36. Canggung

45 3 11
                                        

Sumpah alurnya mulai nggak rapi. Makin kesini makin kesana, bingung banget. Harusnya selesai tapi alur malah muter-muter nggak jelas. Apalagi 25-30.

Tapi aku sungguh berterima kasih banyak buat yang masih mau baca meskipun aku sendiri nggak tahu kemana lagi alur ini berlanjut.

Joe sering mempergoki wanita disampingnya menahan napas lalu menghembuskan dengan pelan. Canggung? Tentu saja.

Pertemuan setelah beberapa tahun lalu yang meninggalkan kisah cinta belum usai itu masih membekas di hati dan pikiran Joe. Apakah Daisy juga?

Lekas pulang dari acara pernikahan Matahari, Daisy terpaksa harus pulang diantar oleh Joe. Harusnya Reandra tapi laki-laki itu sedang ada urusan sama pacarnya.

Mau numpang Aaron, eh ternyata pakek mobil isi dua orang. Nggak mungkin Daisy nyumpil ditengah kehamilan Tara. Kalau ada apa-apa yang kena imbas bisa dia.

"Gimana kerjaan disana?" Tanya Joe basa-basi. Tidak expresinya, dapat Daisy pikir jika Joe lebih dingin dibanding dulu.

"Ha!?" tanya Daisy meski jujur dia mendengarnya dengan jelas. "Lupakan,"

"Kerjaan masih bisa ditangani sih. Tapi kalau susah, biasanya gue alih tangan ke Aaron. Kakak sendiri?" tanya Joe memutar pertanyaan.

"Nyurus distro sama travel milik papa," jawabnya diangguki kecil oleh Daisy.

"Kok macet? Jarang banget Kediri macet gini," guman Daisy melihat banyaknya mobil berjejer tidak rapi dijalan.

"Mungkin ada kecelakaan," jawab Joe tak sengaja mendengar gumanan Daisy yang membuatnya sedikit terkejut. "Sebentar," pamitnya lalu melepas sabuk pengaman.

Daisy yang belum sempat menjawab hanya bisa menghela napas. Beberapa menit berjalam mampu membuat Daisy bosan hingga suara notifikasi dari ponsel yang ada di atas kursi pengemudi, mungkin jatuh.

Tertulis pesan dari Indosa* namun yang menjadi pusat perhatiannya adalah wallpaper foto Daisy sedang menyengir lebar.

"Kok? Masih nyimpen? Di HP aku aja nggak ada foto kak Joe," guman Daisy setelah layar ponsel mati.

Alasana utama di ponsel Daisy tidak menyimpan foto Joe adalah ganti hp tanpa memindahkan kartu sd. Cukup malas dan bagi Daisy tidak penting.

Hidup jauh lima tahun berlalu membuat Daisy sanggup membersihkan hatinya dari rasa dan cinta untuk Joe. Semuanya lenyat tanpa sisa meski terkadang sering teringat.

Bagi Daisy sekarang adalah menyukseskan diri sebelum menikmati waktu tua kelak. Umur Daisy sudah cukup matang untuk menikah itu jika tinggal di Indonesia, tetapi Daisy tetap warga negara asing jadi tidak akan mempengaruhi kehidupannya.

Joe membuka pintu lalu duduk dan memasang sabuk pengamannya lagi. Menatap Daisy sambil akan berucap, "Bener tadi ada kec--eh?"

Daisy tertidur dengan kepala bersandar sandaran kursi. Wajahnya tampak lebih cantik saat tidak, disebabkan kalem.

Sadar senyumnya terangkat bersamaan dengan hatinya yang berdegup kencang. Joe menatap Daisy tanpa henti hingga tangan yang sebagai topangan dagunya terpeleset.

"Sadar bego," umpatnya pada diri sendiri. Kemudian, tangannya menyentuh pipi Daisy dan mengelusnya pelan.

"Egh... eh kak?" reflek Daisy menjauhkan kepalanya dari tangan Joe. "Maaf, gue cuma bangunin lo," sahutnya diangguki ragu oleh Daisy.

"Berapa lama tidurnya?" Tanya Daisy menoleh sebentar lalu mengecek ponselnya sendiri.

Meski tahu Daisy tetap menunggu jawaban dari Joe, terbukti Daisy menoleh kembali. "Ehm... mungkin dua jam. Soalnya tadi di sana aku bantu korban dulu,"

Kisah Cinta DAISY (Complete)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang