.
"Itu sudah tanggung jawab kami sebagai orang tua sayang. Maafin kita ya kalau kadang kami terlalu ngekang kamu," ucap Joe mengelus bahu putrinya.
"Sana masuk, bergabunglah dengan adik-adik mu nanti saat makan." Lila mengangguk dan pergi dengan berteriak memanggil keempat saudaranya.
"Kebiasaan banget anak kamu. Suka teriakin saudara lainnya, padahal usianya sangat dewasa," ucap Daisy mengejek Joe.
"Putri kita, Sayang. Aku tidak masalah dengan sikapnya selagi tidak ada yang terganggu. Bagiku kebahagian putriku adalah kebahagian seluruh keluarga kita," ingin membantah tapi itu kenyataannya.
"Tinggal beberapa tahun lagi, kita akan pulang sayang. Entah itu kamu atau aku duluan, tapi aku berharap kita dipisahkan waktu yang sama. Aku nggak mau LDR-an,"
"Ngomong apaan sih? Jangan ngelantur gitu, masa tua kita baru akan dimulai. Dan kisah kita juga masih panjang. Jangan berangan yang tidak masuk akal, aku tidak suka." Kesalnya mengerucutkan bibirnya.
"Maaf."
<●> <●>
Keluarga Aksaran, sudah tidak asing mendengarnya bukan? Dari cerita pertama sampai cerita kelima selalu terselip marga keluaga itu.
Keluarga yang sangat sukses dalam semua bidang serta pernah menjadi keluarga terkaya didunia dalam beberapa periode.
Semakin tinggi pohon semakin kencang angin menerjang. Itulah yang dulu dirasakan oleh mereka.
Kepopuleran perusahaan mereka membuat para pesaing harus bekerja keras agar bisa mengalahkannya. Mereka berhasil membuat getaran kuat untuk semua perusahaan Aksarana hingga dibuatnya sidang Aksarana ll yang berisi;
"Setiap keturuan Aksarana dalam tiap bidang hanya boleh memiliki satu cabang tidak lebih. Jika ada yang melanggar akan dihancurkan dari pusatnya."
Tahu dimana pusat perusahan Aksarana? Yaps benar di Jakarta. Yang dipegang oleh keturunan anak terakhir pendiri perusahaan ini.
Mereka akan tetap berkembang dengan kecepatan tidak seperti dulu. Mungkin setiap tahun hanya -05% atau tetap pada per kapinya.
Banyak rumor keluarga ini telah bangkrut padahal itu adalah gosip saja. Mereka tetap berdiri meski tidak sejaya dulu. Mereka tetap mengikuti zaman dengan teknologi yang memadahi juga.
Seperti Beni dan Zelin(alm. Bunda angkat Daisy) mendapat satu cabang diluar negri. Sebenarnya perusaan di California sudah di jual dan semua pekerjanya akan dialihkan ke perusahaan di Kediri.
Disinilah titik terakhir cerita tentang keluarga Aksarana yang penuh keharmonisan. Karena akan dilanjutkan oleh marga lain yang jauh lebih sukses dibanting Aksarana.
Tamat....
Aaaaaa sayang banget sama keluarga ini. Keluarga yang aku buat sampai sekrang pasti akan selalu aku ingat, mungkin sampai tua kelak.
Semoga cerita ini menghibur meski tidak menghibur banget hehehe.
Selamat tinggal👋🥰
KAMU SEDANG MEMBACA
Kisah Cinta DAISY (Complete)
Fiksi Remaja"Dia adalah laki-laki pertama yang membuat Daisy jatuh hati. Dia memang tidak pernah mendekati Daisy tapi Daisy menyukainya," kata Daisy di Malam yang sunyi bertabur bintang diatasnya. Senyumnya mengembang sempurna hingga tidak sadar terus memikirka...
