Seorang laki-laki paruh baya memasuki kamar seorang gadis setelah mengetuk pintu. Pakaian rapi sudah melekat dari pagi sampai malam.
Tidak gerah? Bau asam? Tentu saja tidak, rumah mewah disana menggunakan AC seharian penuh.
"Selamat Malam, Nona Muda." sapanya menunduk pendek.
Daisy yang sudah menghadapnya juga membalas sapaan itu dengan senyum tipis khas nya. "Katakan cepat, Daisy masih harus menyelesaikan tugas sekolah,"
"Baik, Nona Muda. Perusahaan di sini di undang untuk menghadiri pesta perusahaan XX, karena Tuan Beni selaku pemimpin sementara tidak bisa datang. Beliau mengatakan jika Nona Muda yang akan mengantikannya," beritahunya tentang pesan yang dititipkan olehnya.
Daisy terdiam sesaat, "kapan?"
"Jika tidak ada kendala besok malam, Nona Muda." jawabnya. "Baiklah, Daisy akan datang. Sekarang pergilah,"
"Baik, Nona Muda. Permisi." Dia pergi meninggalkan kamar terbesar ke dua di rumah itu, setelah kamar alm Zelin atau Bunda.
"Huft.... semoga besok tidak bertemu dengannya. Tapi mengingat keluarganya yang membuat pesta, ada kemungkinan kecil dia tidak hadir." Monolognya mendengus keras.
Daisy melanjutkan mengerjakan prnya yang didapat dari temannya, Matahari. Katanya besok di kumpulkan, jadi Daisy lembur meski mengumpulkan secara online.
æ
Dua kali? Dua kali gadisnya tidak bertemu atau hanya menunjukkan batang hidungnya. Tunggu! Gadisnya?
Apa dirinya sadar yang baru saja dikatakannya? Daisy bukan gadisnya, dia hanya gadis datang tanpa diundang dan sekarang menghilang bak ditelan bumi.
Joe mendengus pelan, saking pelannya bahunya tidak bergerak sekalipun. Joe sengaja pergi berlawanan arah dengan arah parkir montor.
Kakinya berjalan cepat saat menemukan kelas Daisy. Sebenarnya kurang nyakin apakah itu kelas atau bukan, tetapi melihat seseorang keluar dari kelas itu membuatnya nyakin.
"Kak Joe!?" Pekiknya saat melihat belakang disuguhi wajah Joe dengan jarak satu langkah lebar kaki Joe.
Joe melirik kelas yang kosong. "Hm, kak Joe ada apa? Mau nganter Aku pulang?"
"Maaf banget, hari ini aku naik montor bareng tetangga jadi ngak bisa," lanjutnya menyelipkan anak rambut dibelakang telinganya. Dia merasa malu.
Joe menatapnya dengan mata tajam, "Bangunlah, mimpi lo terlalu tinggi." Kata Joe meninggalkan gadis yang berdiri kaku itu.
Senyum tulusnya luncur seketika, rasa sakit langsung menjalar keseluruh jantungnya hingga membuatnya sesak. Ia berusah mengelus kasar dan sedikit di tekan dadanya untuk mengurangi rasa sakitnya.
"Pedes banget mulutnya." gumannya sebelum terkekeh pelan.
Setelah dirasa perasaannya mulai membaik, dia menengakkan tubuhnya. Mengelap air mata yang masih menggenang di mata.
"Apa yang kamu lihat, kak? Dia yang kau cari masih berjuang beberapa bulan, sedangkan aku? Bertahun-tahun aku mengharapkan mu, tapi apa balasannya?"
"Merespon ku saja tidak, itupun jika tante Lula ngak ikut campur," lanjutnya tertawa kecil atas nasibnya.
Dia menghela nafas dalam lalu dihembuskan perlahan, "Ngak boleh sedih. Suatu saat kak Joe bakal jadi milik ku, ya keluarga kami sudah menetapkan hal itu dan nunggu dua tahun lagi aku sama kak Joe bakal tunangan," ucapnya memberi semangat pada diri sendiri.
Dia berjalan cepat ke parkiran. Jangan sampai tetangganya mengomelinya meski dia yang memberi tumpangan. Banyak orang suka tak sadarkan diri.
æ
KAMU SEDANG MEMBACA
Kisah Cinta DAISY (Complete)
Teen Fiction"Dia adalah laki-laki pertama yang membuat Daisy jatuh hati. Dia memang tidak pernah mendekati Daisy tapi Daisy menyukainya," kata Daisy di Malam yang sunyi bertabur bintang diatasnya. Senyumnya mengembang sempurna hingga tidak sadar terus memikirka...
