Pernikahan bukanlah hal mudah untuk dilakukan mesti terlihat mudah. Banyak perasaan yang akan menghiasi setiap rumah tangga dan porsinya juga masing-masing.
Pernikahaan juga harus seimbang, baik sifat, keluarga dan kebiasaan. Maksudnya jika si A keras kepala maka si B harus mengalah, tidak bisa dibayangkan keduanya memiliki sifat tidak suka mengalah. Mungkin hubungan tidak bisa bertahan lebih dari lima tahun.
Begitupun dengan pasangan muda Joe dan Daisy, mereka telah hidup serumah sekitar sepuluh tahun berlalu. Banyak cobaan yang harus diselesaikan, terutama mengambil hati mertuanya yaitu Lula.
Lima tahun bukan waktu singkat bagi Daisy untuk menaklukan hati bekunya. Apalagi dulu sering di rosthing tidak bisa punya anak.
"Khalila Fanaya Aksarana!" Tekan Daisy berkacak pinggang saat melihat putri semata mayangnya sedang berdiri dengan lumpur diseluruh tubuhnya serta cengiran tanpa dosa itu membuat Daisy gemes sendiri.
Joe dan Daisy sepakat memberikan marga Aksarana untuk putri mereka, awalnya ditentang oleh Lula namun tetap saja kalah mengingat keluarga Daisy mendukungnya.
"Ya Allah... kamu habis nyemplung ke got mana lagi, sayang!?" Frustasi Daisy memperlihatkan wajah lelahnya.
Anak satu ini suka sekali pulang dengan tubuh kotor. Apalagi saat sudah mandi dam wangi eh main sebentar udah kotor lagi.
"Tadi ada kucing di got, Bunda. Jadi aku tolongin deh," jelasnya menunjukkan kucing mungil yang berada didekapan tangan kiri membuat Daisy sedikit mundur.
Meong~~
"Trus kenapa kamu bawa pulang?" Tanya Daisy melihat kucing kotor itu. Jika mandi pasti cakep tuh kucing, apalagi matanya beda warna.
"Mau aku rawat. Boleh kan, Bunda?" Khalila atau bisa dipanggil Lila memperlihatkan puppy elesnya agar Daisy tidak menolaknya.
"Nanti ijin sama ayah dulu. Kalau boleh ya terserah kamu. Sekarang mandi trus ngerjain tugas dari sekolah tadi, oke?" Lila mengangguk kuat.
"Oke, Bunda. Makasih!" Lila berlari masuk kedalam hingga meninggalkan jejak sangat jelas yang membuat Daisy mendelik.
"Khalila!! Kenapa kamu masuk tanpa cuci kaki dulu!??" Daisy benar-benar ingin menangis sekarang juga. Meski di rumah ada pembantu tetap saja ini sangat mempengaruhi suasana hatinya.
"Maaf, Bunda. Lila lupa!!" Pekik Lila cekikian sendiri dan tetap berlari menjauh.
Yang membuatnya heran, kenapa Daisy dan Joe memiliki anak yang sangat aktif dan suka membuat Daisy naik darah tapi tidak bisa memarahinya, apalagi sampai membuat anak semata mayangnya menangis.
Jika diingat-ingat, keduanya tidak memiliki sifat yang begitu aktif. Tetapi tetap mereka syukuri karena rumah lebih terlihat berwarna setelah anak masuk ke dalam rumah.
Joe dan Daisy menetap di Indonesia, untuk perusahaan di California, Daisy telah mengangkat sekretarisnya sebagai tangan kanannya. Setiap beberapa bulan sekali, Daisy akan mengecek perkembangannya.
Daisy duduk di teras sambil memijat pelipisnya hingga tak sadar jika suami tercintanya sedang berdiri di depannya.
"Lila buat ulah lagi?" Tanya Joe mengelus rambut lebat Daisy yang membuatnya mengangkat kepalanya dan mengangguk lemah.
"Kamu buatnya grusak-grusuk jadinya ya gini," keluhnya memerahkan pipi Joe. Wajahnya memang datar tapi tetap saja akan kelihatan jika sedang salting.
"Tuh pipi kenapa merah?" Joe menggeleng. "Ayok buat lagi versi lebih baik," Daisy menatap tajam hingga melayangkan cubitan keras di pinggang suaminya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kisah Cinta DAISY (Complete)
Novela Juvenil"Dia adalah laki-laki pertama yang membuat Daisy jatuh hati. Dia memang tidak pernah mendekati Daisy tapi Daisy menyukainya," kata Daisy di Malam yang sunyi bertabur bintang diatasnya. Senyumnya mengembang sempurna hingga tidak sadar terus memikirka...
