10.🍏

40 3 4
                                        

Dari lorong dekat kelas Joe terlihat sangat ramai di dalamnya. Banyak yang mengerubungi Dika sampai tidak terlihat dari depan.

Setelah keluar dari kerumunan, banyak yang memegang satu lembar kertas tebal. Sepertinya itu kartu undangan bergaya klasik.

Beberapa detik kemudian kelas telah sepi dan mengisakan dua anak laki-laki didalamnya. "Gue cabut dulu. Nanti sore atau ngak malam, gue kerumah lo," ucapnya meninggalkan temannya.

"Thanks," Dika sedikit terkejut setelah hampir satu minggu tidak mendengar suara Joe. Namun secepat kilat langsung tersenyum kecil, "yoi bro."

Dika pergi meninggalkan kelas dengan terburu-buru, entah apa yang ingin dilakukan selanjutnya.

Daisy langsung menghampiri Joe sambil tersenyum ceria. "Hai kak Joe!" Pekiknya mengalihkan perhatian Joe sebentar.

Mendengus kecil karena diabaikan, Daisy melihat beberapa lembar kertas di atas meja yang akan di masukan ke dalam tas. Mengambilnya satu dari sela jari Joe.

"Kartu undangan ulang tahun," baca Daisy pelan sebelum menatap Joe dengan mata melotot.

"Kak Joe ulang tahun? Wah selamat ya. Ngomong-ngomong Daisy boleh datang ngak?" Tanya Daisy memelaskan wajahnya agar Joe mengijinkannya.

Mengangguk samar dari Joe sudah menjadi jawaban bagi Daisy. "YEY!!" Samar-samar juga Joe tersenyum meski Daisy tidak melihatnya.

"Baiklah, ayo sekarang kita pulang." Ucap Daisy setelah memasukan kartu undangan ke dalam ranselnya.

Mengambil lengan bawah dan tersenyum seceria mungkin kepada Joe. Menariknya lembut tanpa ingin memaksa.

Joe sendiri memilih menurut meski wajahnya tetap tidak berekpresi tetap saja membuat Daisy senang tidak kira-kira.

"Nanti mau dikasih kado apa?"

"Bunga?"

"Coklat?"

"Atau apa...?" Tanya Daisy sepanjang lorong kelas.

æ

Daisy menatap pantulan dirinya di cermin dengan perasaan senang tak terhingga. Gaun pink muda dengan pita semakin besar kebawah membuatnya sangat anggun dan cantik.

Rambutnya di gulung tinggi yang akan diputasi kain warna sama dan tanpa mengisakan anak rambut. Gaya bentuk rambut Daisy memang sama denga alm Zelin.

Memakai High berhak tiga cm Mengingat tinggi Daisy 165 cm. Setelah selesai mengagumi gaun Alm Zelin, Daisy mengambil kado yang dibungkus dengan warna abu-abu terang.

Daisy tidak lupa berpamitan dengan Tia sebab hanya Tia yang dirumah. Yang lain pada pergi dan Daisy tidak tahu kemana. Sedangkan Rama sudah tidur sejak habis magrib tadi.

"Kamu juga bawa kartu undangannya? Takutnya disana harus pakai itu masuknya," ucap Tia mengingatkan Daisy.

"Sudah, Nek. Daisy berangkat dulu," sahutnya mencium tangan Tia sebelum berangkat.

"Hati-hati dijalan nak! Beritahu pak Tono suruh jangan ngebut!" Pekiknya melihat Daisy diambang pintu sedang mengacungkan ibu jari.

Diperjalanan, terasa begitu cepat bagi Daisy. Padahal pak Tono selaku orang yang mengantarnya tidak ngebut.

Sesaat setelah Daisy turun dari mobil, jantungnya berpacu dengan cepat. Menyentuh jantungnya seolah mengatakan agar setenang mungkin.

Daisy melangkahkan kakinya menuju ke gerbang utama rumah Joe. Cukup besar meski tidak sebesar milik Tia.

Melihat tidak terlalu banyak orang berlalu lalang, mungkin Daisy datang sedikit akhir. Melihat ada yang menuju taman belakang, Daisy segera mengikutinya.

Kisah Cinta DAISY (Complete)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang