Aku yang penulisnya nggak tahu sampai mana cerita ini berlanjut. Tolong kasih rekomendasi sampai mana part agar tidak kebanyakan.
Hari pertama~
Joe datang dengan membawa sekotak besar martabak manis. Dengan pakaian rapi habis pulang kerja. Hm... pria dislipin.
"Makasih," Joe mengangguk kecil sambil tersenyum lebar. Namun anehnya saat ada seseorang disekitar, ia hanya mengangguk singkat tanpa tersenyum.
"Mau mampir kak?" Ia kembali mengangguk dan duduk di kursi kemarin.
"Bagaimana hari mu hari ini? Ada yang ingin dicerikan?" Tanya Joe degan lembut. Matanya menatap sendu Daisy.
"Nggak ada. Hari yang biasa, tidak ada bedanya," jawab acuh tak acuhnya.
"Beneran?" Daisy mengangguk nyakin.
Hari ke dua~
Joe datang dengan membawa martabak versi telur. Pakaian sama tetapi beda warna.
Duduk di kursi serta secangkir teh hangat yang disiapkan oleh Daisy. Tidak terlalu manis, ini pas untuk versinya.
"Kamu memang suka bikin teh versi nggak terlalu manis?" Tanya Joe selepas meletakkan cangkir kembali ke atas meja.
Daisy mengangguk. "Kenapa? Kakak kurang gulanya?"
Ia menggeleng cepat takut Daisy tersinggung. "Enggak. Malah pas." Daisy mengangguk lalu mengalihkan pandangan ke kiri. Melihat situasi yang cukup sepi meski terdengar suara air mancur.
"Nggak capek tiap hari mau mampir plus bawain makanan?" Ia menggeleng kecil. "Kalau urusannya sama kamu sih enggak. Malah ngurangin rasa lelah. Aneh kan?" Daisy hanya tersenyum kaku.
"Aku mungkin bakal berhenti setelah lita tinggal satu rumah. Memhabiskan waktu berdua. Seperti ini dengan versi sudah ada ikatan pernikahan," lanjutnya mengalihkan perhatian Daisy kembali.
Menyembunyikan semburan merah padam di pipinya. "Ngomongnya jangan ngawor kak," tegas Daisy didapati ia terkekeh kecil.
Hari berlalu dengan cepat, setiap waktu dan hari Joe selalu memberi kabar atau mengisihkan waktu untuk Daisy.
Meski awalnya risih sedikit senang, lama-kelaman Daisy sudah terbiasa. Bahkan terkadanga Daisy menanyakan apakah Joe akan ke rumah atau tidak.
"Hari ini aku nggak bisa ke rumah," ucap Joe lewat ponsel.
"Kenapa? Ada urusan? Meeting?" Tanya beruntun Daisy.
"Ada kerjaan di luar kota. Harus pergi pagi-pagi sekali, jadi malam ini mau tak buat packing baju,"
"Lama?"
Dalam diam Joe tersenyum, berpikir seolah Daisy merindukan kehadirannya. "Sekitar semingguan. Soalnya mau cek cabang sekitar daerah juga,"
"Oh yaudah. Aku juga mau bilang, kalau aku mau balik pulang dulu sekitar sebulanan. Tara lahiran dan ngurus peralihan juga," ucapnya melunturkan senyum Joe.
Digantikan wajah murung. "Kok lama banget disananya?"
Ngomong-ngomong Daisy menunda keperangkatannya kemarin untuk pulang sebeb Dimas masih memerlukan bantuannya dalam mengurus perusahaan, meski masih ada Beni.
"Ya Allah, sebulan itu sebentar loh kak. Masih lama satu tahun, emang mau?" Goda Daisy terkekeh geli di sebrang sana.
"Nggak! Nggak mau!" Komennya keras.
Terdengar Daisy menahan tawa, "Yaudah matiin, katanya mau siap-siap. Besok pagi kabari kalau mau berangkat,"
"Kenapa dikabari? Kan kamu udah tahu aku besok berangkat,"
KAMU SEDANG MEMBACA
Kisah Cinta DAISY (Complete)
Novela Juvenil"Dia adalah laki-laki pertama yang membuat Daisy jatuh hati. Dia memang tidak pernah mendekati Daisy tapi Daisy menyukainya," kata Daisy di Malam yang sunyi bertabur bintang diatasnya. Senyumnya mengembang sempurna hingga tidak sadar terus memikirka...
