12. 🍑

38 3 4
                                        

Kabar masuknya satu kelas di ruang BK beredar sangat cepat. Banyak yang setuju dengan pernyataan siswa ke guru.

Namun ada guru BK di sini memberi jalan keluar dengan saling bertukar maaf. Sebab kedua pihak ini memiliki salah dan benar yang sama.

Mereka hanya saling membela apa yang ada di pendam dalam diri. Begitupun dengan guru, meski umur lebih tua dari murid tapi terkadang sikap labil tentu ada.

Setelahnya mereka keluar dari ruang BK dengan wajah biasa saja. Bahkan ada yang tertawa keras seperti telah menjatuhkan musuhnya.

"Ayo ke kantin yuk... udah bel istirahat," ucap Matahari menggosok lehernya yang terasa kering.

"Kapan kok ngak denger?" Tanya Daisy menoleh kanan ke kiri melihat temannya yang sudah berpencar menjauh.

"Budeg kali lo," cetusnya menarik tangan Daisy agar mengikutinya.

Baru masuk kantin, Matahari sudah memperintahkannya untuk memesan makanan sebab ini waktu gilirannya.

Memesan apa yang biasanya di pesan pada hari ini. Hm... mereka membuat jadwal makan di kantin, kecuali jika salah satu ingin yang lain.

"Bu... mie ayam tiga ya sama es teh nya juga tiga," ucap Daisy pada ibu kantin.

"Tumben tiga mbak?" Ibu kantin selalu menyajikan dua porsi untuk Daisy dan Matahari. "Aku juga ingin makan bu," sahut Rama di samping Daisy.

"Hahaha... ibu lupa kalau hari ini kamu nitip adik kamu disini. Yasudah nanti pesenannya ibu bawain ke sana ya," keduanya mengangguk dan pergi setelah mengucapkan terima kasih.

"Siapa?" Tanya Matahari setelah mendongakkan kepalanya. Menatap Rama dari bawah ke atas.

"Adik Daisy," jawabnya. "Duduk sini sama kakak," titahnya pada Rama.

"Lah bukannya lo anak tunggal ya?" Herannya. "Udah kamu jangan bahas ini. Nanti tak jelasin kalau ngak males,"

"Dih sejak kapan seorang Daisy males? Lo jangan ketularan kemalesan gue ya," perintah Matahari.

"Males juga pilih-pilih kali. Kalau keseringan trus jadi kebiasaan, kasian alm bunda udah ngajarin ini itu," sahutnya.

Matahari mendengus cepat. "Btw siapa namanya?" Tanyanya. "Rama panggil aja Rama,"

"Ye... atrah nama lo Rama kalau bukan Rama mau siapa lagi?" Ketiganya tertawa tanpa lelucon hingga sedetik kemudian ibu kantin datang membawa nampan berisi pesanan tadi.

"Terima kasih bu," diangguki sebelum pergi.

"Selamat makan!" Seru keduanya pelan membuat Rama terkekeh kecil. "Lucu."

æ

"Bagaimana? Kamu senang di sini tadi?" Tanya Daisy merangkul bahu Rama menuju gerbang lewat lorong-lorong kelas.

"Sangat senang. Meski aku tidak kemana-mana tapi aku merasa senang. Apalagi saat kakak sama kak Matahari, aku seperti punya teman baru," ucapnya terpancar binar senang di matanya.

"Bagus kalau gitu." Rama menatap Daisy hingga bisa melihat wajah mulus gadis itu. "Kak Matahari kapan main ke rumah kakak?"

"Ehm... dia belum pernah main ke rumah kakak. Mungkin dia masih sibuk, kita kan ngak tahu kesibukan orang itu bagaimana," Rama terlihat kecewa sejenak sebelum mengangguk mengerti.

Daisy sedikit mengerutkan keningnya saat melihat tubuh familyar dihadapannya dengan jarak lumayan dekat. Melihat tas ranselnya mebuatnya nyakin untuk memanggilnya.

"Kak Joe!!" Daisy menarik tangan Rama agar mengikutinya mendekati Joe yang menoleh ke belakang.

"Daisy kira ngak bakal ketemu hari ini eh ternyata ketemu," ucapnya tidak ditanggapi meski didengar.

"Oh ya kak, ini adik Daisy namanya Rama," Daisy memperkenalkan Rama pada Joe yang menoleh ke arahnya.

Mereka bertukar pandangan dengan expresi berbeda dan Daisy ditengah keduanya. "Ngomong-ngomong wajah kalian mirip,"

Joe mengubah raut wajahnya menjadi dingin tak bersentuh. Hawanya yang dikeluaran tak begitu serasa bagi keduanya.

"Tapi memang bener loh, kak Joe sama Rama mirip. Mata, hidup, alis, dan bentuk wajah. Kayak adik kakak gitu," lanjutnya tersenyum kepada keduanya.

"Aku tidak punya kembaran sebesar ini. Jangankan kembaran, keluarga saja aku tidak punya," polos Rama melunturkan senyum Daisy.

"Rama... kakak ini sekarang keluarga kamu. Jangan ngomong kayak gitu lagi dong," protesnya seperti anak kecil.

"Hehehe... maaf ya kak. Janji deh ngak ngulang. Tapi bukannya kakak mau nempatin aku di Panti?" Tanya Rama mengingat segera di bawa ke Panti.

"Ngak jadi. Bunda Nila katanya nyuruh tinggal di rumah aja, lagian di rumah sepi jadi kalau ada kamu pasti ramai. Kamu juga bisa nemenin nenek di rumah," jelas Daisy mengelus kepala Rama.

"Wah benerkah? Terima kasih kak," Rama memeluk tubuh Daisy yang membuat gadis itu terhuyung kebelakang.

Keduanya saling memeluk sampai tidak sadar Joe meninggalkan mereka tanpa mengucapkan satu kata pun.

Perkataan Daisy tentang kemiripin keduanya memang benar tetapi Joe merasa tidak suka. Meski di dunia ini katanya ada tujuh kembaran tapi Joe tidak pernah mempercayai itu kecuali mamanya melahirkan tujuh anak.

Joe mengendarai sepedah montornya dengan kecepatan tinggi. Malam ini Joe akan menginap di rumah bukan di apartemen.

Tidak butuh lama, montor Joe sudah terparkir di samping rumah yang menjulang tinggi. Dengan tiga lantai.

Joe memasuki rumah dengan mengucapkan salam di dalam hati. Baginya sama saja lisan atau batin. Kecuali ada orang.

Joe langsung naik ke atas, dimana kamarnya berada. Dirumah ini hanya ada empat kamar utama. Satu di bawah tempat kedua orang tuanya dan dua lagi berapa di lantai tiga.

Untuk lantai dua berisi kamar tamu dengan jumlah enam kabar. Mereka punya banyak kerabat, sehingga satu kamar tamu bisa muat lima sampai tujuh orang.

Joe menatap pintu hitam yang sudah lama tidak berpenghuni. Kamar yang tidak boleh disentuh sekalipun kedua orang tuanya. Bahkan kunci kamar hanya Joe yang memilikinya.

Kamar dibiarkan tidak terawat bertahun-tahun namun tataan masih sama. Hanya bagian ranjang sering di ganti, itupun dilakan Joe sendiri.

Joe membuka kamar pribadinya sendiri. Berjalan mendekati kaca pembatas balkom. Membuka keduanya agar ruangan terisi cahaya.

Saat berbalik matanya menatap kado yang diberikan para undangan kemarin. Joe belum sempat membukanya, mungkin Joe akan mengambil yang menurutnya unik. Sisanya akan diberikan kepada pelayan dirumah ini.

Dari puluhan kado hanya satu yang membuatnya tertarik, sebab nama dari pemberi terbaca jelas. Kado lumayan besar itu diambil lalu duduk di ranjang.

Membolak-balik tanda tanya besar dikepalanya. Apa isinya? Tangannya mulai membuka bungkus agar segera tahu apa isinya.

Ternyata... sebuah selimut lumayan tebal dengan motof mobil. Agak heran sebab biasanya orang memberinya barang-barang beharga jutaan. Ternyata Daisy memberinya hadiah dibawah nilai jutaan.

Joe mengambil kertas kecil yang tersingkat namun mampu membuat Joe sedikit mengangkat sudut bibirnya.

Ini dari Daisy
Tak kasih selimut soalnya nggak tahu mau ngasih apa. Jangan lupa dipakek nanti kalau udah waktunya bakal Daisy cek di pakek atau enggak

Apakah ini kado terbaik dalam hidupnya? Tentu saja tidak. Kado ini hanya kado terbaik di umurnya yang ke tujuh belas tahun.

Sebelumnya hadiah terbaik adalah hadiah dari ibunya Lula. Tapi kemarin Lula hanya memberinya ucapan selamat tahun dan satu unit mobil.

Bersambung

MAU NANYA! ENAKNYA DI KASIH CAST NGAK?

Kisah Cinta DAISY (Complete)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang