20.🥔

48 2 14
                                        

Suasana Kantin cukup ramai, banyak orang sudah mendapatkan pesanannya. Mereka menikmati waktu istirahat dengan makan dan bicara tanpa henti, seakan tidak ada hari esok.

Begitupun dengan Daisy dan Matahari, bedanya meja yang diisi oleh mereka nampak sepi. Tidak ada obrolan dari keduanya.

Matahari melirik Daisy yang sejak tadi diam. Gadis itu merasa ada hal aneh dengan temannya ini.

"Ada apa?" Tanya Matahari sepertinya tidak di gubris. Kernyitan dahinya terlihat dan tangannya menyentuh pundak Daisy.

Dia terlihat terkejut saat tangan Matahari menyentuhnya. Sedetik kemudian, Daisy menatap Matahari. "Kenapa?"

"Ye... gue yang harusnya tanya, lo kenapa? Dari tadi diem mulu. Ada masalah?" Tanya Matahari sedikit mencondongkan tubuhnya.

Daiay tersenyum singkat, "ngak ada kok. Daisy cuma males ngomong mangkanya diem aja," jawabnya berusaha menyakinkannya.

"Males si males tapi jangan begong. Nanti kesambet baru tahu rasa lo." omel Matahari mengambil satu stik kentang goreng dan memasukannya kedalam mulut.

Tiba-tiba ada permen lolipop dihadapan Daisy, yang membuatnya mendongak begitupun dengan Matahari. "Kak!?"

"Maaf," kata Joe menarik tangan Daisy dan meletakkan setangkai permen ditelapak tangannya.

Daisy terlihat ling-lung dan bergantian menatap wajah Joe dan permen itu. "Gue lupa. Maaf," ulangnya.

"E-ehm... ngak papa kok. Kak Joe ngak salah jadi ngak perlu minta maaf," Daisy memberikan senyum kecil untuk menyakinkan Joe.

Meski dari pagi Daisy terus kepikiran dengan ketidak datangan Joe dan melihat montor Joe di sekolah. Daisy tetap berusaha positif tingking.

"Tadi juga Daisy berangkat duluan. Malah Matahari datang sebelum Daisy. Padahal dia orangnya rajin banget pagi-pagi datang," lanjutnya berbohong.

Sedikit heran, akhirnya Matahari tahu akar permasalahan yang membuat Daisy ini berubah pendiam. "Bener, Kak. Gue juga heran, tumben anak nih berangkat pagi banget," imbuh Matahari tertawa garing menurut Joe.

Joe menatap Daisy yang tidak mau menatapnya meski sering kali tersenyum singkat. Dari itu, Joe bisa menyimpulkan jika ucapan keduanya hanyalah kebohongan.

Sedetik kemudian, Joe pergi begitu saja tanpa mengucapkan satu kata pamit pun. Mau heran tapi ini Joe.

"Jadi yang bikin lo murung kek paruh Bangau, karena ngak dijemput ayang nih," goda Matahari menyenggol lengan atas Daisy.

"Ayang, ayang, pala mu! Kamu jangan sok tahu ya," ucapnya sedikit kesal.

"Udah makan tuh permen. Kalau ngak mau, kasih gue aja," ucapnya aka mengambil permen itu sebelum dijauhkan dari jangkauannya.

"Ngak boleh! Ini milik ku, wle!" Daisy seperti mengejek Matahari dengan menjulurkan lidahnya keluar.

Matahari hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkahnya. Anak itu mulai melupakam sikap elegannya.

Sejak menerima permen warna-warni itu, senyum Daisy terus mengembang. Bahkan terkadang malu-malu kucing. Matahari sampai bergidik ngeri.

"Gigi lo kering tuh! Lo sejak kenal kak Joe, ngak ada anggun-anggunnya jadi cewek. Mak lo nangis pasti di kuburan," ucap Mahari pedas.

Senyum Daisy langsung hilang saat Matahari membawa alm ibunya. Matanya jadi sayu. "Memangnya salah ya? Daisy hanya menunjukkan bagaimana perasaan gadis yang menyukai lawan jenis saja,"

"Kalau memang salah tolong ingetin Daisy jangan bawa alm Bunda. Sampe ngomong kayak gitu, Daisy ngak suka." Lanjutnya menyimpan permennya di kolong meja.

Matahari jadi tidak enak hari mengucapkan hal tadi. Niatnya hanya bercanda. Ia tidak menyangka jawaban Daisy yang rupanya terluka atas perkataaannya.

"Maaf kalau gue salah ngomong. Tapi memang bener, sikap elegan lo mulai ilang tahu. Sikap lo malah kayak anak kecil dikasih permen langsung seneng,"

"Ya... gue tahu mungkin ini baru pertama kalinya lo suka sama cowok. Tapi lo kayak bukan lo yang gue kenal kemarin. Contoh kecilnya, coba lo lihat cara duduk lo,"

Daisy menatap dirinya sendiri dari bawah sampai dada. "Kaki ngangkang kek bumil mau lahiran, duduk bungkuk, rambut suka asal ngikat, meskipun seragam lo tetap rapi," lanjutnya.

"Lo udah sempurna tapi lo secara ngak sadar ngubah diri jadi orang lain. Gue dulu seneng lihat lo yang apa-apa rapi, ngak bolosan eh sekarang, lo rela buang waktu hanya buat apel kak Joe doang,"

"Inget, alm Bunda lo berusaha ngubah lo jadi wanita anggun dan elegan. Jangan sampai didikan yang alm Bunda kasih hilang tanpa lo sadari,"

Daisy menunjuk sedih, matanya sudah menggenang air yang akan tumpah saat mata itu berkedip. Matahari menghela napasnya lalu menarik bahu Daisy untuk memeluknya.

"Udah jangan nangis, gue ngomong kayak gitu karena gue sayang dan bukan maksud nyalahin lo. Kali ini lo harus bisa mengendalikan diri, lebih dewasakan diri jangan kek gue," tuturnya.

"Gue aja selalu berusaha jadi diri lo eh lo malah jadi gue. Sikap buruk gue hampir semua lo tiru padahal lo tahu itu salah, mungkin." Lanjutnya.

"Daisy janji bakal berubah lebih baik lagi. Ngak mau kayak gini, ngak mau bikin alm Bunda sedih, ngak mau buat kamu ngomelin trus," sahut Daisy terbata-bata sebab suara tercekat di leher.

"Ye... gue ngomel juga karena gue peduli dan sayang sama lo. Coba kalau gue diemin, udah blabas," Matahari menarik bahu Daisy menjauh hingga melihat Daisy menyegir meski ada bekas air matanya.

"Nyegir lo!" Cibirnya menelonyor kepala Daisy pelan.

"Terima kasih ya Matahari, udah ingetin Daisy. Jadi sayang deh," kata Daisy terkekeh pelan.

"Idih... dasar Munaroh!"

"Ish! Nama Daisy bukan Munaroh ya!" Kesalnya akan memukul lengan Matahari.

"Katanya mau berubah, nih tangan kenapa mau nemplok gue? Perbaiki tuh posisi duduk lo," omel Matahari lagi.

"Iya, iya!" Jawabanya. "Iya-iya, kalau dibilangin jangan iya-iya. Gue kasih ceramah kultum, mau?"

"Jangan nanti telinga Daisy panas," tolaknya dengan melambaikan kedua tangannya didepan dadanya.

"Setan!" Daisy malah tertawa sedikit keras dengan tangan menutup mulutnya.

æ

Daisy mengayunkan kakinya yang tidak menyentuh lantai. Bukan bearti dia pendek, dia hanya memundurkan tubuhnya sampai kakinya membentuk siku-siku.

Tangannya berada di samping dengan tubuh sedikit condong ke depan. Beberapa kali, matanya melihat orang yang melewatinya begitu saja.

Daisy bukan anak populer yang dikenal oleh seantero sekolah.

Tiba-tiba ada yang duduk disampingnya. Dia menoleh sebelum tersenyum tipis. Keduanya diam, hari ini dia ingin orang disampingnya yang mulai pembicaraan.

Kepada Daisy disandarkan pada bahu dia. Menikmati waktu hingga tak terasa lorong kelas sudah sepi.  "Lo ngak capek ngejar gue?"

"Ngak. Bagi Daisy, mengejarkan kak Joe adalah hobi dan mendapatkan hati kak Joe adalah keberuntungan yang sangat Daisy harapkan," sahutnya mendongakkan kepala untuk melihat wajah Joe.

"Gue tahu. Lo suka gue karena wajah, kan?" Tebak Joe sedikit memincingkan mata.

"Ya... awalnya gitu tapi lama-kelamaan, Daisy jadi sayang beneran. Suwer ngak boong," Daisy mengangkat tangan berbentuk 'V'.

"Daisy ngak tahu apa yang bikin Daisy suka sama kak Joe tapi Daisy selama rasain selalu nyaman sama kak Joe. Ya... tahu sikap kak Joe ke Daisy ngak bisa dikatakan hal itu. Tapi Daisy merasa sayang dan nyaman mangkanya Daisy pengen dapetin hati kak Joe,"

"Cuek aja Daisy sayang apalagi perhatian bisa cinta mati, mungkin." Daisy terkekeh kecil mendengar ucapannya sendiri.

Joe menggeleng kecil. Dia mengambil tangan Daisy untuk diajak ke parkiran bersama. Hm... lagaknya keduanya mulai merasa nyaman jalan berdua dengan tangan bersautan.

Bersambung

Untuk tiga minggu kedepan akan diberhentikan dulu dan kecuali hari libur.

Kisah Cinta DAISY (Complete)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang